Jakarta, EKOIN.CO – PT. Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) menegaskan komitmennya dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mendorong investasi hijau guna mewujudkan bonus demografi Indonesia secara optimal.
Pernyataan ini disampaikan Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta, dalam diskusi “Optimizing Green Investment to Achieve Indonesia’s Demographic Bonus” di ajang Green Impact Festival 2025, Djakarta Theater XXI, Jakarta, Selasa (29/7).
Dalam pemaparannya, Bob menekankan urgensi investasi hijau yang tidak hanya berdampak bagi lingkungan, tetapi juga untuk kesiapan tenaga kerja masa depan. Ia menyebut investasi ini penting dalam membangun infrastruktur dan SDM unggul.
“Indonesia menghadapi dua tantangan besar, yaitu populasi usia produktif yang meningkat dan target penurunan emisi karbon. Keduanya harus dijawab bersamaan,” ujar Bob di hadapan peserta diskusi.
Menurutnya, green investment adalah solusi ganda yang bisa mendorong transisi energi sekaligus membuka lapangan kerja berkualitas. Ia menilai investasi bersih dapat menjadi motor utama transformasi ekonomi Indonesia ke arah yang lebih inklusif.
Strategi Hijau BSI Menuju Keuangan Berkelanjutan
BSI sendiri memiliki visi untuk menjadi The Best Global Bank Based on Implementation of Sustainable Finance, dengan menghadirkan produk dan layanan keuangan yang ramah lingkungan dan inklusif.
Bob mengungkapkan bahwa BSI telah menyusun kerangka kerja keberlanjutan sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan standar global. Bank ini juga aktif dalam inisiatif internasional seperti United Nations Environment Programme – Finance Initiative (UNEP-FI).
“BSI memiliki misi untuk berkontribusi signifikan bagi ekonomi, lingkungan, dan masyarakat. Ini menjadi pijakan dalam seluruh proses bisnis kami,” tambah Bob.
Selain itu, BSI melaksanakan Climate Risk Stress Testing (CRST) untuk mengukur daya tahan portofolio terhadap perubahan iklim. Tes ini mencakup 51% portofolio pinjaman bank kategori KBMI 3.
Hingga kuartal I 2025, BSI mencatat portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp72,6 triliun, dengan Rp14,6 triliun dialokasikan untuk pembiayaan hijau di sektor energi terbarukan, transportasi bersih, pengelolaan air, dan limbah berkelanjutan.
Penerbitan Sukuk ESG dan Dampak Sosial Ekonomi
Untuk mendukung transisi hijau, BSI menerbitkan sukuk ESG tahap II senilai Rp5 triliun di tahun 2025. Dana tersebut digunakan untuk proyek strategis seperti transportasi ramah lingkungan dan pemberdayaan UMKM berkelanjutan.
“Melalui sukuk ini, kami ingin menjadi katalis perubahan menuju ekonomi rendah karbon,” jelas Bob. Ia menyebut sukuk tahap I senilai Rp3 triliun yang dirilis pada 2024 telah memberi dampak nyata di sektor pendidikan, kesehatan, pangan, dan sosial ekonomi.
BSI juga aktif mendorong budaya ramah lingkungan di lingkungan kerja. Beberapa langkah konkret yang dilakukan antara lain penerapan Green Business Culture, penggunaan kendaraan listrik, panel surya, hingga pelatihan ESG bagi ribuan karyawan.
Tak hanya itu, bank syariah ini juga menggelar program literasi ESG di tingkat nasional dan global, demi mendorong kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam penutup paparannya, Bob menekankan peran penting generasi muda. “Bonus demografi akan menjadi kekuatan, jika diisi oleh talenta muda yang sadar lingkungan dan siap membangun masa depan hijau bagi Indonesia,” tegasnya.
Langkah-langkah strategis PT. Bank Syariah Indonesia Tbk. menunjukkan konsistensi dalam mengarahkan bisnis ke arah keuangan berkelanjutan. Fokus pada ESG dan investasi hijau bukan hanya menciptakan dampak lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru.
Melalui pembiayaan hijau, penerbitan sukuk ESG, dan penguatan budaya internal perusahaan, BSI membuktikan bahwa lembaga keuangan dapat berperan aktif dalam mewujudkan transisi energi nasional. Kolaborasi dengan sektor lain juga menjadi kunci.
Lebih jauh, keterlibatan generasi muda dalam mendorong transformasi hijau menjadi hal krusial. Komitmen BSI bukan hanya menjawab tantangan hari ini, tetapi menyiapkan fondasi bagi masa depan Indonesia yang lebih hijau dan inklusif.(*)





