EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Indonesia 80 Tahun Merdeka: Dari Pembangunan Fisik Menuju Fondasi Peradaban Baru

Indonesia 80 Tahun Merdeka: Dari Pembangunan Fisik Menuju Fondasi Peradaban Baru

Indonesia memasuki babak baru setelah 80 tahun kemerdekaan, beralih dari pembangunan fisik ke pembangunan sistem dan nilai.

Ray oleh Ray
20 Agustus 2025
Kategori EKOBIS, EKONOMI, ENERGI, INDUSTRI, INFRASTRUKTUR, KEUANGAN, NASIONAL, PERTANIAN, UMKM
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta, EKOIN.CO – Di sebuah halaman rumah sederhana di Pegangsaan Timur, 80 tahun yang lalu proklamasi kemerdekaan dibacakan, mengawali perjalanan panjang Indonesia. Perjalanan ini tak hanya sarat makna, tetapi juga diisi dengan berbagai tantangan, dari musim kelahiran penuh harapan hingga era perubahan global saat ini. Pembangunan yang berfokus pada infrastruktur fisik selama delapan dekade kini bertransisi ke arah pembangunan sistem dan kapasitas kolektif.

Dari masa-masa sulit pasca-kemerdekaan yang ditandai dengan reruntuhan perang dan kota yang sering gulita, Indonesia secara perlahan membangun fondasi fisik seperti pelabuhan, jalan tol, hingga jaringan listrik yang membentang hingga ke desa-desa. Transformasi ini terlihat dari peningkatan pendapatan per kapita yang melonjak dari sekitar US$ 100 di awal kemerdekaan menjadi lebih dari US$ 4.900 saat ini. Selain itu, angka kemiskinan ekstrem yang dulu menyelimuti mayoritas rakyat telah jauh berkurang, menandakan adanya perbaikan signifikan dalam kualitas hidup.

Namun, sejarah terus berputar dan kini memasuki babak baru. Setelah abad ke-20 dikenal sebagai era mesin, abad ke-21 menyambut Indonesia dengan tantangan yang berbeda. Hal ini ditandai dengan munculnya era kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, dan energi hijau. Indonesia, seperti halnya dunia, kini berada di tengah Kondratieff Spring, sebuah periode di mana inovasi tumbuh dari tanah krisis yang sebelumnya membeku. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, apakah Indonesia akan menjadi penonton atau turut menabur benih perubahan tersebut.

Pakar dari sebuah sumber berita menyebutkan bahwa pembangunan di masa depan tidak lagi bisa hanya berfokus pada materi fisik. Ia menekankan, “Jika masa lalu kita bertumpu pada baja, batu, dan aspal, maka abad ini menuntut kekuatan dari pengetahuan, kepercayaan, dan kemampuan beradaptasi.” Pernyataan ini menunjukkan pergeseran prioritas dari pembangunan fisik ke pembangunan berbasis pengetahuan dan nilai.

Terkait dengan perubahan tersebut, terdapat pula peringatan tentang potensi masalah yang menyertainya. Ekonom Joseph Schumpeter mengingatkan, setiap musim semi juga membawa creative destruction. “AI bisa memperdalam ketimpangan bila hanya dikuasai segelintir, perdagangan global makin terfragmentasi, transisi energi menimbulkan peluang sekaligus gejolak, dan sistem keuangan dunia menuntut reformasi besar di IMF, Bank Dunia, dan MDBs,” ujar seorang pengamat.

Berita Menarik Pilihan

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

Dalam menghadapi era baru ini, Indonesia dituntut untuk mengukur kemajuan dengan indikator yang lebih komprehensif. Selama 80 tahun, ketergantungan pada PDB (Produk Domestik Bruto) dianggap tidak cukup, karena angka tersebut tidak menghitung aspek penting seperti rasa aman, udara bersih, ketahanan keluarga, atau kesehatan jiwa. Oleh karena itu, diperlukan ukuran baru yang lebih manusiawi, seperti Green GDP, Inclusive Prosperity Index, dan Well-being Index, yang mengukur kemajuan secara lebih holistik.

Bung Hatta pernah mengingatkan, “Indonesia merdeka bukanlah tujuan akhir, melainkan jembatan emas untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.” Selaras dengan itu, Sjahrir juga menulis, “Kemerdekaan nasional adalah bukan pencapaian akhir, tapi rakyat bebas berkarya adalah pencapaian puncaknya.” Kedua pesan tersebut merupakan petunjuk lintas zaman yang menunjukkan bahwa membangun bangsa tidak hanya tentang mengisi kas negara, melainkan juga menumbuhkan rasa memiliki dan kepercayaan rakyat pada masa depan.

Saat ini, beberapa program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih menjadi contoh kebijakan yang memiliki arah yang jelas dan mudah dipahami oleh masyarakat. Rencana pembangunan, yang disebut sebagai “rencana gampang tapi serius,” harus bisa dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, mulai dari ibu di pasar hingga guru di desa. “Seorang ibu di pasar tidak perlu tahu istilah output gap, tapi ia ingin harga cabai tidak melonjak minggu depan. Seorang guru di desa tidak perlu tahu perdebatan moneter, tapi ia ingin ada internet agar muridnya bisa belajar dan tersedia dana untuk kesana. Itulah arti rencana gampang tapi serius: indikator yang sederhana, tapi serius nilainya bagi bangsa,” kata seorang sumber anonim.

Delapan dekade lalu, kemerdekaan terlahir dari keberanian untuk memulai. Delapan puluh tahun ke depan, kejayaan akan lahir dari keberanian untuk merancang masa depan. Musim semi baru ini telah tiba, dan benih yang ditanam hari ini akan menentukan peradaban seperti apa yang akan tumbuh di esok hari.

Tags: 80 tahunabad 21bioteknologiBung HattaBung Sjahrircreative destructionenergi hijauera AIGreen GDPInclusive Prosperity IndexKemerdekaan IndonesiaKondratieff SpringKoperasi Desa Merah PutihMakan Bergizi Gratispembangunan fisikpembangunan sistemrencana gampang tapi seriusWell-being Index
Post Sebelumnya

Remisi HUT RI Diberikan ke 18.430 Narapidana

Post Selanjutnya

10 Negara Paling Suka Korupsi di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

Ray

Ray

Berita Terkait

Pertamina mendesak percepatan izin pembebasan cukai di 120 terminal BBM guna mendukung ekspansi produk Pertamax Green yang lebih kompetitif. (Foto: Istimewa/Ekoin.co)

Demi Pertamax Green, Pertamina Lobi Kemenkeu Hapus Cukai Etanol di 120 Terminal BBM

oleh Hasrul Ekoin
6 Februari 2026
0

Pertamina saat ini memiliki ratusan titik distribusi yang berpotensi mengadopsi skema serupa apabila regulasi cukai disederhanakan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Jumat, 6 Februari 2026, ditutup anjlok signifikan di zona merah.

IHSG Kembali Tersungkur di Zona Merah pada Sesi Penutupan Pekan ini, ini Penyebabnya

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Namun tenaga itu tak bertahan lama. Tekanan jual kembali datang hingga indeks terperosok ke level terendah 7.888,17. Memasuki sesi berjalan,...

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

Post Selanjutnya
10 Negara Paling Suka Korupsi di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

10 Negara Paling Suka Korupsi di Dunia, Indonesia Peringkat Berapa?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.