Kabut Asap Lumpuhkan Ekonomi Kalimantan dan Sumatra, Pendapatan UMKM Anjlok 50 Persen

Kabut asap tebal di Kalimantan dan Sumatra membuat pendapatan UMKM dan ojol anjlok hingga 50 persen.

Kabut asap tebal yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra pada Oktober 2026 telah memberikan dampak ekonomi signifikan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pengemudi ojek online (ojol). Laporan dari berbagai daerah menunjukkan penurunan pendapatan hingga lebih dari 50 persen, sementara biaya hidup terus meningkat akibat kelangkaan barang dan gangguan distribusi.

Pedagang dan Ojol Terpukul Berat

Di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pedagang soto yang biasa meraup omzet Rp500 ribu per hari kini hanya mendapatkan Rp200 ribu. Kondisi serupa dialami pengemudi ojek online di Pekanbaru, Riau, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Para pekerja informal ini terpaksa tetap beraktivitas di tengah kualitas udara yang sangat buruk karena tidak memiliki penghasilan alternatif.

Sesak napas, sakit kepala, tapi harus tetap bekerja, ungkap seorang pengemudi ojol di Pekanbaru yang memilih anonim. Ia menceritakan bahwa jumlah penumpang turun drastis karena masyarakat enggan keluar rumah. Order makanan melalui aplikasi juga menurun karena banyak warung makan tutup lebih awal akibat kabut yang mengganggu aktivitas memasak di tempat terbuka.

Dampak Berantai ke Sektor Perdagangan

Kabut asap tidak hanya menekan pendapatan harian pedagang kecil, tetapi juga mengganggu rantai pasok regional. Distribusi barang ke pasar tradisional terhambat karena jarak pandang yang rendah menyebabkan penundaan pengiriman melalui jalur darat dan sungai. Harga sayuran dan kebutuhan pokok di beberapa daerah naik 15-25 persen akibat terbatasnya pasokan dari sentra produksi.

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di beberapa titik di Kalimantan Tengah dan Riau telah melampaui angka 300, masuk kategori berbahaya. Kondisi ini membuat sekolah diliburkan, penerbangan dibatalkan, dan aktivitas ekonomi nyaris lumpuh total di kawasan terdampak.

Pemerintah Diminta Serius Tangani Akar Masalah

Ekonom dari Universitas Lambung Mangkurat memperkirakan kerugian ekonomi akibat kabut asap di Kalimantan dan Sumatra pada tahun ini bisa mencapai Rp15-20 triliun jika berlangsung hingga November. Ini bukan sekadar masalah lingkungan, ini krisis ekonomi musiman yang semakin parah setiap tahun, tegasnya.

Para pelaku UMKM berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi juga menyelesaikan akar masalah yaitu pembukaan lahan dengan cara membakar yang terus berulang. Tanpa penanganan serius, kabut asap akan terus menggerus daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan telah mengerahkan tim pemadaman ke titik-titik api di Kalimantan dan Sumatra. Pemerintah juga berencana memperluas program restorasi gambut sebagai solusi jangka panjang untuk mencegah kebakaran hutan berulang. Namun, bagi para pedagang kecil dan ojol yang terdampak, solusi jangka panjang tersebut belum cukup menjawab kebutuhan mendesak mereka saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights