EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda BERANDA
Cukai Minuman Berpemanis Raup 3,9 Triliun Rupiah

Cukai Minuman Berpemanis Raup 3,9 Triliun Rupiah

Cukai minuman berpemanis berpotensi menyumbang Rp3,9 triliun per tahun. Kebijakan ini juga diharapkan menekan konsumsi gula berlebihan.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
13 Agustus 2025
Kategori BERANDA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, EKOIN.CO – Cukai minuman berpemanis dinilai berpotensi menyumbang penerimaan negara hingga Rp3,9 triliun per tahun. Temuan ini diungkap Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang mendorong pemerintah segera mengimplementasikan kebijakan tersebut, tak hanya untuk memperkuat pendapatan fiskal, tetapi juga untuk menekan konsumsi gula berlebihan di masyarakat.
(Baca Juga : Cukai Minuman Berpemanis dan Kesehatan)

Peneliti Ekonomi CELIOS, Jaya Darmawan, mengatakan konsumsi minuman berpemanis di Indonesia mengalami tren peningkatan setiap tahun, sejalan dengan melonjaknya kasus obesitas dan diabetes. Menurutnya, penerapan cukai ini dapat menjadi instrumen ganda bagi negara.

“Cukai ini sifatnya berbeda dengan pajak biasa karena sekaligus mendorong perubahan perilaku konsumen agar lebih sehat,” ujar Jaya Darmawan.

Potensi Penerimaan Cukai Minuman Berpemanis

Data Kementerian Kesehatan mencatat, konsumsi gula dari minuman kemasan di Indonesia telah mencapai sekitar 780 juta liter per tahun. Dengan pengenaan tarif cukai yang tepat, CELIOS memperkirakan potensi penerimaan negara mencapai Rp3,9 triliun per tahun.
(Baca Juga : Potensi Cukai Minuman Berpemanis)

Jaya menjelaskan, kebijakan ini harus didukung ketentuan teknis yang jelas, terutama mekanisme penghitungan kadar gula yang akan menjadi objek cukai. Hal ini untuk memastikan kebijakan berjalan efektif, adil, dan tidak tumpang tindih dengan regulasi yang sudah ada.

Selain itu, CELIOS menilai pemerintah perlu merancang regulasi yang tidak hanya mengejar target penerimaan, tetapi juga mengedepankan aspek kesehatan publik. Pengenaan cukai diharapkan dapat menurunkan konsumsi gula, sehingga risiko penyakit kronis bisa ditekan.

Berita Menarik Pilihan

Stadion Indomilk Tak Lagi Angker bagi Macan Kemayoran, Persija Pulang Bawa Kemenangan Mutlak

BSI Maslahat Dukung Pendidikan Lewat Bantuan Rp6 Miliar di IPB

Keseimbangan Tujuan Fiskal dan Kesehatan

Menurut Jaya, penerapan cukai minuman berpemanis membutuhkan keseimbangan antara kepentingan fiskal negara dan upaya menyehatkan masyarakat. Tanpa regulasi yang tepat, kebijakan ini berpotensi tidak efektif.
(Baca Juga : Kebijakan Cukai dan Fiskal)

CELIOS menegaskan, cukai minuman berpemanis bisa menjadi salah satu strategi fiskal penting untuk memperluas basis penerimaan negara di tengah tekanan ekonomi global.

Jaya juga menyoroti perlunya edukasi publik mengenai bahaya konsumsi gula berlebihan. Langkah ini dinilai akan mendukung efektivitas kebijakan, sehingga masyarakat memahami tujuan pengenaan cukai bukan semata untuk menambah beban biaya.

Dalam pandangan CELIOS, kombinasi regulasi cukai yang tepat dan kampanye edukasi kesehatan akan menghasilkan dampak ganda: pendapatan negara bertambah dan kualitas kesehatan publik meningkat.
(Baca Juga : Edukasi Cukai Minuman)

Selain itu, pemerintah diharapkan melakukan koordinasi lintas kementerian agar kebijakan ini terintegrasi, mulai dari penetapan tarif, pengawasan, hingga pemanfaatan dana yang terkumpul.

Dengan demikian, penerimaan dari cukai minuman berpemanis dapat diarahkan untuk program kesehatan preventif, seperti penyuluhan gizi, fasilitas olahraga, dan kampanye pola hidup sehat.

