Unpad Produksi Air Minum Mandiri, Hasil Uji Bebas Bakteri

Air Minum Mandiri Unpad kini diproduksi untuk kebutuhan kampus. Hasil pengujian Laboratorium Sentral Unpad menunjukkan air bebas bakteri dan aman secara fisika serta kimia.(foto:istimewa)

Jatinangor, Ekoin.co – Universitas Padjadjaran (Unpad) kini memproduksi air minum sendiri untuk memenuhi kebutuhan konsumsi di lingkungan kampus. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemandirian air sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Air minum tersebut juga telah melalui pengujian di Laboratorium Sentral Unpad untuk memastikan kualitas dan keamanannya.

Informasi mengenai produksi air minum mandiri tersebut disampaikan Unpad melalui akun Instagram resmi @universitaspadjadjaran, Selasa (27/10/2026). Dalam unggahannya, pihak kampus memperkenalkan program tersebut sebagai salah satu bentuk nyata kemandirian air di lingkungan perguruan tinggi.

“Air Minum Mandiri & Berkelanjutan! Sebagai wujud nyata kemandirian air dan keberlanjutan kampus, Unpad kini memproduksi air minum sendiri!” tulis Unpad, dikutip dari akun Instagram @universitaspadjadjaran.

Air minum yang diproduksi Unpad menggunakan sumber air dari lingkungan kampus. Sebelum digunakan untuk konsumsi, air tersebut melewati sejumlah tahapan pengolahan, mulai dari filtrasi hingga proses pemurnian. Tahapan tersebut dilakukan untuk menghasilkan air minum yang memenuhi standar kualitas berdasarkan hasil pengujian laboratorium.

Setelah melalui proses pengolahan dan pengujian, Unpad berencana mendistribusikan air minum tersebut ke berbagai unit kerja dan fakultas. Dengan demikian, kebutuhan air minum di lingkungan kampus dapat dipenuhi melalui produksi internal.

“Air minum ini kemudian akan didistribusikan ke seluruh unit dan fakultas di lingkungan Universitas Padjadjaran,” jelas Unpad.

Hasil Pengujian Laboratorium Sentral Unpad

Untuk memastikan kualitas air yang dihasilkan, Unpad melakukan pengujian melalui Laboratorium Sentral. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sampel air minum tersebut tidak mengandung bakteri E. coli maupun Coliform berdasarkan parameter yang disampaikan pihak kampus.

“Hasil uji menunjukkan 0 Koloni/100mL (bebas E. coli dan Coliform),” ungkap Unpad.

Selain pemeriksaan mikrobiologi, kampus juga menyampaikan hasil pengujian sejumlah parameter fisika dan kimia. Berdasarkan laporan tersebut, air minum produksi Unpad memiliki tingkat keasaman atau pH sebesar 7,1.

Nilai total dissolved solids (TDS) atau jumlah padatan terlarut tercatat sebesar 4 mg/L. Sementara itu, tingkat kekeruhan air berada di bawah 0,64 NTU. Unpad juga menyatakan bahwa air tersebut bebas dari bahan kimia berbahaya.

“Memiliki pH 7,1, TDS 4 mg/L, tingkat kekeruhan <0,64 NTU, dan bebas dari bahan kimia berbahaya,” lanjut Unpad.

Dalam keterangannya, Unpad turut menjelaskan bahwa laporan pengujian mencakup berbagai parameter kimia. Beberapa di antaranya meliputi nitrat, nitrit, besi, mangan, arsen, kadmium, timbal, fluorida, dan aluminium.

“Laporan pengujian juga mencantumkan berbagai parameter kimia seperti nitrat, nitrit, besi, mangan, arsen, kadmium, timbal, fluorida, dan aluminium,” tutur Unpad.

Hasil pengujian tersebut menjadi bagian dari informasi kualitas air minum yang diproduksi secara mandiri. Unpad menegaskan bahwa program ini berkaitan dengan komitmen kampus dalam mengelola sumber daya air secara lebih berkelanjutan.

Cikahuripan, Fasilitas Air Siap Minum Unpad Sejak 2017

Program produksi air minum mandiri ini juga melanjutkan upaya Unpad dalam menyediakan akses air siap minum di lingkungan kampus. Sebelumnya, perguruan tinggi tersebut telah menghadirkan fasilitas keran air minum yang dapat digunakan oleh sivitas akademika.

Fasilitas tersebut pertama kali diperkenalkan dengan nama Jalatista dan mulai beroperasi sejak 2017. Keberadaan keran air siap minum menjadi salah satu upaya kampus dalam menyediakan akses air bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta warga kampus lainnya.

Kemudian, pada 2023, Unpad melakukan penjenamaan ulang atau rebranding terhadap fasilitas tersebut. Nama Jalatista diganti menjadi Cikahuripan sebagai bagian dari peningkatan layanan penyediaan akses air minum di lingkungan perguruan tinggi.

Perubahan nama itu juga berkaitan dengan upaya mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai. Dengan tersedianya fasilitas air siap minum, warga kampus memiliki alternatif untuk mengisi ulang wadah minum yang mereka bawa.

Nama Cikahuripan berasal dari bahasa Sunda. Kata ci memiliki arti air, sedangkan kahuripan bermakna kehidupan. Penamaan tersebut digunakan untuk fasilitas penyediaan air minum yang dikembangkan Unpad di lingkungan kampus.

Pada saat itu, Unpad menyediakan 16 fasilitas Cikahuripan yang tersebar di 14 lokasi kampus. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari layanan penyediaan air minum sekaligus mendukung upaya pengurangan sampah botol plastik.

Dengan produksi air minum mandiri dan keberadaan fasilitas Cikahuripan, Unpad menjalankan sejumlah upaya untuk memenuhi kebutuhan air minum di lingkungan perguruan tinggi. Program terbaru ini memanfaatkan sumber air dari lingkungan kampus yang kemudian diolah melalui filtrasi dan pemurnian sebelum didistribusikan ke seluruh unit dan fakultas.


Unpad dapat terus menyampaikan informasi mengenai hasil pengujian kualitas air minum kepada sivitas akademika agar masyarakat kampus mengetahui parameter yang telah diperiksa.

Informasi mengenai proses pengolahan air juga dapat menjadi bahan edukasi bagi mahasiswa dan warga kampus tentang pentingnya pengelolaan sumber daya air.

Keberadaan fasilitas Cikahuripan dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperoleh air minum tanpa harus selalu membeli air dalam kemasan.

Warga kampus dapat membawa botol minum sendiri untuk memanfaatkan fasilitas air siap minum yang telah disediakan.

Pemanfaatan sumber air kampus dan fasilitas pengisian ulang dapat berjalan berdampingan dalam mendukung pengurangan penggunaan botol plastik sekali pakai.

Produksi air minum mandiri menjadi salah satu langkah Unpad dalam memenuhi kebutuhan konsumsi air di lingkungan perguruan tinggi.

Penggunaan sumber air dari lingkungan kampus menjadi bagian dari program kemandirian yang dikembangkan universitas.

Hasil pengujian Laboratorium Sentral Unpad menunjukkan sampel air memiliki angka 0 Koloni/100mL untuk E. coli dan Coliform.

Parameter lain yang disampaikan mencakup pH 7,1, TDS 4 mg/L, serta tingkat kekeruhan di bawah 0,64 NTU.

Melalui program ini, Unpad mengembangkan penyediaan air minum mandiri sekaligus melanjutkan upaya menghadirkan akses air siap minum melalui fasilitas Cikahuripan.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights