Indonesia Perkuat Komitmen Eliminasi Kusta

BALI, EKOIN.CO- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Sasakawa Health Foundation menggelar pertemuan internasional di Bali, Senin, untuk memperkuat komitmen eliminasi kusta di Indonesia.

Acara ini dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin serta WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa, yang juga pendiri yayasan.

Turut hadir pula perwakilan organisasi internasional, lembaga non-pemerintah, peneliti, pemerintah daerah, dan para penyintas kusta atau Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kolaboratif, dengan penekanan penting pada kesetaraan, hak asasi manusia, dan percepatan pemulihan martabat penyintas kusta.

Menkes Budi menyampaikan bahwa kusta sempat tidak menjadi prioritas utama dalam agenda penyakit menular nasional.

Fokus Eliminasi Kusta Diperkuat

Namun, kata Budi, pertemuannya dengan Yohei Sasakawa pada World Health Assembly 2023 di Jenewa telah menjadi titik balik dalam prioritas pemerintah terhadap kusta.

“Saya menyadari bahwa kusta bukan sekadar persoalan angka kasus,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam pidatonya.

Ia menegaskan bahwa kusta membawa stigma dan diskriminasi, sehingga perlu penanganan luar biasa agar dapat mencapai nol kasus.

“Karena itu, kita perlu langkah luar biasa agar Indonesia segera mencapai 0 kusta, 0 disabilitas, dan 0 stigma,” tegasnya.

Komitmen ini ditindaklanjuti dalam bentuk kebijakan percepatan eliminasi yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut.

Apresiasi dan Harapan Yohei Sasakawa

Yohei Sasakawa memberikan apresiasi atas kepemimpinan kuat pemerintah Indonesia dalam menangani kusta.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Menkes Budi atas komitmen yang luar biasa,” ujar Sasakawa.

Ia menyebut Indonesia sebagai negara besar dengan tantangan geografis yang kompleks namun punya semangat luar biasa.

“Saya sudah berusia 86 tahun, tetapi saya berharap dapat menyaksikan hari ketika Indonesia berhasil menghapus kusta sepenuhnya,” lanjut Sasakawa.

Sasakawa berharap semua pihak bersatu, termasuk akademisi, tokoh agama, dan masyarakat sipil.

Lima Strategi Eliminasi Ditetapkan

Dalam forum tersebut, Kementerian Kesehatan mengumumkan lima strategi percepatan eliminasi kusta nasional.

Pertama, memperluas cakupan wilayah akselerasi dari 42 menjadi 111 kabupaten/kota pada tahun 2030.

Kedua, melakukan skrining masif mulai Juli 2025 di lima daerah prioritas: Tangerang, Kab. Bekasi, Kab. Brebes, Kota Jayapura, dan Kab. Sampang.

Ketiga, menerapkan skrining khusus bagi populasi berisiko tinggi sindrom hipersensitivitas Dapsone, khususnya di Papua, Maluku, dan Sulawesi.

Keempat, memperkuat ketersediaan dan distribusi pengobatan multidrug therapy (MDT) bagi pasien kusta.

Kelima, mendorong partisipasi dalam riset dan uji klinis vaksin kusta internasional.

Sasakawa: Indonesia Bisa Jadi Teladan Dunia

Yohei Sasakawa menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia mampu menjadi contoh global dalam eliminasi kusta.

“Saya telah mengunjungi 125 negara untuk mendorong penghapusan kusta,” kata Sasakawa.

Ia menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga internasional, hingga komunitas lokal.

“Saya yakin Indonesia memiliki kapasitas, semangat, dan kemauan politik yang kuat,” tambahnya.

Pernyataan ini disambut antusias oleh peserta, termasuk para penyintas yang hadir dari berbagai wilayah.

Penguatan Komitmen Nasional

Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam penanggulangan penyakit yang masih menimbulkan stigma sosial ini.

Menteri Kesehatan menyatakan, upaya akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari edukasi hingga rehabilitasi sosial.

“Kita harus memberantas kusta dengan pendekatan kesehatan dan kemanusiaan,” kata Menkes Budi.

Ia menambahkan, penyintas kusta harus mendapatkan perlakuan setara dalam pelayanan publik.

Kemenkes akan mendorong daerah-daerah mengintegrasikan program kusta dalam sistem layanan primer.

Peran Penyintas dalam Eliminasi

Penyintas kusta yang hadir menyampaikan pentingnya pelibatan aktif dalam kebijakan dan kampanye publik.

Mereka menginginkan stigma terhadap OYPMK dapat dihapus dari kehidupan sosial dan pelayanan kesehatan.

Salah satu penyintas dari Brebes menyatakan, “Kami bukan penyakit, kami manusia yang ingin hidup normal.”

Mereka juga meminta pemerintah memperluas program pemberdayaan ekonomi bagi OYPMK.

Menkes Budi menyambut baik aspirasi ini dan menyebut keterlibatan OYPMK sangat penting.

Sinergi Nasional dan Internasional

Pertemuan di Bali ini juga menciptakan komitmen sinergi antara pemangku kepentingan lokal dan internasional.

WHO, Sasakawa Foundation, dan beberapa organisasi donor menyatakan siap mendukung Indonesia.

Kerja sama ini mencakup logistik obat, pelatihan tenaga medis, hingga advokasi kebijakan.

“Indonesia harus memimpin gerakan ini secara moral dan operasional,” ujar salah satu perwakilan WHO.(Gambar diambil dari Antara News)

Forum ini diakhiri dengan deklarasi bersama mempercepat penghapusan kusta secara nasional.(*)

Berlangganan gratis WANEWS EKOIN lewat saluran WhatsUp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights