Washington EKOIN.CO – Pesona surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury mengalami peluruhan signifikan sejak awal April 2025, seiring gejolak perang tarif dan sentimen negatif dari investor global. Kondisi ini turut memengaruhi fungsi aset tersebut sebagai instrumen “safe haven”, terutama untuk obligasi jangka panjang.
Makalah baru yang dirilis dua profesor keuangan dari New York University, Viral Acharya dan Toomas Laarits, mengungkapkan bahwa perang tarif pada April 2025 telah melemahkan convenience yield US Treasury. Convenience yield adalah premi kenyamanan non-finansial yang diberikan oleh aset seperti obligasi AS, karena dianggap likuid, aman secara hukum, dan diterima luas secara global.
Dalam laporan tersebut dijelaskan bahwa pelemahan ini paling terasa pada obligasi jangka panjang, seperti tenor 10 hingga 30 tahun, yang selama ini menjadi andalan investor institusional seperti dana pensiun. Sebaliknya, obligasi jangka pendek masih menikmati premi kenyamanan karena tetap dianggap stabil dan sangat likuid.
Peningkatan volatilitas antara saham dan obligasi juga memperparah keadaan. Korelasi aman yang selama ini ada antara kedua instrumen tersebut melemah. Data intraday menunjukkan peningkatan kovarians, yang mengindikasikan menurunnya sifat pelindung risiko dari obligasi jangka panjang.
Sepanjang tahun ini, pasar surat utang AS telah menjadi pusat perhatian. Hanya dalam satu pekan setelah pengumuman perang tarif, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 0,506 basis poin, menjadi 4,497% per 11 April 2025. Kenaikan mingguan ini menjadi yang terbesar sejak 2001.
Premi Kenyamanan Mulai Menghilang
Swap spread tenor 30 tahun bahkan sempat menembus -100 basis poin, menandai level negatif tertinggi sejak masa pandemi. Imbal hasil obligasi 30 tahun tercatat naik hingga 60 basis poin, menjadikannya lonjakan mingguan terbesar sejak tahun 1981.
Kondisi ini diperburuk dengan aksi jual besar-besaran yang dilakukan oleh investor global terhadap obligasi AS. Total penjualan diperkirakan mencapai US$ 29 triliun, menurut laporan yang dikutip dari CNBC Indonesia. Fenomena ini didorong oleh kelompok yang dikenal sebagai bond vigilantes.
Bond vigilantes merupakan investor yang menjual surat utang negara sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Tindakan ini membuat biaya pinjaman pemerintah meningkat karena yield melonjak tajam. Mereka menjadi semacam sinyal peringatan pasar terhadap kebijakan yang dianggap berisiko.
Dalam situasi saat ini, tindakan bond vigilantes muncul sebagai respons atas lonjakan defisit anggaran, kebijakan perdagangan yang agresif, serta ketidakpastian arah kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai berubah-ubah.
Peter Tchir dari Academy Securities mengatakan kepada Reuters bahwa tekanan besar mendorong penjualan surat utang dan obligasi korporasi, terutama dari pemegang asing. “Ada kekhawatiran besar secara global karena mereka tidak tahu ke mana arah kebijakan Trump,” ujar Tchir.
Investasi Beralih ke Instrumen Jangka Pendek
Negara pemilik surat utang terbesar seperti China dan Jepang juga mulai mengurangi kepemilikannya atas obligasi AS. Ketegangan dagang, perubahan kebijakan fiskal, serta volatilitas pasar turut mendorong langkah strategis ini.
Di sisi lain, investor mulai beralih ke surat utang jangka pendek seperti T-Bills. Dengan tenor 4 hingga 52 minggu, T-Bills dianggap lebih aman, stabil, dan mudah dicairkan. Imbal hasilnya cenderung stabil meski kondisi pasar sedang tidak menentu.
Dalam jangka panjang, riset menunjukkan bahwa peningkatan pasokan obligasi jangka panjang menyebabkan penurunan convenience yield yang signifikan. Kenaikan pasokan sebesar 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) AS mengurangi premi kenyamanan hingga 0,94 poin persentase dalam periode 10 tahun.
Sementara itu, surat utang jangka pendek relatif tidak terpengaruh oleh peningkatan pasokan. Hal ini tercermin dari yield T-Bills 3 bulan yang tetap stabil meskipun pasar mengalami fluktuasi besar.
Penerbitan surat utang jangka panjang meningkat tajam pada tahun 2020, memuncak di tahun 2021 sebagai respons terhadap pandemi. Sementara itu, utang jangka pendek kembali melonjak pada 2023 sebagai langkah menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Dalam laporan awal yang dirilis Mei 2025, para peneliti NYU menyimpulkan bahwa pelemahan convenience yield masih bersifat sementara, namun menunjukkan tren pembalikan fungsi aset safe haven pada US Treasury jangka panjang.
Ketidakpastian global serta perubahan mendasar dalam struktur pasar keuangan internasional turut menekan posisi obligasi AS yang selama ini dianggap sebagai aset paling aman di dunia.
Investor kini mulai mengevaluasi ulang strategi portofolio mereka. Mereka lebih berhati-hati dalam memilih tenor obligasi, serta mempertimbangkan aset alternatif seperti emas sebagai instrumen pelindung risiko.
Kondisi ini mencerminkan perubahan dinamika fundamental pasar surat utang global. Reputasi US Treasury sebagai acuan stabilitas keuangan internasional sedang diuji oleh perkembangan geopolitik dan ekonomi yang tak menentu.
Untuk jangka pendek, pengamat memperkirakan volatilitas pada US Treasury masih akan berlanjut, khususnya pada instrumen jangka panjang. Pelaku pasar diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebijakan dan dinamika internasional.
Saran penting bagi investor adalah melakukan diversifikasi aset dan lebih menimbang tenor instrumen keuangan berdasarkan tujuan investasi dan kondisi pasar. Dalam masa gejolak seperti saat ini, pendekatan konservatif lebih diutamakan.
Bagi pemerintah AS, penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan menjaga komunikasi pasar yang konsisten. Ketidakpastian yang tinggi justru memperbesar potensi aksi jual dan meningkatkan biaya pinjaman negara.
Pelaku pasar keuangan global diharapkan terus memantau perkembangan pasar obligasi AS sebagai barometer sentimen risiko internasional. Perubahan kecil pada imbal hasil US Treasury dapat memberi dampak besar pada pasar global.
penurunan convenience yield obligasi jangka panjang menunjukkan adanya pergeseran kepercayaan pasar terhadap stabilitas keuangan AS. Investor kini lebih selektif dan tidak lagi menganggap US Treasury sebagai pilihan mutlak dalam masa krisis.
Pasar global tengah memasuki fase penyesuaian baru. Peran aset safe haven semakin bergeser dan menciptakan tantangan baru bagi stabilitas sistem keuangan internasional.
Ketergantungan dunia terhadap obligasi AS kini mulai diuji oleh kebijakan dalam negeri Amerika sendiri. Kepercayaan pasar tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi, tapi juga pada ketegasan dan konsistensi kebijakan.
Dengan kondisi saat ini, pengelolaan utang publik dan tata kelola fiskal akan menjadi fokus utama dalam menjaga kepercayaan investor global. Pemerintah AS harus menunjukkan komitmen untuk menjaga stabilitas jangka panjang.
Investor, analis, dan pembuat kebijakan perlu bersinergi dalam menghadapi perubahan besar ini. Masa depan pasar keuangan akan sangat ditentukan oleh kemampuan adaptasi terhadap dinamika baru ini.(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





