Jakarta, EKOIN.CO – PT Pertamina (Persero) terus memperluas penerapan aplikasi Greenomina sebagai upaya mendukung dekarbonisasi nasional. Inovasi ini dirancang untuk menghitung jejak karbon, menyerap emisi, hingga memfasilitasi perdagangan emisi karbon.
Aplikasi Greenomina, yang merupakan akronim dari Green and Net Zero Emission Pertamina, telah digunakan dalam berbagai kegiatan Pertamina, baik internal maupun eksternal. Termasuk untuk pelari di ajang Eco RunFest dan perjalanan dinas karyawan.
“Transformasi energi bukan hanya soal mengganti bahan bakar fosil, tapi juga soal mengubah perilaku dan budaya,” ujar Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, pada Rabu (24/7).
Menurut Fadjar, Greenomina hadir bukan hanya sebagai aplikasi, tetapi juga sebagai gerakan kolektif menuju kesadaran iklim. Pengembangan ini turut memperkuat posisi Pertamina sebagai pelopor ekonomi karbon di Indonesia.
Aplikasi ini dikembangkan oleh empat perwira muda Pertamina dan telah meraih penghargaan di tingkat nasional. Salah satunya juara dua dalam Gagasan Eco BUMN 2024 yang diselenggarakan oleh Kementerian BUMN.
Digunakan untuk Berbagai Aktivitas Karbon Netral
Sejak awal 2025, Greenomina dimanfaatkan dalam program Carbon Neutral Business Trip, dengan mengukur emisi dari lebih 10.000 perjalanan dinas. Kegiatan ini turut membuka peluang pemasaran kredit karbon dari proyek energi terbarukan.
Selain itu, Pertamina juga mengaplikasikan Greenomina dalam ajang lari Pertamina Eco RunFest 2024. Sekitar 21.000 peserta terlibat dalam acara karbon netral pertama di Indonesia tersebut.
Greenomina juga mendukung penerbangan perdana carbon-neutral bersama Pelita Air, rute Jakarta–Banjarmasin pada November 2023. Seluruh emisi dalam penerbangan tersebut dihitung dan dikompensasi melalui sistem terintegrasi.
Pertamina sedang menjajaki kerja sama Greenomina dengan sektor perhotelan dan pariwisata nasional. Salah satunya bersama Patra Jasa untuk menghadirkan pengalaman menginap bebas karbon bagi wisatawan domestik.
“Aplikasi ini memberikan kesadaran bahwa setiap orang bisa mengetahui jejak karbonnya dan mengambil bagian dalam pengurangannya,” tambah Fadjar dalam keterangan resmi.
Didukung Standar Global dan Institusi Nasional
Perhitungan dalam Greenomina mengacu pada standar dari UNFCCC, ICAO, dan IATA. Validitas data dikaji oleh Institut Teknologi Bandung dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Dengan akurasi yang tinggi dan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, Greenomina menjadi solusi karbon yang kredibel dan aplikatif. Tidak hanya untuk korporasi, tapi juga individu dan komunitas.
Fadjar menegaskan bahwa Pertamina ingin mengembangkan Greenomina sebagai platform berkelanjutan. Dengan demikian, aplikasi ini dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri yang ingin transisi ke model bisnis netral karbon.
Di sisi lain, penguatan ESG menjadi landasan dari upaya Pertamina. Perusahaan memposisikan Greenomina sebagai bagian dari kontribusi langsung terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah Indonesia untuk mencapai net zero emission pada 2060. Pertamina menyatakan komitmennya secara penuh untuk terus mendorong teknologi dekarbonisasi di seluruh lini bisnis.
Greenomina merupakan inovasi konkret dari Pertamina dalam mendukung transisi energi menuju dekarbonisasi. Aplikasi ini tidak sekadar alat ukur emisi, tetapi menjadi bagian dari strategi menyeluruh menuju ekonomi rendah karbon.
Melalui kerja sama lintas sektor dan penggunaan data ilmiah, Pertamina mampu menjadikan Greenomina sebagai solusi nyata dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Ini sekaligus memperlihatkan kontribusi aktif korporasi dalam agenda hijau nasional.
Dengan melibatkan publik secara luas, dari pekerja hingga pelari dan penumpang pesawat, Greenomina membuka jalan bagi partisipasi kolektif dalam menjaga lingkungan. Pertamina berharap, langkah ini menjadi warisan positif bagi generasi mendatang.(*)





