Suriah Dilanda Kekeringan Sungai Eufrat Terburuk dari 35 Tahun
Raqqa, EKOIN.CO – Krisis air semakin parah dengan terjadinya kekeringan Sungai Eufrat di Suriah yang memukul kehidupan warga dan sektor pertanian. Peristiwa ini memaksa ribuan orang di wilayah timur laut untuk meninggalkan rumah, di tengah menurunnya curah hujan, kerusakan infrastruktur irigasi, serta berkurangnya pasokan air dari hulu sungai. Kondisi tersebut dilaporkan pada Selasa (5/8/2025) oleh JFeed.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2
Kekeringan terburuk dalam puluhan tahun terakhir itu telah menghancurkan ketahanan pangan di Suriah. Ratusan ribu warga desa kehilangan sumber penghidupan dan terpaksa mengungsi ke daerah lain demi bertahan hidup.
Permukaan Sungai Eufrat kini berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Menurut laporan, tiga faktor utama yang memicu kondisi ini adalah pembangunan bendungan di wilayah hulu Turkiye, rusaknya infrastruktur irigasi, serta curah hujan yang anjlok sejak 2021.
Data menunjukkan bahwa curah hujan antara 2021–2023 menjadi yang terendah dalam 35 tahun terakhir. Dampaknya terasa di sektor pertanian, yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian pedesaan.
Ketika sungai surut, warga Desa Al Bukhamid dekat Raqqa sempat mendapat kabar bahwa batu berkilau menyerupai emas muncul di tepi sungai. Harapan pun muncul, membuat banyak warga membawa sekop dan cangkul untuk menggali.
Namun, kenyataan berkata lain. Batu-batu tersebut bukan emas, melainkan pirit, mineral yang sering disebut “emas palsu” karena kilauannya. Meski memiliki kegunaan industri, seperti produksi asam sulfat dan penghantar listrik, nilainya jauh di bawah emas.
Bagi warga yang tengah terhimpit kesulitan ekonomi, pirit tetap dikumpulkan meski hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Penemuan ini menjadi simbol rapuhnya harapan di tengah krisis iklim dan lemahnya dukungan negara.
Sungai yang dulunya menjadi nadi kehidupan kini berubah menjadi hamparan debu. Aliran air yang tersisa tidak lagi mampu menghidupi pertanian dan kebutuhan sehari-hari penduduk sekitar.
Dampak Kekeringan Sungai Eufrat pada Pertanian
Dampak langsung kekeringan Sungai Eufrat terlihat jelas di provinsi Raqqa, Hasakah, dan Deir ez-Zor. Lahan pertanian yang dulu subur kini mengering dan retak, memicu penurunan produksi gandum hingga 70 persen.
Bersamaan dengan itu, luas lahan terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 1,2 juta hektar. Para petani terpaksa meninggalkan tanah mereka karena tidak lagi dapat ditanami.
Pembangunan bendungan di hulu yang dilakukan Turki disebut telah menurunkan pasokan air ke Suriah hingga 60 persen. Penurunan ini memengaruhi suplai air irigasi ke berbagai wilayah pertanian utama.
Di sisi lain, infrastruktur irigasi yang rusak akibat konflik berkepanjangan membuat distribusi air menjadi tidak merata. Banyak saluran irigasi yang terbengkalai dan tidak lagi berfungsi.
Produksi pangan yang menurun drastis mengancam ketahanan pangan nasional Suriah. Lembaga kemanusiaan memperingatkan bahwa jutaan orang dapat menghadapi kelaparan jika situasi ini tidak segera diatasi.
Krisis Kemanusiaan dan Perpindahan Penduduk
Selain kerugian ekonomi, kekeringan Sungai Eufrat telah memicu krisis kemanusiaan. Lebih dari 350.000 orang dilaporkan mengungsi akibat dampak langsung kekeringan berkepanjangan.
Pengungsi banyak berasal dari desa-desa yang sepenuhnya bergantung pada air sungai untuk pertanian dan kebutuhan sehari-hari. Perpindahan massal ini menambah tekanan pada wilayah tujuan yang sudah kekurangan sumber daya.
Kondisi ini diperburuk oleh konflik geopolitik yang membatasi upaya bantuan internasional. Banyak daerah yang sulit dijangkau oleh organisasi kemanusiaan karena faktor keamanan.
Para pengungsi mengandalkan bantuan makanan dan air bersih dari lembaga-lembaga bantuan. Namun, distribusi sering terhambat oleh medan dan situasi politik yang rumit.
Kekeringan yang terjadi saat ini menjadi peringatan akan dampak nyata perubahan iklim. Dengan kombinasi faktor alam dan kebijakan politik, Sungai Eufrat yang pernah menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi cerminan krisis yang berkepanjangan.Menghadapi krisis seperti ini, pemerintah dan lembaga internasional perlu memperkuat kerja sama dalam pengelolaan sumber daya air lintas negara. Negosiasi dengan Turki terkait aliran air Sungai Eufrat menjadi langkah penting yang harus dilakukan.
Investasi dalam perbaikan infrastruktur irigasi dapat membantu memulihkan sebagian lahan pertanian yang rusak. Tanpa langkah ini, produksi pangan akan terus menurun dan memperburuk kelaparan.
Pendidikan dan pelatihan bagi petani mengenai teknik konservasi air dapat menjadi solusi jangka panjang. Metode pertanian yang efisien air dapat membantu mengurangi ketergantungan pada aliran sungai.
Bantuan kemanusiaan yang cepat dan tepat sasaran sangat diperlukan untuk mencegah memburuknya situasi pengungsi. Dukungan ini harus disertai dengan perlindungan terhadap kelompok rentan.
Kekeringan Sungai Eufrat menjadi pengingat bahwa krisis air dapat menjadi ancaman besar bagi perdamaian dan stabilitas kawasan. Kerja sama regional dan internasional menjadi kunci dalam mencegah krisis serupa di masa depan. (*)























Tinggalkan Balasan