Falahy Muhammad Ubah Cara Anak Muda Memandang Batik

Falahy Muhammad berupaya mengenalkan Batik Pekalongan kepada anak muda melalui desain kekinian agar batik menjadi pilihan busana sehari-hari sekaligus mendorong regenerasi perajin.(foto:istimewa)

Pekalongan, Ekoin.co – Batik Pekalongan menjadi salah satu warisan budaya yang ingin terus diperkenalkan kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih modern. Upaya tersebut dilakukan Falahy Muhammad (30), seorang arsitek sekaligus penggiat batik yang ingin menjadikan kain tradisional sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari anak muda. Menurutnya, batik tidak seharusnya hanya dikenakan ketika menghadiri pernikahan, upacara, atau acara resmi, tetapi juga bisa menjadi pilihan untuk kuliah, bekerja, berjalan-jalan, hingga bertemu teman.

Gagasan tersebut disampaikan Falahy saat berada di Museum Batik Pekalongan, Senin (26/10/2026). Ia menilai, salah satu tantangan dalam menjaga keberlangsungan batik adalah bagaimana membuat generasi muda tertarik mengenakan dan mencintai produk budaya daerahnya sendiri. Karena itu, ia berusaha menjawab tantangan tersebut melalui karya batik dengan desain yang lebih dekat dengan selera anak muda.

“Gimana caranya untuk batik itu bisa dicintai oleh anak muda. Saya menjawab itu dengan batik-batik yang saya ciptakan,” kata Falahy.

Selama ini, batik masih sering dikaitkan dengan pakaian formal yang digunakan pada kesempatan tertentu. Padahal, menurut Falahy, kain tradisional tersebut memiliki potensi untuk masuk ke berbagai aktivitas sehari-hari. Ia ingin mengubah pandangan bahwa mengenakan batik hanya diperlukan ketika seseorang menghadiri kegiatan yang mengharuskan penggunaan pakaian resmi.

Baginya, ketertarikan terhadap batik bisa tumbuh melalui desain yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan berpakaian generasi sekarang. Dengan begitu, anak muda dapat memilih batik bukan semata-mata karena kewajiban melestarikan budaya, melainkan karena menyukai tampilan dan kenyamanan produk tersebut.

“Kayaknya lucu deh, kayaknya seru deh kalau misal aku pakai batik,” ujar Falahy menggambarkan respons yang ingin dibangun di kalangan anak muda.

Perjalanan Falahy Mendekatkan Batik kepada Generasi Muda

Keinginan Falahy memperkenalkan batik kepada generasi muda juga berkaitan dengan cara masyarakat memahami budaya lokal. Ia memandang bahwa pelestarian tradisi membutuhkan komunikasi yang tepat agar nilai dan cerita di balik sebuah karya dapat diterima oleh masyarakat luas.

Menurutnya, pasar tidak selalu memahami proses dan cerita yang terkandung dalam selembar kain batik. Oleh sebab itu, narasi mengenai batik perlu disampaikan secara berkelanjutan, termasuk melalui pengembangan desain yang lebih kekinian. Pendekatan tersebut diharapkan membuat masyarakat semakin mengenal batik sekaligus tertarik menjadikannya sebagai bagian dari pilihan busana.

Perjalanan Falahy menekuni dunia batik berawal dari latar belakangnya sebagai seorang arsitek. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Pekalongan pada Program Studi Batik untuk memperdalam pengetahuan mengenai tradisi tersebut. Peralihan bidang yang ditekuninya menjadi bagian dari upaya memahami batik secara lebih menyeluruh.

Falahy melihat bahwa batik tidak hanya berkaitan dengan motif, warna, maupun kain yang dipajang di etalase. Lebih dari itu, batik memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari lingkungan keluarga, gang kampung, hingga perkembangan kawasan perkotaan. Kekayaan budaya tersebut menjadi salah satu alasan dirinya ingin mengambil bagian dalam menjaga keberlanjutan tradisi batik di Pekalongan.

“Sebagai anak muda, saya sadar betul bahwa kebudayaan yang ada di Pekalongan sangatlah kaya, harus didekatkan ke generasi penerusnya,” ujarnya.

Melalui keterlibatannya dalam dunia batik, Falahy ingin berkontribusi tidak hanya sebagai pengguna, tetapi juga sebagai orang yang memikirkan keberlangsungan tradisi tersebut. Ia menilai, upaya memperkenalkan batik kepada generasi penerus perlu berjalan beriringan dengan perhatian terhadap kehidupan para perajin yang selama ini mempertahankan keterampilan membatik.

Regenerasi Perajin Batik Bergantung pada Pasar dan Kesejahteraan

Selain persoalan ketertarikan anak muda, Falahy menyoroti tantangan regenerasi perajin batik yang berkaitan dengan kondisi pasar. Menurutnya, mengajak generasi muda mempelajari keterampilan membatik saja tidak cukup apabila hasil pekerjaan mereka tidak memiliki kepastian permintaan dari masyarakat.

“Sebelum berharap lebih banyak anak muda bersedia menekuni pekerjaan membatik, perlu dipastikan terlebih dahulu bahwa hasil pekerjaan itu masih memiliki tempat di tengah masyarakat,” ujar Falahy.

Ia menjelaskan, semakin luas produk batik diterima konsumen, semakin besar pula peluang bagi profesi pembatik untuk berkembang. Dengan demikian, peningkatan minat generasi muda terhadap batik tidak hanya berdampak pada penggunaan produk budaya lokal, tetapi juga dapat membuka kesempatan bagi keberlanjutan pekerjaan para perajin.

Falahy menyebut terdapat dua persoalan penting yang perlu diperhatikan dalam regenerasi pembatik. Pertama, kondisi pasar batik yang dinilainya mulai melemah. Ketika permintaan tidak memberikan kepastian, anak muda bisa mempertanyakan apakah pekerjaan sebagai pembatik masih mampu memberikan masa depan yang menjanjikan.

“K etika permintaan tidak memberikan kepastian, anak muda bisa bertanya-tanya apakah pekerjaan sebagai pembatik masih menjanjikan masa depan,” tegasnya.

Kedua, persoalan kelayakan hidup para perajin. Menurut Falahy, profesi pembatik harus memberikan penghasilan yang memadai agar seseorang dapat menjalani kehidupan secara layak. Hal tersebut mencakup upah yang sesuai, kepastian penghidupan, serta lingkungan kerja yang manusiawi.

Ia mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan ajakan moral kepada generasi muda. Apabila para perajin masih menghadapi kesulitan ekonomi, regenerasi akan sulit berjalan secara berkelanjutan. Karena itu, keberadaan pasar yang mampu menyerap hasil produksi batik menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan profesi tersebut.

“Semakin besar batik itu diserap oleh konsumen atau generasi kita, yaitu anak muda, semakin besar pula sebenarnya peluang untuk regenerasi pembatiknya,” katanya.

Falahy berharap batik dapat semakin diterima sebagai pilihan berpakaian yang wajar di kalangan generasi muda. Ia ingin kain tradisional tersebut tidak lagi terbatas pada kegiatan seremonial, tetapi memiliki tempat dalam berbagai aktivitas masyarakat. “Ya saya ingin batik menjadi pilihan yang terasa wajar bagi anak muda. Bukan sesuatu yang harus menunggu hari istimewa, apalagi dikenakan hanya karena tuntutan acara,” tutupnya.

Pada akhirnya, upaya memperkenalkan Batik Pekalongan kepada generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan para pelaku industri batik.

Peningkatan ketertarikan konsumen terhadap batik juga menjadi bagian penting untuk menjaga keberadaan para perajin yang selama ini mempertahankan keterampilan tradisional.

Selain desain yang mengikuti perkembangan zaman, kesejahteraan pembatik perlu mendapatkan perhatian agar profesi tersebut tetap memiliki daya tarik bagi generasi penerus.

Dengan semakin luasnya penggunaan batik dalam kehidupan sehari-hari, peluang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Pekalongan kepada masyarakat yang lebih muda juga semakin terbuka.

Batik diharapkan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai simbol tradisi, tetapi juga sebagai produk budaya yang digunakan dan dikembangkan lintas generasi.

(*)

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights