EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS EKONOMI
Tarif Karbon ASEAN: Jalan Menuju Ekonomi Hijau Sekaligus Menopang Industri Kawasan

Tarif Karbon ASEAN: Jalan Menuju Ekonomi Hijau Sekaligus Menopang Industri Kawasan

Kawasan Asia Tenggara menghadapi krisis iklim yang nyata, yang mendorong perlunya penerapan skema tarif karbon untuk mengendalikan emisi. Meskipun kebijakan ini berpotensi meningkatkan biaya bagi industri, simulasi menunjukkan bahwa jika digabungkan dengan investasi pada energi terbarukan dan pendauran ulang pendapatan, tarif karbon justru dapat membuka jalan menuju transformasi ekonomi hijau, memperkuat daya saing, dan menciptakan pasar kerja baru. Harmonisasi kebijakan antarnegara ASEAN menjadi sangat penting untuk menghindari fenomena belanja karbon dan memastikan efektivitas kebijakan di seluruh kawasan.

Ray oleh Ray
14 Agustus 2025
Kategori EKONOMI, ENERGI, INDUSTRI, INFRASTRUKTUR, INTERNASIONAL, PERISTIWA
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Krisis iklim kini bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan realitas yang nyata dirasakan di Asia Tenggara. Suhu ekstrem di Bangkok, banjir di Manila, dan kekeringan di Jawa menjadi bukti nyata dampak perubahan iklim. Jika tidak ada langkah signifikan, proyeksi emisi karbon di kawasan ini akan mencapai empat miliar ton per tahun sebelum 2040. Maka, skema harga karbon muncul sebagai instrumen vital yang dapat mengendalikan emisi sambil tetap menopang pertumbuhan ekonomi.

Meskipun skema ini berpotensi memberikan dampak positif, penerapannya juga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait beban terhadap sektor manufaktur. Sebuah simulasi menunjukkan bahwa penerapan harga karbon seragam sebesar 80 dolar AS per ton di seluruh negara ASEAN dapat menekan emisi hingga 13% dan menghemat devisa dari impor energi lebih dari 60 miliar dolar AS per tahun. Namun, di sisi lain, simulasi ini juga memproyeksikan kenaikan tarif listrik hingga 15% dan potensi penurunan daya saing ekspor untuk industri tertentu, seperti logam di Vietnam, elektronik di Malaysia, serta petrokimia di Thailand.

Namun demikian, skenario yang lebih komprehensif memberikan secercah harapan baru. Saat harga karbon disandingkan dengan percepatan pembangunan pembangkit listrik terbarukan dan dihubungkan melalui ASEAN Power Grid, lonjakan tarif listrik dapat ditekan menjadi 11%. Lebih jauh lagi, jika 40% dari pendapatan tarif karbon dialokasikan untuk subsidi teknologi hijau dan pelatihan ulang tenaga kerja, industri berbasis elektronik dan kendaraan listrik dapat meningkatkan ekspor hingga 1 miliar dolar AS per tahun. Dengan demikian, harga karbon dapat menjadi katalisator bagi transformasi ekonomi hijau, bukan sekadar hambatan.

Indonesia, bersama negara-negara ASEAN lainnya, telah memulai perjalanan ini. Singapura, misalnya, telah menaikkan pajak karbonnya, sementara Vietnam sedang dalam tahap uji coba pasar karbon nasional. Indonesia sendiri sudah mengoperasikan skema perdagangan emisi untuk 146 pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara, sedangkan Malaysia dan Thailand menargetkan peluncuran mekanisme serupa pada tahun 2025. Namun, keberagaman kebijakan ini berisiko menciptakan fenomena “belanja karbon,” di mana perusahaan pindah ke negara dengan tarif lebih rendah, yang pada akhirnya akan melemahkan efektivitas kebijakan regional. Oleh karena itu, harmonisasi kebijakan menjadi kunci.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, terdapat empat prinsip dasar yang dapat menjadi fondasi bagi desain tarif karbon ASEAN. Pertama, penerapannya harus bertahap dan membedakan karakter sektor, dengan memberikan izin emisi gratis di awal untuk industri padat energi. Kedua, seluruh pendapatan dari tarif karbon harus didaur ulang untuk mendanai efisiensi energi, pelatihan ulang tenaga kerja, dan subsidi listrik rumah tangga miskin. Ketiga, harga karbon harus terhubung dengan jaringan listrik lintas negara, yang memungkinkan interkoneksi energi terbarukan antarnegara. Terakhir, penetapan harga dasar regional yang jelas dan bertahap akan menciptakan kerangka kerja yang adil bagi semua negara.

