Moscow EKOIN.CO – Rusia sejak akhir 2024 diketahui telah menerapkan teknologi rudal balistik hipersonik baru bernama Oreshnik. Presiden Vladimir Putin menyebut senjata ini telah digunakan dalam operasi serangan terhadap Ukraina sebagai respons atas penggunaan rudal jarak jauh oleh Amerika Serikat dan Inggris RS‑26 Rubezh yang dikembangkan oleh Institut Teknologi Termal Moskow (MIT). Rudal ini memakai bahan bakar padat dengan kemampuan peluncuran bergerak
Laporan menyebutkan Oreshnik memiliki kecepatan hingga Mach 10, menjadikannya hampir tak dapat dicegat menggunakan sistem pertahanan udara konvensional milik Ukraina Rentang jangkauannya dilaporkan antara 2.000 hingga 5.500 km Rudal ini mampu mengangkut 6 hingga 8 hulu ledak MIRV, baik konvensional maupun nuklir
Fitur dan Tantangan Intersepsi
Kemampuan Oreshnik melaju di fase orbital atas atmosfer membuatnya sangat sulit dideteksi oleh radar pertahanan Ukraina, serta tidak dapat dicegat bahkan oleh sistem pertahanan canggih seperti Arrow‑3 atau SM‑3 yang tak tersedia di wilayah itu
Menurut pakar MIT, Dave Postol, serta Igor Korotchenko, rudal ini praktis tidak bisa dilacak atau dihancurkan oleh teknologi militer manapun saat ini Setiap hulu ledaknya dilengkapi sistem propulsi independen yang memungkinkan manuver antirudal untuk menghindari intersepsi
Asal-Usul dan Tahapan Pengembangan
Rudal ini dikembangkan dari platform RS‑26 Rubezh yang mulai dikembangkan sejak 2008 dan berbasis pada keluarga rudal Yars. Peluncurnya bersifat bergerak dan lebih ringan sekitar 80 ton dibanding Yars yang lebih dari 120 ton
Menurut BBC, senjata ini diluncurkan pada malam hari 21 November 2024 ke kota Dnipro, Ukraina, dalam kondisi uji coba pertempuran oleh militer Rusia
Varian dan Dampak Global
Rudal Oreshnik dikategorikan sebagai rudal jarak menengah (IRBM), bukan ICBM, dengan rentang antara 500 sampai 5.500 km, meski diperebutkan termasuk dekat ambang ICBM Pentagon menyebut Oreshnik bukan senjata nuklir strategis, tetapi memiliki daya hancur setara dalam serangan konvensional jika digunakan dalam jumlah besar
Presiden Putin menyebut sistem ini sedang memasuki produksi massal dan akan segera ditempatkan di Belarus sebelum akhir 2025 sebagai bagian dari pos pertahanan nuklir Rusia bersama Belarus
Dampak global dari rudal ini mendorong negara-negara Barat dan NATO menuntut de-eskalasi. Dewan Keamanan PBB serta pejabat NATO mengingatkan penggunaan senjata hipersonik berbahaya bagi stabilitas global
Jenis Rudal Rusia Lainnya
Beberapa rudal Rusia lain yang juga dikenal luas antara lain: rudal jelajah Kalibr, anti- kapal Kh‑22, aeroballistik X‑47M2 Dagger, serta supersonik Zirkon. Komposisi serangan terhadap Ukraina selama Juli 2024 melibatkan berbagai jenis rudal seperti Kh‑101, Kalibr, Kh‑22, Kh‑59/69, Iskander‑M, Dagger, dan Zirkon
Rudal-rudal tersebut memiliki karakteristik yang berbeda tetapi secara umum lebih rentan terhadap intersepsi dibanding Oreshnik, terutama cruise missile yang terbang rendah dan lebih lambat.
Sebagai ilustrasi:
- Kalibr: rudal laut/ darat jelajah dengan jangkauan hingga 2.500 km, akurasi sekitar 2‑3 m
- Kh‑22: rudal anti-kapal supersonik kecepatan Mach 4.6, jangkauan ~600 km:
Berdasarkan informasi tersedia, Oreshnik adalah rudal hipersonik jarak menengah Rusia yang mematikan karena kecepatan ekstrem dan kemampuan menghadapi intersepsi. Disebut sangat sulit dilacak dan digagalkan bahkan oleh sistem pertahanan modern. Ia dikembangkan dari RS‑26 Rubezh dan telah digunakan dalam operasi pertempuran di Ukraina. Kapasitas membawa beberapa hulu ledak MIRV meningkatkan potensi destruktifnya dalam serangan massal, konvensional maupun nuklir. Kebijakan Rusia yang memasang senjata ini di Belarus menunjukkan eskalasi strategis terhadap NATO dan Eropa Timur.
Saran dan kesimpulan:
Perlu peningkatan sistem deteksi dan pertahanan udara terhadap ancaman hipersonik melalui teknologi baru. Diplomasi internasional agar kembali menegakkan batasan terhadap senjata jarak menengah dibutuhkan. Negara sahabat Ukraina dan NATO perlu meningkatkan solidaritas serta kesiapsiagaan bersama untuk menghadapi eskalasi. Komunitas global harus mengupayakan de‑eskalasi konflik militer agar tidak meluas ke perang nuklir. Pemantauan ketat terhadap penempatan senjata ini di Belarus penting untuk menjaga stabilitas kawasan. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





