Kabut Asap Bikin Ojol Rugi 50%: Curhat Pedih dari Kalimantan

Kabut asap karhutla bikin pendapatan ojol dan UMKM di Kalimantan-Sumatra anjlok hingga 50%. Warga tetap kerja meski sesak napas karena tak punya pilihan.

Palangkaraya, ekoin.co — Dari pedagang soto di Palangkaraya hingga pengemudi ojek online (ojol) di Pekanbaru dan Banjarmasin, ribuan pekerja sektor informal mengaku pendapatannya merosot hingga lebih dari 50 persen akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kalimantan dan Sumatra. Di tengah sesak napas dan sakit kepala yang tak kunjung reda, mereka tetap harus bekerja karena tidak punya pilihan lain. Ini adalah wajah lain dari bencana asap yang jarang mendapat sorotan: dampak ekonomi langsung terhadap masyarakat kecil.

Pendapatan Anjlok, Pengeluaran Justru Naik

Muhammad Rizal (34), pengemudi ojol di Palangkaraya, biasanya meraup pendapatan kotor Rp150.000-200.000 per hari. Sejak kabut asap mengepung kota selama lebih dari sebulan terakhir, pendapatannya anjlok drastis menjadi hanya Rp60.000-80.000 per hari. Orang-orang takut keluar rumah. Orderan makanan masih ada tapi jauh berkurang. Orderan antar penumpang hampir nol, keluhnya saat ditemui di shelter ojol kawasan Jalan A. Yani.

Ironisnya, sementara pendapatan turun, pengeluaran justru meningkat. Rizal harus membeli masker N95 yang harganya melambung dari Rp5.000 menjadi Rp25.000 per lembar. Ia juga harus rutin membeli obat batuk dan vitamin karena kondisi kesehatannya terus menurun. Sesak napas, sakit kepala, tapi harus bekerja. Kalau tidak kerja, anak istri makan apa? ujarnya dengan mata memerah — entah karena menahan emosi atau efek asap yang tak kunjung surut.

Kondisi serupa dialami Siti Aminah (47), pedagang soto di Pasar Besar Palangkaraya. Omzetnya turun 60 persen dari biasanya Rp800.000 per hari menjadi hanya Rp300.000. Pengunjung pasar sepi sekali. Yang biasanya ramai dari pagi, sekarang baru ada pembeli menjelang siang itu pun sedikit. Bahan baku tetap harus beli, tapi yang terjual sedikit, tuturnya sambil mengipas-ngipas asap yang menyusup ke warungnya.

UMKM Kalimantan Selatan dan Riau Ikut Terdampak

Dampak ekonomi kabut asap tidak hanya dirasakan di Palangkaraya. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Asosiasi UMKM setempat melaporkan penurunan rata-rata omzet anggotanya sebesar 40-45 persen selama periode kabut asap. Sektor yang paling terdampak adalah kuliner, jasa transportasi, dan pariwisata.

Di Pekanbaru, Riau, kondisinya tidak kalah parah. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di kota ini beberapa kali menembus angka 300 (kategori berbahaya), memaksa pemerintah kota mengeluarkan imbauan agar warga mengurangi aktivitas luar ruangan. Akibatnya, pusat-pusat perbelanjaan dan pasar tradisional mengalami penurunan pengunjung hingga 50 persen.

Hendra Saputra (41), pemilik usaha katering di Pekanbaru, mengaku harus merumahkan 3 dari 8 karyawannya karena pesanan turun drastis. Kantor-kantor banyak yang work from home, acara-acara dibatalkan. Pesanan katering yang biasanya 10-15 paket per hari sekarang cuma 3-5 paket. Saya terpaksa kurangi karyawan daripada semua rugi, jelasnya dengan nada frustrasi.

Pemerintah Diminta Beri Kompensasi Ekonomi

Ekonom dari Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Ahmad Yunani, mendesak pemerintah tidak hanya fokus pada pemadaman kebakaran dan bantuan kesehatan, tetapi juga memberikan kompensasi ekonomi langsung kepada masyarakat terdampak. Setiap tahun karhutla terjadi, dan setiap tahun masyarakat kecil yang paling menanggung kerugian. Harus ada skema kompensasi yang jelas, bukan sekadar bantuan sembako, tegasnya.

Ia mengusulkan beberapa langkah konkret: pertama, keringanan cicilan kredit UMKM selama periode bencana asap melalui koordinasi dengan perbankan dan OJK. Kedua, bantuan langsung tunai (BLT) khusus untuk pekerja sektor informal di wilayah terdampak. Ketiga, subsidi kesehatan berupa masker dan obat-obatan gratis yang didistribusikan melalui puskesmas.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa hingga Oktober 2026, luas lahan yang terbakar di Kalimantan dan Sumatra mencapai 320.000 hektare, meningkat 45 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Provinsi Kalimantan Tengah menjadi yang paling parah dengan 87.000 hektare lahan terbakar, diikuti Riau (62.000 hektare) dan Kalimantan Selatan (48.000 hektare).

Pelajaran yang Tak Pernah Dipetik

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah mengumumkan bahwa hotspot kebakaran di Kalimantan dan Sumatra menunjukkan tren penurunan dalam sepekan terakhir berkat upaya pemadaman masif dan perubahan pola angin. Namun, BMKG memperkirakan kabut asap masih akan bertahan setidaknya 2-3 minggu ke depan sebelum benar-benar hilang.

Tragedi kabut asap bukanlah hal baru bagi masyarakat Kalimantan dan Sumatra. Bencana serupa terjadi hampir setiap tahun pada musim kemarau, dengan skala yang bervariasi. Bencana asap terburuk terjadi pada 2015 dan 2019, dengan kerugian ekonomi yang diestimasi Bank Dunia mencapai masing-masing 16 miliar dolar AS dan 5,2 miliar dolar AS.

Meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi termasuk moratorium pembukaan lahan gambut dan penguatan Badan Restorasi Gambut, implementasi di lapangan masih jauh dari harapan. Pembakaran lahan untuk perkebunan dan pertanian masih marak terjadi karena dianggap sebagai cara tercepat dan termurah untuk membuka lahan. Selama akar masalah ini tidak ditangani secara serius, maka setiap musim kemarau, kisah pedih seperti yang dialami Rizal, Siti Aminah, dan jutaan warga lainnya akan terus berulang — sebuah lingkaran setan yang korbannya selalu rakyat kecil yang tidak punya suara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights