Karhutla Palembang: Kabut Asap Tebal, Jarak Pandang 400 Meter
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan semakin parah pada pekan kedua Oktober 2026. Kabut asap tebal menyelimuti Kota Palembang, menyebabkan jarak pandang turun drastis hingga hanya 400 meter. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat titik api terus bertambah meski upaya pemadaman intensif terus dilakukan.
Dampak Karhutla terhadap Kehidupan Warga
Kabut asap yang semakin pekat membuat aktivitas warga Palembang terganggu secara signifikan. Sejumlah penerbangan dari dan menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II mengalami gangguan akibat visibilitas rendah. Sekolah-sekolah di beberapa kecamatan terpaksa menerapkan pembelajaran daring untuk melindungi kesehatan siswa dari paparan polusi udara.
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palembang melonjak ke kategori tidak sehat dalam beberapa hari terakhir. Dinas Kesehatan Sumatera Selatan melaporkan peningkatan jumlah pasien dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di puskesmas dan rumah sakit sekitar wilayah terdampak. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak buruk kabut asap ini.
Upaya Pemadaman dan Penegakan Hukum
BNPB bersama BPBD Sumatera Selatan telah mengerahkan ratusan personel untuk memadamkan api di lahan gambut yang sulit dijangkau. Helikopter water bombing juga dikerahkan untuk membantu pemadaman dari udara. Namun kondisi lahan gambut yang kering akibat musim kemarau panjang membuat api mudah menyebar dan sulit dipadamkan secara tuntas.
Kepolisian Daerah Sumatera Selatan mempertegas langkah penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Sejumlah tersangka telah diamankan, termasuk individu yang diduga sengaja membakar lahan untuk pembukaan perkebunan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menegaskan bahwa perusahaan yang terbukti terlibat pembakaran lahan akan dicabut izin operasinya.
Proyeksi dan Langkah Mitigasi
BMKG memproyeksikan musim kemarau di Sumatera Selatan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Risiko karhutla tetap tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Pemerintah daerah diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat patroli di area rawan kebakaran.
Karhutla bukan hanya berdampak pada kesehatan dan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi perhatian internasional terkait komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi karbon. Langkah preventif seperti restorasi lahan gambut dan pengelolaan air di kanal-kanal gambut menjadi kunci untuk mencegah bencana serupa berulang setiap tahun.











Tinggalkan Balasan