Harga Emas Antam Hari Ini 8 November 2026: Stagnan di Rp2.545.000/Gram
JAKARTA — Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) tercatat stagnan pada perdagangan Minggu (8/11/2026), bertahan di level Rp2.545.000 per gram. Angka ini sama dengan posisi hari sebelumnya, Sabtu (7/11/2026), karena Logam Mulia selaku unit bisnis emas Antam tidak menerbitkan pembaruan harga pada hari Minggu. Sehari sebelumnya, harga emas Antam pecahan 1 gram sempat turun Rp20.000, dari Rp2.565.000 pada Jumat (6/11) menjadi Rp2.545.000 pada Sabtu.
Harga Buyback Juga Tak Berubah
Selain harga jual, harga pembelian kembali atau buyback emas Antam juga tercatat stabil di level Rp2.350.000 per gram pada Minggu ini. Harga buyback ini sebelumnya ikut terkoreksi sebesar Rp20.000, sejalan dengan penurunan harga jual pada Sabtu. Dengan demikian, selisih antara harga jual dan harga buyback untuk pecahan 1 gram saat ini tercatat sebesar Rp195.000 per gram.
Selisih harga ini menjadi pertimbangan penting bagi masyarakat yang berencana menjadikan emas sebagai instrumen investasi jangka pendek. Jika seseorang membeli emas hari ini dan berencana menjualnya kembali dalam waktu dekat, mereka berpotensi mengalami kerugian kecuali harga emas naik melampaui selisih jual-beli tersebut. Karena itu, para perencana keuangan umumnya menyarankan emas sebagai instrumen investasi jangka menengah hingga panjang, bukan untuk spekulasi harian.
Rincian Harga per Pecahan
Berikut adalah daftar lengkap harga dasar emas batangan Antam Logam Mulia untuk berbagai pecahan, sebelum dikenakan pajak, berdasarkan pembaruan resmi Sabtu (7/11/2026) yang masih berlaku hingga Minggu: pecahan 0,5 gram seharga Rp1.322.500, pecahan 1 gram Rp2.545.000, pecahan 2 gram Rp5.030.000, pecahan 3 gram Rp7.520.000, pecahan 5 gram Rp12.500.000, pecahan 10 gram Rp24.945.000, pecahan 25 gram Rp62.237.000, pecahan 50 gram Rp124.395.000, pecahan 100 gram Rp248.712.000, pecahan 250 gram Rp621.515.000, pecahan 500 gram Rp1.242.820.000, dan pecahan 1.000 gram atau 1 kilogram seharga Rp2.485.600.000.
Perlu dicatat bahwa harga-harga tersebut belum termasuk Pajak Penghasilan (PPh) sesuai Peraturan Menteri Keuangan Nomor 34/PMK.10/2017. Pembeli yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% dari nilai transaksi, sementara pembeli tanpa NPWP dikenakan tarif lebih tinggi yaitu 0,9%. Setiap transaksi pembelian emas akan disertai bukti potong PPh 22 yang dapat digunakan sebagai dasar pelaporan pajak tahunan.
Fluktuasi Harga Dipengaruhi Sentimen Global
Pergerakan harga emas Antam dalam beberapa hari terakhir mencerminkan dinamika harga emas dunia (gold spot) yang dipengaruhi oleh berbagai faktor makroekonomi global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), kekuatan indeks dolar AS, serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di berbagai kawasan. Sebagai aset safe haven, emas umumnya menguat ketika ketidakpastian ekonomi global meningkat, dan melemah saat sentimen risk-on mendominasi pasar.
Selain Antam, harga emas dari produsen lain seperti Galeri 24 Pegadaian dan UBS juga bergerak dengan pola serupa, meski dengan level harga yang sedikit berbeda karena perbedaan struktur biaya produksi dan margin masing-masing produsen. Variasi harga antar produsen ini wajar terjadi di pasar emas domestik dan tidak mencerminkan perbedaan kualitas, karena seluruh emas batangan bersertifikat tetap mengacu pada kemurnian 24 karat atau 99,99%.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor
Bagi masyarakat yang berencana membeli emas dalam waktu dekat, para analis menyarankan untuk tidak terpaku pada fluktuasi harga harian, melainkan mempertimbangkan tren jangka menengah hingga panjang. Harga emas secara historis cenderung naik dalam jangka panjang sebagai lindung nilai terhadap inflasi, meski dalam jangka pendek dapat mengalami koreksi akibat sentimen pasar yang berubah cepat. Masyarakat juga disarankan untuk membeli emas dari gerai resmi atau platform tepercaya guna memastikan keaslian dan kemudahan transaksi di masa depan, termasuk saat hendak menjual kembali.
Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan data ekonomi global, terutama laporan tenaga kerja Amerika Serikat dan sinyal kebijakan The Fed menjelang akhir tahun. Jika The Fed menunjukkan sinyal pelonggaran moneter, harga emas dunia berpotensi kembali menguat karena biaya peluang memegang aset non-imbal hasil seperti emas menjadi lebih rendah. Sebaliknya, jika The Fed mempertahankan sikap hawkish, tekanan terhadap harga emas dapat berlanjut dalam waktu dekat.



















Tinggalkan Balasan