BI Proyeksikan Ekonomi RI Tetap Kuat 2026, Ditopang Konsumsi Domestik
Jakarta, Ekoin.co – Pertumbuhan Ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada dalam kondisi kuat pada pertengahan tahun 2026. Bank Indonesia (BI) menilai aktivitas ekonomi domestik masih terjaga dengan baik, terutama didukung oleh konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga, serta investasi yang menunjukkan tren positif.
Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada Kamis (18/6/2026). Menurutnya, kondisi perekonomian nasional masih mampu bertahan di tengah tantangan perlambatan ekonomi global yang terjadi saat ini.
“Dalam negeri, pertumbuhan ekonomi terjaga baik didukung permintaan domestik. Konsumsi pemerintah tumbuh tinggi, terutama pemberian gaji-13 ASN dan bansos ke keluarga miskin,” kata Perry Warjiyo.
Bank Indonesia melihat permintaan domestik masih menjadi mesin utama yang menopang aktivitas ekonomi nasional. Berbagai program pemerintah yang telah berjalan memberikan kontribusi terhadap peningkatan daya beli masyarakat serta menjaga perputaran ekonomi di berbagai sektor.
Selain belanja pemerintah, konsumsi rumah tangga juga dinilai tetap tumbuh kuat. Kondisi tersebut didukung oleh meningkatnya keyakinan konsumen terhadap prospek ekonomi dan stabilitas aktivitas usaha di dalam negeri.
Perry menegaskan bahwa dukungan dari konsumsi pemerintah turut memberikan dampak terhadap optimisme masyarakat. Dengan demikian, aktivitas ekonomi domestik tetap mampu tumbuh di tengah dinamika ekonomi global yang masih menghadapi berbagai tantangan.
Di sisi lain, sektor investasi juga menunjukkan perkembangan yang positif. Berbagai proyek pemerintah yang terus berjalan menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan aktivitas investasi pada tahun ini.
Investasi dan Konsumsi Jadi Penopang Utama
Menurut Perry Warjiyo, peningkatan investasi tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang masih berada di zona ekspansi. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas sektor manufaktur dan dunia usaha masih mengalami pertumbuhan.
“Investasi meningkat tercermin PMI di zona ekspansi didukung proyek pemerintah,” kata Perry.
Keberadaan berbagai proyek pembangunan yang terus berjalan memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi di sejumlah sektor. Selain menciptakan pergerakan ekonomi, proyek tersebut juga mendorong kebutuhan investasi yang lebih besar.
Bank Indonesia menilai kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat dan investasi yang tetap tumbuh menjadi fondasi penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026.
Meski demikian, BI menyoroti perlunya peningkatan kinerja ekspor sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan di tengah kondisi global yang cenderung melambat.
Menurut Perry, peluang peningkatan ekspor masih terbuka melalui pemanfaatan perkembangan harga komoditas dunia. Karena itu, berbagai upaya untuk memperkuat daya saing ekspor dinilai perlu terus dilakukan.
BI Optimalkan Kebijakan Dukung Pertumbuhan
Bank Indonesia menegaskan akan terus mendukung pertumbuhan ekonomi melalui berbagai instrumen kebijakan yang dimiliki. Fokus utama diarahkan pada upaya menjaga daya beli masyarakat dan memperkuat aktivitas ekonomi nasional.
“Ke depan program stimulus jaga daya beli dan prioritas terus dioptimalkan,” tegas Perry.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa stimulus ekonomi tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan. Program yang berfokus pada masyarakat dan sektor produktif diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap perekonomian.
Selain itu, BI juga akan mengoptimalkan bauran kebijakan melalui kebijakan makroprudensial yang longgar. Langkah tersebut bertujuan mendukung pembiayaan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Di bidang transaksi keuangan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sistem pembayaran digital dan mendorong keuangan inklusif. Upaya tersebut dilakukan agar akses masyarakat terhadap layanan keuangan semakin luas dan efisien.
Penguatan sistem pembayaran digital juga dinilai dapat membantu meningkatkan aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Dengan semakin luasnya akses transaksi digital, masyarakat dan pelaku usaha memiliki lebih banyak pilihan dalam menjalankan kegiatan ekonomi.
Berdasarkan berbagai indikator yang tersedia, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. Proyeksi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih memiliki daya tahan yang kuat.
Masyarakat dan pelaku usaha disarankan terus memanfaatkan berbagai peluang ekonomi yang tersedia seiring berjalannya program pembangunan dan stimulus pemerintah. Langkah tersebut dapat membantu memperkuat aktivitas ekonomi di tingkat daerah maupun nasional.
Selain itu, dukungan terhadap sektor produktif perlu terus ditingkatkan agar momentum pertumbuhan tetap terjaga. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mendukung pencapaian target ekonomi.
Perkembangan investasi dan konsumsi yang positif menunjukkan bahwa fondasi ekonomi domestik masih cukup kuat. Kondisi tersebut menjadi salah satu modal utama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang terus berubah.
Kinerja ekspor yang lebih baik juga berpotensi memberikan tambahan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh sebab itu, pemanfaatan peluang pasar internasional menjadi aspek yang perlu terus diperhatikan.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia menilai Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tetap berada pada jalur yang positif sepanjang 2026. Dukungan konsumsi domestik, investasi yang meningkat, serta berbagai kebijakan stimulus menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.























Tinggalkan Balasan