Massa Tembus Barikade, Bundaran HI Dipadati Demonstran
Jakarta Ekoin.co – Massa tembus barikade aparat dan akhirnya memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, dalam aksi unjuk rasa pada Rabu (28/10/2026). Keberhasilan mencapai salah satu titik simbolik ibu kota tersebut menjadi momentum bagi para demonstran untuk menyuarakan tuntutan terkait krisis lingkungan, khususnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Kehadiran massa di Bundaran HI menjadi perhatian karena sebelumnya para demonstran beberapa kali tertahan saat berusaha mencapai kawasan tersebut dalam aksi unjuk rasa. Namun, pada Rabu, massa berhasil melewati barikade aparat dan berkumpul di kawasan yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat Jakarta.
Koordinator Kelompok Studi Suara Perempuan Rakyat (KESTARA) Jakarta, Vatov, menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari persatuan masyarakat yang mengikuti aksi. Menurutnya, demonstrasi kali ini memperlihatkan besarnya keresahan warga terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi, terutama berkaitan dengan kondisi lingkungan di Indonesia.
Vatov mengatakan, massa yang hadir tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga melibatkan masyarakat dari berbagai daerah di luar ibu kota. Mereka berkumpul untuk menyampaikan keresahan sekaligus menunjukkan bahwa tuntutan terkait persoalan lingkungan mendapat perhatian dari berbagai kelompok masyarakat.
“Ini menunjukkan bahwa seluruh warga Jakarta yang hadir hari ini, terutama juga dari warga di luar Jakarta, turut berkumpul dan muak untuk bisa menunjukkan bagaimana rasanya hari ini. Sebelumnya setelah kami ditahan berkali-kali, gagal untuk sampai ke Bundaran HI, dengan kami menunjukkan sudah menguatnya persatuan di antara masyarakat Indonesia utamanya yang ada hadir di Jakarta hari ini, tentu ini sangat adalah pencapaian bagi kami semua,” ujarnya.
Meski berhasil mencapai Bundaran HI, massa menegaskan bahwa tujuan utama aksi bukan sekadar menguasai ruang publik. Mereka ingin pemerintah memberikan perhatian terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan yang dinilai telah menimbulkan dampak luas bagi masyarakat.
Massa Desak Karhutla Ditetapkan sebagai Bencana Nasional
Dalam aksi tersebut, salah satu tuntutan utama yang disampaikan massa adalah meminta pemerintah segera menetapkan kebakaran hutan dan lahan sebagai bencana nasional. Mereka menilai persoalan karhutla membutuhkan penanganan serius karena dampaknya tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Vatov menjelaskan, massa menyoroti banyaknya korban yang terdampak kebakaran lahan. Ia juga menyampaikan dugaan bahwa sejumlah kebakaran berkaitan dengan pembakaran yang disengaja dan memiliki hubungan dengan berbagai skema proyek, terutama yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit.
“Secara umum, tentu kami akan selalu membicarakan tentang tetapkanlah bencana nasional atau kebakaran yang terjadi hari ini itu adalah bencana nasional. Banyak sekali korban yang berjatuhan dari kebakaran-kebakaran yang kami sadar bahwa itu adalah pembakaran yang disengaja, yang ternyata ini ada hubungannya dengan berbagai skema proyek ke depannya, utamanya tentang sawit ya. Jadi ini ada suatu hal yang perlu kita tuntut bersama-sama, tetapkan sebagai bencana nasional dan usut tentang seluruh pihak yang bertanggung jawab yang membakar seluruh lahan yang mendampaki kesehatan dari masyarakat Indonesia, utamanya perempuan,” kata dia.
Selain persoalan lingkungan, massa juga menyoroti dampak kesehatan akibat paparan asap dari pembakaran lahan. Vatov secara khusus menekankan kondisi perempuan yang menurutnya turut menghadapi risiko kesehatan akibat pencemaran udara yang ditimbulkan oleh kebakaran tersebut.
Isu kesehatan perempuan menjadi salah satu perhatian dalam tuntutan KESTARA. Mereka meminta pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan kebakaran, tetapi juga memperhatikan masyarakat yang mengalami dampak langsung akibat asap dan kerusakan lingkungan.
Karena itu, penetapan karhutla sebagai bencana nasional menjadi tuntutan yang terus disuarakan dalam aksi tersebut. Massa juga meminta pemerintah mengusut seluruh pihak yang dianggap bertanggung jawab atas pembakaran lahan sehingga persoalan serupa tidak terus menimbulkan dampak bagi masyarakat.
Bundaran HI Jadi Momentum Soroti Sikap Pemerintah
Keberhasilan mencapai Bundaran HI juga dimanfaatkan massa untuk memperluas penyampaian aspirasi kepada masyarakat. Vatov menyebut kawasan tersebut menjadi momentum penting karena aksi mereka dapat disaksikan oleh media dan masyarakat luas, termasuk perhatian dari komunitas internasional.
Menurutnya, demonstrasi tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan keresahan masyarakat Indonesia terhadap persoalan lingkungan sekaligus respons pemerintah terhadap tuntutan yang selama ini disampaikan.
Vatov berharap pesan yang dibawa para demonstran tidak berhenti di Jakarta. Ia ingin masyarakat di berbagai daerah mengetahui tuntutan tersebut sehingga persoalan karhutla mendapatkan perhatian lebih luas.
“Hari ini tentu yang akan kami sampaikan seluruh keresahan kita bersama-sama, dan kami menuntut untuk tetap berfokus pada tuntutan yang ada. Ini adalah momentum di mana semua media melihat bagaimana hari ini pemerintah Indonesia belum juga merespon semua tuntutan yang dihasilkan dari pemikiran masyarakat Indonesia dan juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Jadi harapannya adalah ini dapat menyebar ke seluruh Indonesia, menyebar ke seluruh masyarakat, terutama juga ke seluruh masyarakat internasional bahwa hari ini Indonesia sedang tidak baik-baik saja,” ucap Vatov.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa massa ingin menjadikan aksi di Bundaran HI sebagai sarana menyampaikan persoalan lingkungan kepada publik yang lebih luas. Mereka juga berharap perhatian media dapat membantu menyebarkan tuntutan mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Hingga aksi berlangsung, massa masih bersiaga di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Mereka bertahan untuk mengawal tuntutan agar pemerintah memberikan perhatian terhadap persoalan karhutla, dampak kesehatan masyarakat, serta pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas pembakaran lahan.
Keberhasilan menembus barikade aparat menjadi salah satu perkembangan dalam rangkaian aksi unjuk rasa tersebut. Namun, bagi para demonstran, hal yang lebih penting adalah memastikan tuntutan mengenai penetapan karhutla sebagai bencana nasional dan pengusutan pihak yang bertanggung jawab mendapat perhatian dari para pemangku kebijakan.
Massa berharap aspirasi yang mereka sampaikan dapat menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia hingga dunia internasional. Dengan demikian, persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menjadi perhatian saat demonstrasi berlangsung, tetapi juga memperoleh respons melalui langkah penanganan yang menjadi tuntutan mereka.
Melalui aksi tersebut, para demonstran kembali menempatkan krisis lingkungan sebagai persoalan yang membutuhkan perhatian bersama. Mereka menegaskan akan tetap mengawal tuntutan agar dampak kebakaran terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, terutama perempuan, tidak diabaikan.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v























Tinggalkan Balasan