Amerika Serikat EKOIN.CO – Kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren positif dalam satu dekade terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 5 Agustus 2025 mencatat nilai ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam secara konsisten lebih tinggi dibandingkan dengan nilai impor dari negara tersebut. Selama periode 2014 hingga 2024, nilai ekspor Indonesia ke AS tercatat berkisar antara US$16 miliar hingga US$28 miliar per tahun, jauh melampaui impor dari AS yang hanya berada di kisaran US$7 miliar hingga US$11 miliar.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Menurut BPS, kondisi tersebut mengakibatkan Indonesia hampir selalu mencatat surplus dalam perdagangan bilateral dengan AS. Surplus ini mengindikasikan daya saing produk Indonesia di pasar internasional, khususnya di AS yang dikenal sangat kompetitif. Dalam laporan itu, disebutkan bahwa peningkatan ekspor didorong oleh permintaan yang tinggi terhadap sejumlah komoditas unggulan.
Surplus Perdagangan Konsisten Selama Satu Dekade
Selama periode sepuluh tahun terakhir, tren ekspor Indonesia ke AS mengalami kenaikan signifikan sebesar 59%. Sebaliknya, nilai impor dari AS hanya tumbuh sebesar 46%. Perbedaan laju pertumbuhan ini menambah lebar surplus perdagangan Indonesia terhadap AS dari tahun ke tahun. Produk-produk seperti tekstil, furnitur, elektronik, serta hasil pertanian dan perikanan disebut menjadi penyumbang utama peningkatan ekspor tersebut.
Sejalan dengan itu, pasar AS telah menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia, menggantikan posisi negara lain yang sempat mendominasi beberapa dekade lalu. Kinerja ini menunjukkan bahwa komoditas domestik memiliki kualitas dan daya saing yang mumpuni untuk menembus pasar internasional.
Dalam laporannya, BPS juga menyebutkan bahwa peningkatan permintaan barang konsumsi di AS turut mendorong peningkatan ekspor dari Indonesia. Produk tekstil seperti pakaian jadi dan bahan mentah mengalami peningkatan permintaan paling signifikan.
Ekspor Unggulan: Tekstil, Furnitur, Elektronik
Berdasarkan data BPS, sektor tekstil mendominasi kontribusi ekspor ke AS. Produk ini menyumbang porsi terbesar dibandingkan sektor lainnya. Di samping itu, furnitur dari kayu dan rotan asal Indonesia juga mengalami peningkatan permintaan di pasar Amerika. Hal ini memberikan peluang bagi industri mebel nasional untuk terus tumbuh.
Di sektor teknologi, produk elektronik buatan Indonesia mulai diterima secara luas di pasar AS. Peningkatan ekspor elektronik mencerminkan mulai tumbuhnya daya saing sektor manufaktur Indonesia di bidang teknologi. Selain itu, produk perikanan seperti udang dan ikan olahan juga menunjukkan peningkatan permintaan yang signifikan.
Sektor pertanian turut mencatatkan pertumbuhan ekspor ke AS, terutama pada produk-produk seperti kopi, teh, dan rempah-rempah. Produk-produk ini mendapat sambutan positif karena kualitas dan konsistensi pengiriman yang terus dijaga oleh para eksportir nasional.
Hingga akhir 2024, ekspor Indonesia ke AS mencapai puncaknya dengan nilai mendekati US$28 miliar. Ini merupakan angka tertinggi selama satu dekade terakhir. Sebaliknya, impor dari AS pada tahun yang sama tercatat sebesar US$11 miliar, tetap lebih rendah dibandingkan nilai ekspor.
Keberhasilan menjaga surplus perdagangan ini menjadi indikator keberhasilan strategi diversifikasi ekspor yang dijalankan pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Langkah ini juga didukung peningkatan kerja sama ekonomi dan perjanjian perdagangan bebas antara kedua negara.
Dalam keterangannya, BPS menegaskan bahwa surplus perdagangan dengan AS memberikan dampak positif terhadap perekonomian Indonesia secara keseluruhan, termasuk terhadap neraca pembayaran dan cadangan devisa.
BPS juga menekankan pentingnya menjaga tren positif ini melalui peningkatan kualitas produk ekspor, inovasi dalam produksi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor industri ekspor.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mendorong ekspor lebih lanjut, termasuk penyederhanaan perizinan ekspor dan peningkatan promosi produk dalam negeri di pasar AS.
Ke depan, peluang ekspor diperkirakan akan terus terbuka lebar, terutama dengan adanya peningkatan kebutuhan produk ramah lingkungan di AS. Indonesia diharapkan mampu mengisi celah tersebut dengan produk-produk berkelanjutan.
Meskipun surplus perdagangan tercatat tinggi, pemerintah mengingatkan agar tidak hanya mengandalkan satu pasar ekspor. Diversifikasi tujuan ekspor juga perlu dilakukan agar tidak tergantung pada satu negara mitra dagang.
Kinerja ekspor ke AS dinilai sebagai cerminan daya saing industri nasional, namun juga menjadi tantangan untuk mempertahankan tren tersebut dalam menghadapi dinamika global yang cepat berubah.
Dengan meningkatnya ekspor dan surplus perdagangan, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan pada pembiayaan luar negeri dan memperkuat perekonomian dalam negeri.
Selain itu, kontribusi ekspor terhadap penciptaan lapangan kerja di sektor industri juga meningkat, khususnya di daerah penghasil produk ekspor utama seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan.
Dalam data BPS menegaskan bahwa Amerika Serikat telah menjadi pasar strategis bagi ekspor Indonesia. Surplus perdagangan yang konsisten selama satu dekade menunjukkan bahwa produk Indonesia memiliki potensi besar di pasar global.
Untuk menjaga momentum ini, peningkatan kualitas dan inovasi produk menjadi keharusan agar mampu bersaing dengan negara eksportir lain. Pemerintah juga perlu terus memperluas akses pasar melalui diplomasi ekonomi dan perjanjian dagang yang saling menguntungkan.
Upaya memperkuat sektor industri penghasil barang ekspor perlu dilakukan secara berkelanjutan agar Indonesia dapat mempertahankan keunggulan kompetitif di pasar Amerika Serikat.
Di sisi lain, keterlibatan pelaku usaha kecil dan menengah dalam ekspor juga perlu diperluas agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata. Dukungan pembiayaan dan pelatihan teknis menjadi langkah penting untuk mewujudkannya.
Dalam jangka panjang, strategi diversifikasi pasar dan produk ekspor akan menjadi kunci agar ketergantungan pada satu negara tidak menimbulkan risiko ekonomi. Langkah-langkah ini akan membantu menjaga ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan global yang terus berubah. (*)