Berita Menarik Pilihan

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

Indonesia memiliki peran penting dalam implementasi kebijakan ini. Dengan potensi penerimaan negara hingga Rp120 triliun per tahun dari tarif karbon, dana tersebut dapat digunakan untuk mendanai proyek energi terbarukan dan menyambungkan listrik ke jutaan rumah tangga desa. Di sisi lain, harga karbon juga berfungsi sebagai alat pertahanan dagang di tengah mekanisme penyesuaian perbatasan karbon yang diterapkan oleh Eropa. Dengan desain kebijakan yang cerdas, adil, dan transparan, Indonesia serta negara-negara ASEAN lainnya dapat membuktikan bahwa melindungi iklim dapat berjalan beriringan dengan menjaga pertumbuhan ekonomi dan daya saing industri.

Tags: ASEANASEAN Power GridCarbon Border Adjustment Mechanismdaya saingekonomi hijauemisienergi terbarukanharmonisasi kebijakanindonesiaindustrikebijakan lingkungankrisis iklimpajak karbonperdagangan emisitarif karbon
Post Sebelumnya

Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Terbesar Senilai Rp30 Miliar

Post Selanjutnya

Subsidi Energi Meningkat, Kinerja Ekonomi Tak Terdongkrak: APBN di Ujung Tanduk

Ray

Ray

Berita Terkait

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung bersama Inspektorat DKI Jakarta Dhany Sukma. (Foto: Ridwansyah/ekoin.co)

Pramono Terbitkan Pergub Efisiensi Energi dan Air Hadapi Perubahan Iklim

oleh Noval Verdian
7 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang Efisiensi Energi dan...

Proses pembongkaran salah satu struktur beton tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Gubernur Pramono Anung menargetkan percepatan pengerjaan guna segera memulai penataan pedestrian dan taman di kawasan strategis Kuningan. (Foto: Istimewa)

Belasan Tahun Mangkrak, Tiang Beton Monorel di Jantung Jakarta Akhirnya Mulai Dibersihkan

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

“Setelah melihat kondisi lapangan, pengerjaan harus dipercepat. Sekarang bisa empat hingga lima tiang sehari,” kata Pramono di Hotel Aryaduta Menteng,...

DPRD mendorong Pemprov DKI untuk tetap fokus pada pengentasan kemiskinan dan layanan dasar meski tengah menghadapi tantangan stabilitas fiskal daerah. (Foto: Humas DPRD DKI/Ekoin.co)

Jakarta Membaik tapi Masih Timpang, Yuke Yurike Soroti Kesenjangan Antargenerasi yang Lebar

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Ia menilai perencanaan program daerah tidak bisa berjalan parsial, melainkan harus dikunci agar sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional...

Ilustrasi pertemuan diplomatik tingkat tinggi antara AS dan Iran di Oman. Perundingan yang dimulai Jumat (6/2/2026)

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS-Iran Bertemu di Oman, Trump Tebar Ancaman Jika Negosiasi Nuklir Gagal

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Bagi Iran, perundingan kali ini disebut sebagai upaya mempertahankan hak nasional sekaligus membuka ruang kesepahaman baru.

Post Selanjutnya
Subsidi Energi Meningkat, Kinerja Ekonomi Tak Terdongkrak: APBN di Ujung Tanduk

Subsidi Energi Meningkat, Kinerja Ekonomi Tak Terdongkrak: APBN di Ujung Tanduk

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.