JAKARTA, EKOIN.CO – Rusia menolak kehadiran NATO sebagai penjamin keamanan Ukraina dalam proses perdamaian, dan justru menilai Indonesia berpeluang berperan dalam upaya mediasi. Penegasan itu disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, dalam konferensi pers di Kedutaan Besar Rusia, Rabu (20/8). Gabung WA Channel EKOIN
Tolchenov menyebut kehadiran tentara NATO di Ukraina akan dianggap sebagai tindakan agresi. “Jika ada tentara NATO yang secara resmi berada di wilayah Ukraina, itu akan menjadi tindakan agresi belaka. Itu berarti NATO berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ini di pihak Ukraina,” ujarnya.
Rusia Tegaskan NATO Bukan Penjamin Perdamaian
Menurut Tolchenov, pembahasan soal jaminan keamanan untuk Ukraina telah dilakukan sebelumnya, namun Rusia menolak keterlibatan NATO. Ia menegaskan bahwa Rusia hanya membuka peluang kerja sama dengan negara-negara yang memiliki pendekatan konstruktif terhadap krisis di kawasan tersebut.
“Bukan dari NATO, melainkan dari beberapa negara yang memiliki posisi penting di dunia modern dan memiliki pendekatan konstruktif terhadap Rusia dan krisis di sekitar Ukraina ini,” jelasnya.
Diplomat itu menambahkan bahwa Rusia menghargai upaya negara-negara lain yang ingin berkontribusi menciptakan perdamaian di Ukraina. Ia menyinggung keberadaan kelompok internasional bernama Groups of Friends for Peace in Ukraine atau Kelompok Sahabat untuk Perdamaian.
Tolchenov menerangkan, kelompok itu terdiri dari 17 negara, termasuk Brasil, China, dan Indonesia. Sejumlah anggota telah menyatakan kesiapan menjadi mediator dalam konflik yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun tersebut.
Indonesia Dinilai Punya Peluang Jadi Mediator Perdamaian
Tolchenov menyebut Indonesia berpeluang menjadi salah satu penjamin dalam skema perdamaian Ukraina. “Dan Indonesia, sejak tahun lalu, Indonesia juga menjadi anggota Kelompok Sahabat untuk Perdamaian. Jadi mungkin beberapa dari Kelompok Perdamaian ini bisa menjadi salah satunya,” ungkapnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan sejumlah kepala negara Eropa di Gedung Putih, Senin (18/8). Pertemuan tersebut membahas jaminan keamanan bagi Ukraina apabila kesepakatan damai dengan Rusia tercapai.
Namun, detail teknis mengenai bentuk jaminan keamanan tersebut belum diumumkan. Zelensky menyebut keputusannya baru akan difinalisasi dalam waktu satu minggu hingga sepuluh hari mendatang.
Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah kehadiran pasukan NATO dalam bentuk operasi intelijen, pengawasan udara, atau dukungan dana. Meski demikian, Rusia secara tegas menolak kemungkinan itu.
Di sisi lain, Trump berjanji untuk mengoordinasikan operasi penjaga perdamaian yang melibatkan Eropa dan Ukraina. Belum ada kepastian apakah langkah tersebut akan berjalan sesuai rencana tanpa keterlibatan NATO sebagai penjamin.
Rusia melalui Tolchenov menegaskan kembali bahwa jalan perdamaian harus melibatkan negara-negara yang netral dan konstruktif, bukan blok militer seperti NATO. Sikap tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran penting dalam diplomasi internasional terkait Ukraina.
Pernyataan Rusia menegaskan sikap tegas Moskow yang menolak keterlibatan NATO sebagai penjamin keamanan Ukraina. Posisi ini memperlihatkan adanya celah bagi negara-negara netral seperti Indonesia untuk ikut berperan.
Indonesia yang telah masuk dalam Kelompok Sahabat untuk Perdamaian sejak tahun lalu dinilai berpotensi mengisi ruang diplomasi tersebut. Hal ini membuka kemungkinan bagi Jakarta untuk memperkuat peran globalnya dalam isu keamanan internasional.
Pertemuan antara Trump, Zelensky, dan pemimpin Eropa belum menghasilkan kesepakatan final. Namun pembahasan soal jaminan keamanan Ukraina menjadi tanda penting bahwa perdamaian masih terbuka.
Rusia tetap menegaskan bahwa perdamaian hanya dapat dicapai dengan keterlibatan negara yang berpihak pada stabilitas, bukan pada konfrontasi militer.
Dengan peluang ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan dan kesempatan untuk memperkuat posisi diplomasi luar negeri dalam isu Ukraina. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





