Pendapatan UMKM dan Ojol Anjlok 50 Persen Akibat Kabut Asap Karhutla Kalimantan dan Sumatra
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Kalimantan dan Sumatra tidak hanya memicu krisis kesehatan, tetapi juga menggerus pendapatan masyarakat kecil secara drastis. Pedagang kaki lima, pelaku UMKM, hingga pengemudi ojek online (ojol) mengaku penghasilan mereka merosot hingga lebih dari 50 persen sejak asap tebal menyelimuti kota-kota besar di kedua pulau tersebut.
Kerugian Ekonomi Karhutla Capai Rp29,54 Triliun
Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memperkirakan karhutla telah menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp29,54 triliun sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka ini mencakup dampak terhadap perdagangan, pertanian, sektor makanan dan minuman, serta produktivitas kerja yang terhambat akibat kualitas udara yang memburuk secara signifikan.
Riset CELIOS menunjukkan bahwa dampak karhutla jauh melampaui lahan yang terbakar. Asap tebal menghantam aktivitas perdagangan, jasa, dan produktivitas kerja masyarakat, sekaligus membebani biaya kesehatan yang harus ditanggung warga di wilayah terdampak.
Ojol Tetap Bekerja Meski Sesak Napas
Di Pekanbaru, Riau, Imrayedi, pengemudi ojek online berusia 63 tahun, tetap menghabiskan hari-harinya di jalan meskipun kabut asap membuat pernapasannya terganggu. Ia mengalami sesak napas dan sakit kepala, namun tidak memiliki pilihan lain karena pendapatan hariannya adalah satu-satunya sumber penghidupan keluarganya.
Kondisi serupa dialami pedagang soto di Palangka Raya dan pengemudi ojol di Banjarmasin. Banyak warga mengaku pendapatan mereka tergerus drastis, sementara biaya hidup terus meningkat. Keluarga-keluarga kini kesulitan membayar tagihan rumah tangga, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan pokok yang harganya melonjak akibat terhambatnya distribusi barang.
Analis: Pemerintah Perlu Lindungi Pekerja Harian
Analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, menilai karhutla berpotensi menjadi salah satu faktor yang menahan aktivitas ekonomi di Sumatra dan Kalimantan. Gangguan terjadi di sektor perdagangan, pertanian, transportasi, pariwisata, hingga produktivitas pekerja secara keseluruhan.
Menurut Ronny, kondisi ini paling berat dirasakan oleh pekerja harian dan usaha mikro yang kehilangan pendapatan ketika aktivitas masyarakat melambat, tetapi tetap harus menanggung biaya hidup dan operasional sehari-hari. Ia menegaskan bahwa respons pemerintah tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api.
Rekomendasi Kebijakan untuk Pemulihan Ekonomi
Ronny merekomendasikan agar pemerintah memprioritaskan perlindungan masyarakat yang terpapar asap sekaligus memastikan aktivitas ekonomi dapat pulih secepat mungkin. Langkah yang diperlukan mencakup bantuan kesehatan berupa masker dan pemeriksaan gratis, perlindungan sosial melalui bantuan langsung tunai darurat, serta dukungan ekonomi bagi UMKM dan pekerja informal yang kehilangan penghasilan.
Dengan kerugian ekonomi yang terus membengkak dan dampak sosial yang meluas, karhutla 2026 menjadi pengingat bahwa penanganan bencana asap membutuhkan pendekatan komprehensif yang tidak hanya mengatasi api, tetapi juga melindungi penghidupan masyarakat terdampak. (Sumber: BBC Indonesia, CELIOS, ISEAI)






















Tinggalkan Balasan