Jakarta, 13 Agustus 2025 — EKOIN.CO –
Belakangan ini, video pelatih lumba-lumba dimakan paus menjadi viral dan ramai dibicarakan di media sosial, terutama TikTok dan Facebook. Video ini menampilkan sosok pelatih bernama Jessica Radcliffe yang dikabarkan tewas mengenaskan setelah diserang paus orca saat pertunjukan lumba-lumba. Berita ini memicu duka dan kemarahan jutaan warganet. Namun, setelah dilakukan penelusuran, terungkap bahwa video pelatih lumba-lumba dimakan paus tersebut adalah hoaks dan sosok Jessica Radcliffe tidak pernah ada.
Baca Juga : Hoaks Video Paus Orca Serang Pelatih Lumba-lumba
Video pelatih lumba-lumba dimakan paus ini dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat canggih sehingga tampak nyata dan meyakinkan. Tidak hanya sosok Jessica, tetapi juga lokasi yang disebut “Pacific Blue Marine Park” ternyata fiktif. Ini menunjukkan bahwa cerita dan video tersebut sepenuhnya rekayasa digital.
Jessica Radcliffe: Fakta di Balik Hoaks
Jessica Radcliffe diklaim sebagai pelatih mamalia laut berusia 23 tahun yang meninggal setelah diserang paus orca. Namun, tidak ditemukan data resmi, catatan media, atau sumber terpercaya yang mengonfirmasi keberadaan Jessica. Penyelidikan media internasional mengungkap bahwa video tersebut dibuat dengan teknik AI yang menghasilkan gambar dan suara yang tidak alami, seperti gerakan kaku dan suara narasi datar.
Nama taman laut yang disebut juga tidak ada dalam daftar lokasi resmi taman laut di seluruh dunia. Semua elemen tersebut disusun untuk menciptakan kisah tragis yang mengelabui publik. Video ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana sebuah video pelatih lumba-lumba dimakan paus yang palsu bisa viral dan dipercaya banyak orang?
Baca Juga : Teknologi AI dan Dampaknya pada Hoaks Modern
Psikologi dan Algoritma Media Sosial Penyebab Viral
Video pelatih lumba-lumba dimakan paus ini menyentuh emosi kuat seperti ketakutan dan simpati, dua faktor utama yang membuat sebuah konten cepat viral. Media sosial dengan algoritmanya cenderung menyebarkan konten yang memancing reaksi emosi besar agar lebih banyak ditonton dan dibagikan.
Selain itu, minimnya literasi digital dari pengguna membuat mereka mudah percaya pada video yang tampak realistis, tanpa menyadari adanya rekayasa AI di baliknya. Akibatnya, berita palsu tersebut tersebar cepat dan luas, menimbulkan kebingungan dan kepanikan.
Baca Juga : Psikologi Viral Hoaks di Media Sosial
Langkah Mengatasi Penyebaran Hoaks
Kasus video pelatih lumba-lumba dimakan paus ini menunjukkan urgensi literasi digital yang harus ditingkatkan. Pemerintah, media, dan platform sosial perlu bersinergi meningkatkan edukasi agar masyarakat kritis dalam menyikapi konten viral.
Peningkatan teknologi deteksi hoaks juga harus diprioritaskan oleh penyedia media sosial. Publik diharapkan tidak langsung menyebarkan konten tanpa verifikasi agar tidak ikut memperparah penyebaran informasi palsu.
Baca Juga : Literasi Digital Kunci Melawan Hoaks
Video pelatih lumba-lumba dimakan paus yang viral adalah hasil rekayasa teknologi AI dan hoaks. Viralitasnya didukung oleh faktor psikologis dan algoritma media sosial. Literasi digital menjadi kunci untuk mencegah penyebaran konten palsu serupa.
- Cermati sumber berita sebelum percaya atau membagikan.
- Gunakan layanan cek fakta dari media terpercaya.
- Tingkatkan pemahaman literasi digital di lingkungan sekitar.
- Dukung inisiatif pemerintah dan komunitas dalam edukasi digital.
- Laporkan konten mencurigakan ke platform media sosial.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





