Miris! 62.400 Balita Kena ISPA, Asap Karhutla Jadi Kedaruratan
Ekoin.co – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir telah menimbulkan dampak kesehatan yang jauh lebih serius dari perkiraan awal. Data yang dihimpun dari tujuh provinsi terdampak menunjukkan sedikitnya 62.400 balita berusia 0-5 tahun terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Angka ini membuat sejumlah pakar kesehatan menyebut kondisi tersebut sudah masuk kategori kedaruratan kesehatan yang membutuhkan penanganan lintas sektor secara mendesak.
Tujuh provinsi yang paling terdampak meliputi wilayah di Sumatra dan Kalimantan, daerah yang selama beberapa dekade terakhir menjadi langganan titik api setiap musim kering. Ironisnya, kelompok usia paling rentan – balita dengan sistem imun yang belum terbentuk sempurna – justru menjadi korban terbanyak dari paparan partikel halus (PM2.5) yang terkandung dalam asap karhutla.
Kenapa Balita Paling Rentan?
Menurut sejumlah pakar kesehatan anak, saluran pernapasan balita jauh lebih sempit dibanding orang dewasa, sehingga partikel asap yang masuk lebih mudah memicu peradangan dan penyumbatan. Selain itu, balita bernapas lebih cepat per menit dibanding orang dewasa, yang berarti volume udara, termasuk partikel berbahaya di dalamnya, yang masuk ke paru-paru mereka secara proporsional jauh lebih besar.
Pemerintah jangan buta, banyak yang kena ISPA, ujar salah satu orang tua yang anaknya dirawat akibat gangguan pernapasan, sebagaimana dikutip dari laporan BBC Indonesia. Pernyataan itu mencerminkan kekesalan warga di wilayah terdampak yang merasa penanganan krisis kabut asap belum menyentuh akar masalah, sementara dampak kesehatan sudah dirasakan langsung oleh anak-anak mereka.
Kedaruratan Kesehatan, Bukan Sekadar Gangguan Musiman
Pakar kesehatan masyarakat menegaskan bahwa angka 62.400 kasus ISPA pada balita bukan sekadar gangguan pernapasan musiman yang akan sembuh sendiri begitu musim hujan tiba. Paparan asap karhutla dalam jangka panjang berisiko menimbulkan dampak permanen pada perkembangan paru-paru anak, termasuk peningkatan risiko asma dan penurunan fungsi paru-paru di masa dewasa.
Beberapa fasilitas kesehatan di provinsi terdampak dilaporkan mengalami lonjakan pasien anak dengan gejala batuk kronis, sesak napas, dan iritasi mata. Sejumlah sekolah bahkan terpaksa meliburkan siswa atau memindahkan kegiatan belajar ke dalam ruangan tertutup dengan penyaring udara, meski fasilitas semacam itu masih sangat terbatas di luar kota-kota besar.
Upaya Pemerintah: Dry Ice hingga Water Bombing
Di sisi penanganan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menguji penyemaian es kering (dry ice) sebagai bagian dari modifikasi cuaca untuk mempercepat turunnya hujan di wilayah terdampak asap. Teknologi ini bekerja dengan menyemai partikel es kering ke dalam awan untuk memicu kondensasi dan mempercepat proses hujan buatan.
Namun sejauh ini efektivitas water bombing dan modifikasi cuaca masih terbatas pada titik-titik api yang relatif mudah diakses. Di wilayah gambut yang terbakar hingga ke lapisan bawah tanah, api cenderung terus menyala meski permukaan tampak sudah padam, membuat proses pemadaman jauh lebih sulit dan berlarut-larut.
Desakan Mahasiswa dan DPR
Situasi ini memicu gelombang protes dari kalangan mahasiswa di berbagai kota yang menuntut pemerintah menetapkan karhutla dan dampak banjir sebagai bencana nasional. Setidaknya lima tuntutan disampaikan dalam aksi tersebut, dengan penekanan utama pada perlunya status bencana nasional agar alokasi anggaran penanganan bisa lebih besar dan terkoordinasi secara nasional, bukan hanya mengandalkan anggaran daerah yang kerap terbatas.
Di parlemen, sejumlah anggota DPR juga mendesak pemerintah untuk tidak tinggal diam terkait sikap negara tetangga yang mulai menindak perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik pembakaran lahan. Pemerintah Singapura, misalnya, dilaporkan telah menindak sejumlah perusahaan yang diduga memiliki kaitan dengan titik api di wilayah Indonesia, setelah asap karhutla berdampak hingga ke wilayah mereka.
Dampak Ekonomi yang Ikut Terancam
Selain dampak kesehatan, krisis karhutla juga mulai menggerus sektor ekonomi di wilayah terdampak. Aktivitas penerbangan di sejumlah bandara regional sempat terganggu akibat jarak pandang yang menurun drastis. Sektor pariwisata dan perkebunan, dua tulang punggung ekonomi di banyak wilayah terdampak, juga melaporkan penurunan aktivitas akibat kualitas udara yang memburuk.
Relawan karhutla yang selama ini menjadi garda terdepan pemadaman di lapangan juga mengeluhkan minimnya dukungan operasional. Dalam pertemuan daring dengan Menteri Kehutanan, sejumlah perwakilan relawan menyampaikan kebutuhan mendesak terkait logistik, biaya operasional, dan koordinasi penanganan yang selama ini dirasa masih tumpang tindih antar lembaga.
Proyeksi: Berapa Lama Krisis Ini Berlangsung?
Para pakar klimatologi memperkirakan intensitas kabut asap akan mulai mereda begitu musim hujan tiba secara merata di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Namun, risiko jangka panjang terhadap kesehatan generasi balita yang terpapar asap dalam periode krisis ini dinilai jauh lebih sulit diukur dan membutuhkan pemantauan kesehatan berkelanjutan selama bertahun-tahun ke depan.
Tanpa perbaikan sistemik dalam pencegahan, termasuk penegakan hukum yang konsisten terhadap pembakaran lahan oleh korporasi dan individu, pakar kesehatan memperingatkan bahwa krisis serupa akan terus berulang setiap musim kering, dengan balita sebagai kelompok yang paling menanggung akibatnya dalam jangka panjang.
Peran Masyarakat Sipil dan Donasi Kesehatan
Di tengah krisis ini, sejumlah organisasi masyarakat sipil dan lembaga filantropi mulai menggalang bantuan berupa masker khusus anak, alat pemurni udara portabel, dan tenaga medis relawan yang dikirim ke wilayah-wilayah terdampak paling parah. Inisiatif semacam ini dinilai penting sebagai penopang sementara di tengah lambannya respons struktural dari pemerintah pusat maupun daerah.
Sejumlah rumah sakit daerah bahkan membuka posko kesehatan khusus bagi balita dengan gejala ISPA, dilengkapi dengan nebulizer tambahan dan oksigen portabel mengingat lonjakan pasien yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Tenaga kesehatan di lapangan mengaku kewalahan menangani jumlah pasien yang jauh di atas kapasitas normal fasilitas kesehatan setempat.
Perbandingan dengan Krisis Karhutla Tahun-Tahun Sebelumnya
Jika dibandingkan dengan krisis karhutla pada tahun-tahun sebelumnya, angka 62.400 balita terdampak ISPA kali ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Para peneliti lingkungan menilai hal ini berkaitan dengan kombinasi musim kering yang lebih panjang akibat perubahan pola cuaca global serta masih lemahnya penegakan hukum terhadap praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang dinilai lebih murah dibanding metode mekanis.
Langkah Preventif untuk Musim Kering Mendatang
Melihat skala krisis tahun ini, sejumlah pakar lingkungan mendesak pemerintah menyusun peta jalan pencegahan karhutla jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada pemadaman reaktif, melainkan juga pada pencegahan struktural, termasuk restorasi lahan gambut, pengawasan ketat terhadap izin konsesi lahan, serta penegakan hukum yang konsisten terhadap korporasi maupun individu yang terbukti membakar lahan untuk membuka area tanam baru dengan cara yang lebih murah namun merusak lingkungan secara luas.
Pemerintah daerah di wilayah terdampak juga diminta memperkuat sistem peringatan dini kualitas udara agar masyarakat, khususnya keluarga dengan balita, dapat mengambil langkah antisipasi lebih cepat seperti menutup ventilasi rumah dan membatasi aktivitas luar ruangan saat indeks kualitas udara memasuki kategori berbahaya.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v























Tinggalkan Balasan