Menurut CELIOS, keberhasilan penerapan cukai ini dapat menjadi contoh bagi kebijakan fiskal lain yang menggabungkan aspek pendapatan negara dan kesehatan masyarakat.
(Baca Juga : Kebijakan Fiskal dan Kesehatan)

Jaya menilai, jika pemerintah dapat memastikan transparansi penggunaan dana cukai, maka dukungan publik terhadap kebijakan ini akan meningkat.

Kebijakan cukai minuman berpemanis juga diharapkan dapat mendorong industri minuman melakukan reformulasi produk dengan kadar gula lebih rendah.

Bila hal ini terjadi, persaingan industri akan bergeser ke arah yang lebih sehat, di mana produsen saling berlomba menghadirkan produk yang aman bagi konsumen.

Tak hanya itu, kebijakan ini juga dapat menekan biaya kesehatan jangka panjang yang dikeluarkan pemerintah akibat penyakit terkait gula.
(Baca Juga : Pengeluaran Kesehatan Akibat Gula)

Ke depan, CELIOS berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penerapan cukai, tetapi juga pada kebijakan pendukung yang mengubah perilaku konsumsi secara berkelanjutan.

Dengan dukungan regulasi yang tepat, edukasi publik yang masif, dan transparansi pemanfaatan dana, cukai minuman berpemanis diyakini dapat memberi manfaat ganda bagi negara dan masyarakat.


Penerapan cukai minuman berpemanis berpotensi menjadi strategi fiskal yang efektif, menghasilkan penerimaan negara signifikan dan sekaligus memperbaiki kesehatan masyarakat.

Langkah ini dinilai mampu menekan konsumsi gula berlebihan yang menjadi pemicu penyakit kronis seperti obesitas dan diabetes.

Namun, kesuksesan kebijakan ini bergantung pada kejelasan regulasi teknis, transparansi pemanfaatan dana, dan kampanye edukasi publik yang konsisten.

Pemerintah perlu memastikan koordinasi lintas sektor agar tujuan fiskal dan kesehatan tercapai secara seimbang.

Jika dijalankan dengan baik, kebijakan ini dapat menjadi model pengelolaan fiskal yang berorientasi pada kesehatan masyarakat. (*)


Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v


 

 

Tags: Celioscukai minuman berpemaniskebijakan fiskalkesehatankonsumsi gulapenerimaan negara
Post Sebelumnya

Ribuan Ton Gula Petani Tak Laku karena Bocoran Rafinasi

Post Selanjutnya

BKN dan Kemenag Bahas Pengembangan SDM ASN

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Kemenangan 2-0 ini membawa Macan Kemayoran naik ke posisi dua klasemen sementara BRI Super League. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Stadion Indomilk Tak Lagi Angker bagi Macan Kemayoran, Persija Pulang Bawa Kemenangan Mutlak

oleh Danang F Pradhipta
30 Januari 2026
0

​"Kami datang dengan kepercayaan diri tinggi. Kami tahu main di sini (Tangerang) selalu sulit, tapi hari ini efektivitas penyelesaian akhir...

BSI Maslahat dan IPB Perkuat Akses Pendidikan dan Sarana Keagamaan bagi Mahasiswa. Sumber dok bsimaslahat.or.id

BSI Maslahat Dukung Pendidikan Lewat Bantuan Rp6 Miliar di IPB

oleh Agus DJ
28 Januari 2026
0

Bogor, Ekoin.co - BSI Maslahat Dukung Pendidikan di Indonesia dengan melakukan kolaborasi strategis bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Institut...

Kehadiran konsep hiburan tradisional di tengah kawasan elite ini memicu perdebatan luas terkait etika ruang publik dan legalitas perizinan usaha di awal tahun 2026. (Ekoin.co/Ilustrasi/Istimewa)

PIK 2 Rasa Pantura: Ketika Kawasan Elit Jakarta Utara Tergoda ‘Servis’ Kopi Pangku

oleh Admin EKOIN.CO
23 Januari 2026
0

Di satu sisi, fenomena ini dianggap sebagai keunikan urban, namun di sisi lain, desakan untuk penertiban mulai bermunculan seiring dengan...

Ilustrasi tumpukan emas batangan Logam Mulia Antam di Jakarta. Per Kamis (22/1/2026),

Harga Emas Antam Turun Rp15.000, Investor Jangka Pendek Diminta Waspada

oleh Hasrul Ekoin
22 Januari 2026
0

Misalnya, mereka yang membeli emas pada 22 Januari 2025 di harga Rp 1.606.000 per gram kini masih menikmati yield sebesar...

Post Selanjutnya
BKN dan Kemenag Bahas Pengembangan SDM ASN

BKN dan Kemenag Bahas Pengembangan SDM ASN

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.