Viral Ancaman Putus Kabel Laut RI-Singapura, Menkomdigi: 80 Persen Konektivitas Singapura Bisa Lumpuh
Ekoin.co – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid kembali menjadi sorotan media internasional setelah responsnya terhadap wacana pemutusan kabel bawah laut antara Indonesia dan Singapura viral di media sosial. Isu ini bermula dari unggahan mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, yang membagikan infografis klaim bahwa 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia bergantung pada jalur Singapura, disertai pertanyaan provokatif “Cut?” atau “Potong?”.
Meutya merespons melalui akun Instagram pribadinya dengan nada tenang namun tegas. “Kita tidak perlu geram. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura, tidak sampai dengan tiba-tiba. Sebagian besar jalurnya melalui perairan Indonesia,” tulisnya, dikutip Senin (2/11/2026).
Singapura Justru Lebih Rentan
Menurut Meutya, jika benar-benar terjadi gangguan pada jalur kabel laut tersebut, dampaknya justru akan jauh lebih besar dirasakan oleh Singapura ketimbang Indonesia. Ia menyebut sekitar 80 persen kapasitas konektivitas Singapura berisiko lumpuh apabila kabel yang melintasi perairan Indonesia terputus, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.
Menkomdigi juga menyoroti besarnya pasar digital Indonesia sebagai salah satu daya tawar utama di hadapan Singapura. “Penduduk Indonesia jumlahnya 47 kali lipat dari Singapura. 267 juta masyarakat terhubung ke internet. Tanpa angka ini, investor perusahaan teknologi global berpotensi angkat kaki dari Singapura,” tegasnya.
Latar Belakang: Polemik Gas dan Infrastruktur Digital
Pernyataan Calvin Cheng muncul tak lama setelah Indonesia mengumumkan kebijakan pengurangan pasokan ekspor gas alam ke Singapura, yang memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan di negara tetangga tersebut. Meski demikian, Cheng sendiri kemudian mengklarifikasi bahwa pemerintah Singapura tidak akan benar-benar mengambil langkah pemutusan kabel. “Kami adalah orang-orang beradab yang taat hukum. Tentu saja kami tidak akan melakukan hal ini,” tulisnya.
Berdasarkan data TeleGeography yang dikutip Katadata, setidaknya terdapat 24 sistem kabel bawah laut yang menghubungkan Indonesia dan Singapura, dengan 17 di antaranya sudah aktif beroperasi dan 7 lainnya masih dalam tahap perencanaan. Infrastruktur ini menjadi tulang punggung konektivitas digital kedua negara sekaligus kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.
Dampak bagi Ekosistem Digital Nasional
Meutya menutup responsnya dengan menekankan pentingnya kolaborasi, bukan konfrontasi, dalam menjaga infrastruktur digital strategis ini. “Kita tidak boleh berpikir kerdil. Infrastruktur digital adalah sektor yang perlu dijaga bersama, tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tapi juga untuk konektivitas global,” ujarnya. Insiden ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur data center dan kabel laut domestik, guna mengurangi ketergantungan pada satu titik simpul regional dan memperkuat kedaulatan digital nasional dalam jangka panjang.
Perdebatan ini juga memunculkan sorotan terhadap strategi diplomasi digital Indonesia di kancah regional. Sejumlah pengamat hubungan internasional menilai respons tegas namun terukur dari Meutya Hafid justru memperkuat posisi tawar Indonesia dalam negosiasi-negosiasi lanjutan terkait infrastruktur digital dan konektivitas lintas negara, termasuk dalam konteks kerja sama ekonomi digital ASEAN yang lebih luas.
Ke depan, insiden ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat realisasi proyek-proyek kabel laut domestik serta pusat data (data center) dalam negeri, sehingga ketergantungan terhadap satu titik simpul regional seperti Singapura dapat berkurang secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, sejalan dengan ambisi besar Indonesia membangun kedaulatan digital yang lebih mandiri dan tangguh.
Sejumlah operator telekomunikasi domestik juga diminta turut berperan aktif dalam memperkuat redundansi jaringan nasional, mengingat insiden semacam ini — meski bersifat retoris dan tidak benar-benar terjadi — menjadi pengingat penting akan potensi risiko gangguan konektivitas berskala besar apabila Indonesia terlalu bergantung pada satu jalur atau satu negara mitra dalam ekosistem digitalnya.
Pemerintah juga tengah mengevaluasi skema investasi untuk pembangunan kabel bawah laut domestik yang menghubungkan pulau-pulau besar di Indonesia, sebagai bagian dari peta jalan transformasi digital nasional, sehingga kapasitas internet dalam negeri tidak sepenuhnya bergantung pada jalur internasional yang melewati negara tetangga.
Kejadian ini pada akhirnya menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat dan pemangku kebijakan mengenai pentingnya literasi digital serta kehati-hatian dalam menyikapi narasi provokatif di media sosial, agar isu sensitif semacam ketergantungan infrastruktur antarnegara tidak mudah memicu kepanikan publik yang tidak berdasar.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v























Tinggalkan Balasan