JAKARTA, EKOIN.CO – Pemprov DKI Jakarta kembali memperkuat upaya pengelolaan sampah melalui bank sampah. Setiap hari, Ibu Kota menghasilkan lebih dari 7.000 ton sampah. Kondisi ini mendorong munculnya berbagai strategi guna menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
870 Bank Sampah Baru, 852 Diaktifkan Ulang
Langkah strategis dilakukan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. Ia mencanangkan pembentukan 870 bank sampah baru serta reaktivasi 852 bank sampah yang sebelumnya tidak aktif. Rano menyebut, peran bank sampah penting dalam memperkuat sistem pengelolaan dari hulu ke hilir.
“Ini adalah kepentingan kita bersama. Kita harus memilah sampah dari rumah,” ujar Rano Karno dalam keterangannya. Ia menambahkan, keterlibatan warga dari rumah tangga menjadi titik krusial pengurangan sampah menuju TPA.
Bank sampah tidak hanya mengurangi beban TPST, tapi juga membuka peluang ekonomi. Di Bank Sampah Sehati (BSS) RW 08, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, warga aktif mengumpulkan sampah. Hasil penjualan sampah mampu meningkatkan pendapatan keluarga.
Pendamping Pengelolaan Sampah dari Sudin LH Jakarta Selatan, Novalia Magdalena, menjelaskan bahwa setiap pekan ada dua kali penimbangan. “Kami jemput bola setiap Selasa dan Kamis. Volume sampah daur ulang yang dikumpulkan mencapai 2,5 ton per bulan,” katanya.
Harga sampah ditentukan berdasarkan jenis. Sampah plastik berkisar Rp800–Rp4.000/kg, kardus Rp1.700/kg, beling Rp300/kg, sementara besi dan tembaga bisa mencapai Rp60.000/kg. Semua jenis diklasifikasikan sebelum dijual ke mitra.
Ketua BSS RW 08, Acing Mamim, menyampaikan bank sampah sudah memiliki lebih dari 300 nasabah. “Nasabah berasal dari 14 RT. Kami juga mengembangkan program UP2K untuk hasil sampah tertentu,” ujarnya.
Program UP2K mendaur ulang sebagian sampah menjadi produk kreatif. Warga memanfaatkannya untuk membuat barang bernilai jual. Inisiatif ini memperkuat ketahanan ekonomi warga di tengah tantangan lingkungan.
Bank Sampah Jadi Alat Tukar dan Tabungan
Warga di RW 05 Sunter Agung, Jakarta Utara, turut merasakan dampak nyata dari bank sampah. Di Bank Sampah Sunter Muara (BSSM), sampah menjadi alat tukar berbagai layanan penting.
Limbah yang terkumpul dapat ditukar dengan layanan kesehatan gratis, token listrik, sembako, hingga ditabung dalam bentuk emas. Salah satu warga, Tri Lestari, telah menabung emas hingga 12 gram dari sampah rumah tangga.
Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mendukung penuh optimalisasi bank sampah. Menurutnya, gerakan ini bisa mengurangi tekanan terhadap TPST Bantargebang. “Ini juga bermanfaat secara ekonomi bagi warga,” tegas Yuke.
Yuke menekankan pentingnya edukasi dan partisipasi publik. Bank sampah akan menjadi pusat gerakan lingkungan berbasis komunitas. Ia berharap bank sampah hadir di setiap RW Jakarta.
Anggota Komisi B DPRD DKI, Francine Widjojo, juga menyoroti pentingnya keterlibatan rumah tangga. Ia mengatakan, pengolahan optimal tidak akan berjalan tanpa kebiasaan memilah dari rumah.
Menurut Francine, masyarakat perlu dilatih memilah sampah sejak dini. Langkah itu akan mendorong pengurangan signifikan volume sampah menuju TPA. Bank sampah menjadi solusi yang tepat dan terjangkau.





