China Balas Tarif AS, Ketegangan Perang Dagang Memuncak

Jakarta, EKOIN.CO – China merespons langkah tarif Amerika Serikat melalui serangkaian tindakan balas dendam ekonomi sejak awal 2025, menurut laporan CNBC Indonesia dan sumber lain.

Pasukan tarif dimulai ketika AS menaikkan pungutan impor atas produk China secara bertahap mencapai 125 %. Sebagai balasan, China menerapkan bea masuk sekitar 84 % pada impor barang AS mulai 8 April lalu

Lebih lanjut, aturan pemberlakuan atas tarif tersebut menyasar sektor energi seperti batu bara dan LNG sebesar 15 % dan beberapa produk seperti minyak mentah hingga alat pertanian dengan tarif 10 % mulai 10 Februari 2025

sektor teknologi. Negeri Tirai Bambu mulai membatasi ekspor mineral kritis seperti gallium, germanium, antimon, serta alat filtrasi baterai lithium bagi kendaraan listrik, yang berdampak langsung meningkatkan harga dan menekan pasokan global

Pada 11 Februari Beijing meluncurkan daftar hitam perusahaan-perusahaan AS, seperti Google, Nvidia, Apple, Broadcom, dan Synopsys. Mereka menjadi target penyelidikan antimonopoli sebagai alat tawar dalam negosiasi dagang dengan Washington

Balasan Energi dan Mineral

Pada awal Februari, China menetapkan tarif tambahan 15 % untuk impor batu bara dan LNG dari AS, dan tarif 10 % untuk minyak mentah, mesin pertanian, serta kendaraan besar dan truk pikap. Kebijakan ini merupakan respons terhadap kenaikan tarif AS yang dianggap sepihak

Setelah itu, eskalasi meningkat ketika Beijing memperluas blokade ekspor mineral penting seperti gallium, germanium, dan antimon. Pada 31 Desember 2024, harga antimon melonjak mencapai US$39.500–40.000 per ton. Kebijakan itu dilihat sebagai upaya China mengendalikan rantai pasokan global guna menekan AS dan sekutunya

Selain itu, produsen China seperti Jiangsu Jiuwu Hi‑Tech menghentikan ekspor alat filtrasi lithium sejak awal Februari, meningkatkan ketegangan di industri kendaraan listrik global

Teknologi, Daftar Hitam, dan Negosiasi

China mulai memasukkan perusahaan AS ke dalam daftar hitam dengan dakwaan pelanggaran antimonopoli, target utamanya adalah Google dan raksasa chip seperti Nvidia dan Broadcom. Langkah ini tampak sebagai strategi untuk memperkuat posisi tawar dalam konflik tarif dengan AS

Menurut Tom Nunlist, konsultan kebijakan teknologi dari Shanghai, China tengah melakukan “pengumpulan kartu” untuk memperkuat kemampuan negosiasi terhadap Gedung Putih, terutama terkait kasus anti-monopoli

Meskipun demikian, strategi tersebut membawa risiko bagi perusahaan AS yang beroperasi di China, yang semakin enggan mengambil risiko sebagai reaksi atas ketegangan bilateral

Dampak Pasar Global

Ketegangan tarif ini memicu gejolak pada pasar modal global. Bursa saham AS mencetak rekor kenaikan setelah pengumuman penundaan tarif bagi sebagian besar negara mitra, namun China tetap menjadi target utama kenaikan tarif AS hingga 125 %

Harga minyak dunia, indeks saham Asia seperti Nikkei, Kospi, Hang Seng, dan SSE Shanghai mengalami fluktuasi tajam akibat risiko perang dagang yang memburuk dan ketidakpastian prospek ekonomi masa depan

Dampak terhadap ekonomi China berupa tekanan inflasi, penurunan investasi manufaktur, dan risiko pertumbuhan yang melambat turut mengemuka dari analis global, meskipun Beijing berusaha memilih stigma sebagai korban intimidasi ekonomi

Risiko Jangka Panjang dan Strategi China

Para analis mengatakan bahwa China kemungkinan akan fokus pada stimulus domestik, pemangkasan suku bunga, serta peningkatan hubungan dagang dengan negara-negara Selatan. Pendekatan ini dianggap sebagai cara Beijing mengatasi tekanan eksternal dan mempertahankan pertumbuhan sekitar 5 %

Pendekatan tersebut juga melibatkan depresiasi yuan secara perlahan, pinjaman pemerintah daerah, dan insentif bagi pekerja ekspor yang terdampak oleh tarif AS

Meskipun demikian, risiko resesi global tetap tinggi jika konflik terus memburuk. Ketergantungan rantai pasokan pada China menunjukkan potensi disrupsi besar, terutama di sektor teknologi dan energi


Kesimpulan dan saran:

Mengetahui eskalasi tarif dan pembatasan impor yang terjadi antara China dan Amerika Serikat, diperlukan kesiapan diplomasi ekonomi agar tidak terjebak dalam siklus balasan yang merugikan kedua belah pihak. Dialog diplomatik serta mediasi multilateral perlu diperkuat agar jalur dagang tetap terbuka dan resiko resesi global dapat diminimalisir.

Perusahaan global disarankan memetakan ketergantungan pasokan dan mengembangkan strategi diversifikasi sumber bahan baku, khususnya yang bersifat kritikal seperti mineral dan teknologi.

Pemerintah maupun sektor swasta di Indonesia dan Asia Tenggara hendaknya memanfaatkan ketegangan ini sebagai momentum pemindahan investasi dari China, memperkuat posisi sebagai alternatif rantai pasokan regional.

Sementara itu, publik dan investor perlu memperhatikan fluktuasi pasar dan potensi risiko ekonomi makro. Diversifikasi portofolio investasi menjadi penting untuk menghadapi ketidakpastian global yang mungkin berkepanjangan.

Akhirnya, ketegangan ini mengingatkan bahwa perang dagang tidak hanya soal tarif, melainkan melibatkan strategi geopolitik, teknologi, dan energi. Semua pihak diingatkan untuk tetap bijak dan waspada. (*)

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini