Jakarta, EKOIN.CO – Tentara Nigeria melancarkan serangan darat dan udara pada Senin (11/8/2025) di wilayah barat laut dan tengah, menewaskan lebih dari 100 bandit. Aksi ini merupakan respons atas teror yang telah berlangsung bertahun-tahun oleh geng-geng kriminal yang meresahkan warga. Aksi para bandit ini mencakup penyerbuan desa, penculikan untuk tebusan, dan pembakaran rumah setelah melakukan penjarahan.
Dilansir dari kantor berita AFP, badan pemantauan konflik yang didirikan untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa militer Nigeria telah melakukan serangan yang dikoordinasikan dengan baik. Salah satu lokasi serangan berada di negara bagian Zamfara, di mana sebuah jet tempur menggempur kamp hutan Makakkari yang menjadi tempat berkumpulnya lebih dari 400 bandit. “Serangan militer sebagai respons terhadap banditisme berturut-turut, terutama penculikan, di negara bagian tersebut pada bulan sebelumnya,” demikian bunyi laporan dari badan pemantau PBB. Laporan tersebut menambahkan, “Setidaknya lebih dari 100 tewas.”
Krisis bandit ini, yang bermula dari perselisihan terkait hak atas tanah dan air antara penggembala dan petani, telah berevolusi menjadi kejahatan terorganisir. Geng-geng kriminal tersebut memanfaatkan minimnya kehadiran pemerintah di pedesaan, menjadikan pencurian ternak dan penculikan sebagai sumber pendapatan utama. Mereka bahkan menarik ‘pajak’ dari para petani dan penambang. Akibatnya, masalah gizi buruk di wilayah barat laut Nigeria memburuk karena banyak warga meninggalkan lahan pertanian mereka demi menghindari serangan.
Meskipun militer telah dikerahkan untuk memerangi geng kriminal sejak tahun 2015 dan pemerintah negara bagian Zamfara membentuk milisi dua tahun lalu, kekerasan masih terus terjadi. Bahkan, pada bulan Juli, pasukan Nigeria juga telah menewaskan setidaknya 95 anggota geng bersenjata dalam baku tembak serta serangan udara di negara bagian Niger. Akan tetapi, para bandit telah menyebar dari wilayah barat laut ke Nigeria tengah, menyebabkan militer kewalahan. Ditambah lagi, kelompok-kelompok bandit tersebut, yang pada dasarnya termotivasi oleh uang, diketahui mulai menjalin kerja sama dengan kelompok jihadis di Nigeria, yang telah melancarkan pemberontakan bersenjata selama 16 tahun di wilayah timur laut.





