Startup Netra Runtime Tawarkan Infrastruktur AI Murah, Sudah Proses 990 Miliar Token Sejak Meluncur
JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia yang makin menggeliat membuka ceruk pasar baru bagi pelaku usaha infrastruktur digital. Salah satu yang menangkap peluang ini adalah Netra Runtime, startup lokal pengembang infrastruktur inferensi AI, yang kini menjadi salah satu portofolio investasi terbaru perusahaan modal ventura Init-6.
Menjawab Kendala Biaya dan Privasi Data
Tingginya permintaan terhadap AI sebagai kebutuhan baru dunia usaha memicu kemunculan berbagai inovasi lokal untuk menjawab kendala yang kerap dihadapi sektor usaha saat mengadopsi teknologi ini, mulai dari persoalan privasi data hingga biaya investasi awal yang tinggi. Netra Runtime hadir sebagai perusahaan infrastruktur inferensi AI yang membantu pengusaha mengakses teknologi AI berkinerja tinggi tanpa harus terbentur batasan modal belanja untuk penyediaan graphics processing unit (GPU) yang notabene sangat mahal.
Menurut penjelasan pihak Netra Runtime, perusahaan mengembangkan metode optimasi agar penggunaan satu unit GPU dapat memberikan daya proses yang jauh lebih besar dan efisien. “Dari situ kami melihat, bagaimana kalau kami mengoperasikan satu GPU, lalu kami optimalisasi, agar jauh lebih efisien dan bisa diakses semua orang tanpa perlu mengeluarkan capex lumayan tinggi,” ujar Rifky, perwakilan Netra Runtime.
Dua Skema Model Bisnis
Untuk menjangkau pasar secara lebih luas, Netra Runtime menerapkan dua skema model bisnis yang disesuaikan dengan skala industri penggunanya. Skema pertama adalah layanan Data API, di mana pengguna dapat mengakses melalui aplikasi Netra, melakukan top up menggunakan QRIS atau kartu kredit, lalu langsung memanfaatkan layanan AI generatif layaknya ChatGPT. Layanan ini juga dapat diintegrasikan dengan agent AI maupun aplikasi lain yang sudah digunakan pelanggan.
Skema kedua ditujukan bagi pelanggan yang telah memiliki infrastruktur GPU sendiri. Netra Runtime menyediakan layanan optimalisasi melalui skema lisensi, sehingga perusahaan dapat memaksimalkan pemanfaatan perangkat keras yang sudah dimiliki tanpa perlu investasi tambahan yang besar.
Pertumbuhan Pesat dalam Waktu Singkat
Meski baru resmi meluncur sekitar satu setengah bulan di Indonesia, performa pemrosesan data Netra Runtime mencatatkan pertumbuhan yang sangat cepat. Hingga saat ini, perusahaan telah memproses sekitar 990 miliar token sejak pertama kali beroperasi, dengan rata-rata pemrosesan harian berkisar 6 hingga 12 miliar token. Manajemen menargetkan dapat mencapai angka 30 miliar token per hari pada akhir tahun 2026.
“Target akhir tahun, di angka 30 miliar token sehari. Semoga bisa dicapai dengan upaya kami membangun market AI,” ujar Rifky.
Konteks Ekosistem AI Nasional yang Makin Ramai
Pertumbuhan Netra Runtime terjadi di tengah semakin ramainya ekosistem startup AI lokal di Indonesia. Pada pekan yang sama, platform Pemuda.ai resmi diluncurkan dengan membawa empat layanan utama, termasuk asisten AI interaktif bernama Asmuni yang menyasar industri kreatif dan ekonomi kreatif. Di Bali, startup pendidikan berbasis AI bernama Drillo juga berhasil menembus 20 besar program inkubasi NextDev Telkomsel setelah bekerja sama dengan delapan sekolah dan menjangkau lebih dari 1.900 siswa.
Kementerian Komunikasi dan Digital turut mendorong para pendiri startup generasi muda untuk menciptakan inovasi yang unik dan berdampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar viral di media sosial. Pemerintah saat ini juga menyiapkan peta jalan kecerdasan buatan nasional serta aturan etika AI yang mencakup klasifikasi risiko, mulai dari risiko rendah untuk kebutuhan pendidikan sehari-hari hingga risiko tinggi yang berkaitan dengan data pribadi.
Peluang bagi UMKM
Pertumbuhan pesat ini mencerminkan besarnya permintaan pelaku usaha Indonesia, khususnya UMKM dan perusahaan skala menengah, terhadap solusi AI yang terjangkau dan mudah diakses. Dengan model bisnis berbasis top up dan lisensi yang fleksibel, UMKM yang sebelumnya terhambat biaya investasi GPU kini memiliki opsi untuk mengadopsi teknologi AI secara bertahap sesuai kebutuhan dan kapasitas finansial masing-masing, sejalan dengan tren adopsi kecerdasan buatan yang terus meningkat di berbagai sektor industri nasional menjelang 2027.
















Tinggalkan Balasan