NEW YORK, EKOIN.CO – Lonjakan tarif impor yang membebani rantai pasok Amerika Serikat diperkirakan akan mendorong inflasi konsumen naik sepanjang sisa 2025. Meski data terbaru menunjukkan inflasi yang relatif jinak, sejumlah ekonom menilai dampak penuh dari kebijakan ini baru akan terasa dalam beberapa bulan ke depan.
Gabung WA Channel EKOIN
Goldman Sachs memproyeksikan tekanan inflasi akibat tarif akan meningkat seiring habisnya stok barang pra-kebijakan, melonjaknya tarif efektif, serta enggannya perusahaan menanggung beban biaya. Konsumen diperkirakan akan menghadapi harga yang lebih tinggi di berbagai sektor.
Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di JPMorgan Chase, memperkirakan tarif dapat memangkas 1% PDB dan menambah inflasi hingga 1,5%. “Sebagian sudah terjadi, tetapi ketidakpastian soal seberapa besar biaya akan diteruskan ke konsumen masih besar,” ujarnya, dikutip dari CNBC International.
Presiden Donald Trump bahkan ikut menanggapi laporan Goldman Sachs yang memprediksi tekanan tarif akan berlangsung hingga akhir tahun. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyarankan CEO Goldman Sachs mempertimbangkan pemecatan ekonom pembuat analisis tersebut.
Prediksi Inflasi Naik Seiring Efek Tarif Meluas
Data menunjukkan tarif efektif kini mendekati 18%, melonjak dari 3% di awal tahun. Brian Rose, ekonom senior UBS, menilai tren penurunan inflasi inti terhenti saat tarif mulai masuk ke harga ritel.
UBS memperkirakan inflasi akan terus naik perlahan karena pelaku usaha mulai meneruskan biaya kepada konsumen. Namun, inflasi perumahan yang melambat dan tekanan pada daya beli masyarakat bisa menahan sebagian dampak tarif tersebut.
Kenaikan inflasi diperkirakan tidak akan ekstrem, hanya sekitar 0,3%-0,5% per bulan. Angka itu cukup untuk mendorong inflasi inti—ukuran yang diawasi ketat Federal Reserve—ke kisaran rendah 3% hingga pertengahan 3%.
Meski demikian, para ekonom memprediksi The Fed akan mulai menurunkan suku bunga tahun ini. Pelemahan pasar tenaga kerja dan keyakinan bahwa lonjakan inflasi bersifat sementara menjadi alasan utama pelonggaran kebijakan moneter.
Risiko Tambahan dari Kebijakan Tarif Baru
Dampak tarif juga terlihat pada proyeksi pertumbuhan ekonomi. JPMorgan memperkirakan PDB akan terpangkas hampir 1%, seiring dua pertiga perekonomian yang bergantung pada konsumsi mulai melambat.
Laporan Blue Chip Economic Indicators memperkirakan pertumbuhan PDB hanya 0,85% pada paruh kedua tahun ini. Meski lebih baik dari prediksi sebelumnya 0,75%, laju ini masih menunjukkan perlambatan akibat tarif.
Risiko lain muncul dari berakhirnya pengecualian tarif de minimis pada 29 Agustus. Kebijakan yang sebelumnya membebaskan bea masuk barang bernilai di bawah US$800 ini diperkirakan akan memukul harga barang ritel secara signifikan.
Pantheon Macroeconomics memproyeksikan inflasi inti naik hingga 3,5% di akhir 2025, dengan baru seperempat dampak yang dirasakan konsumen saat ini. BNP Paribas juga mengingatkan bahwa tekanan harga akan meluas ke sektor jasa.
Indeks inflasi “lengket” Federal Reserve Cleveland—yang mencakup sewa, makan di luar, asuransi, dan perabot rumah tangga—tercatat naik ke 3,8% tahunan, tertinggi sejak Mei 2024.
Gus Faucher, Kepala Ekonom PNC, menegaskan, “Tarif akan menyebabkan inflasi lebih tinggi di bulan-bulan mendatang. Dengan CPI inti naik pada Juli, beban harga akan semakin terasa bagi konsumen.”
Kebijakan tarif baru AS diperkirakan terus memberi tekanan pada inflasi hingga akhir 2025. Data menunjukkan dampaknya mulai terlihat pada harga ritel dan daya beli masyarakat.
Proyeksi ekonomi juga mengindikasikan pertumbuhan melambat, meskipun sebagian analis menilai efeknya bersifat sementara.
Risiko tambahan dari berakhirnya pengecualian tarif de minimis bisa memperburuk tekanan harga barang konsumsi.
Meski The Fed diprediksi mulai melonggarkan kebijakan moneter, kenaikan harga tetap menjadi tantangan besar.
Kebijakan ini menuntut keseimbangan antara perlindungan industri domestik dan menjaga daya beli konsumen. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





