JAKARTA, EKOIN.CO – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas strategis nasional. Dalam pidato kenegaraan di Gedung MPR/DPR, Jumat (15/8/2025), ia menargetkan swasembada pangan dalam empat hingga lima tahun ke depan, sekaligus mengubah Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. [Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v]
Prabowo menyebut, pembangunan sektor pertanian tidak hanya soal produksi pangan, tetapi juga berkaitan dengan kesejahteraan petani, distribusi pupuk, harga gabah, dan penciptaan lapangan kerja. “Kita telah memulai langkah konkret untuk mempermudah distribusi pupuk langsung dari pabrik ke petani dan menaikkan harga beli gabah menjadi Rp6.500 per kilogram,” ujarnya.
Target Swasembada Pertanian
Sejak dilantik pada Oktober 2024, Prabowo sudah menggariskan misi swasembada pangan dan energi. Program ini mencakup pembukaan lahan pertanian baru seluas 3 juta hektare dalam lima tahun, khususnya di lahan rawa di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, dan Papua. Langkah ini dilakukan tanpa membuka hutan primer, sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan.
Khusus di Merauke, pemerintah menargetkan pengembangan 1 juta hektare food estate yang diperkirakan mampu menghasilkan 20 juta ton padi atau setara 10 juta ton beras. Hasil ini diharapkan menekan impor dan membuka peluang ekspor.
Prabowo juga menekankan pentingnya koordinasi antar kementerian agar kebijakan pertanian dari hulu hingga hilir berjalan sinkron. Menteri Pertanian, Menteri PUPR, hingga Menteri BUMN diminta bersinergi untuk memastikan proyek berjalan tepat waktu dan tepat sasaran.
Capaian Nyata di Tahun Pertama
Dalam pidatonya, Prabowo memaparkan sejumlah hasil konkret. Cadangan beras nasional kini mencapai lebih dari 4 juta ton, tertinggi dalam sejarah. Indonesia bahkan mulai mengekspor beras atas dasar kemanusiaan ke negara yang membutuhkan.
Selain itu, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 20 juta penerima, mulai dari anak sekolah, ibu hamil, hingga ibu menyusui. Program ini melibatkan lebih dari 1 juta petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM, sehingga mendorong perputaran ekonomi di desa-desa.
Program Gerakan Indonesia Menanam (Gerina) pun digalakkan untuk memperluas produksi pangan. Prabowo menyebut, “Indonesia bukan lagi bangsa penerima bantuan, tapi bangsa yang memberi bantuan,” menandai perubahan posisi Indonesia di mata dunia dalam sektor pertanian.
Ke depan, pemerintah juga akan mempercepat hilirisasi hasil pertanian agar nilai tambah dapat dinikmati petani dan mendorong industri pangan dalam negeri. Pemanfaatan teknologi pertanian modern, digitalisasi distribusi subsidi, dan riset bibit unggul menjadi pilar kebijakan baru.
Dengan kombinasi kebijakan hulu-hilir, investasi infrastruktur, dan dukungan teknologi, Prabowo optimistis target swasembada pangan dan penguatan sektor pertanian dapat tercapai sebelum akhir masa jabatannya. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





