Jakarta, Ekoin.co – Indonesia kembali kehilangan sosok teladan. Meriyati Roeslani, istri almarhum Kapolri ke-5 Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, tutup usia pada Selasa (3/2/2026) pukul 13.24 WIB di Rumah Sakit Bhayangkara Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur.
Perempuan yang akrab disapa Meri Hoegeng itu menghembuskan napas terakhir dalam usia 100 tahun.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh Kepala RS Bhayangkara Polri Brigadir Jenderal Polisi Prima Heru Yulihartono.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah meninggal dunia Ibu Meriyati Hoegeng (100 tahun) pada hari Selasa, 3 Februari 2026 pukul 13.24 WIB karena sakit,” ujar Prima Heru kepada wartawan.
Sebelum wafat, Meriyati diketahui sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit milik Polri tersebut.
Meriyati Roeslani lahir di Yogyakarta, 23 Juni 1925. Ia merupakan putri dari dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe, berdarah campuran Indonesia–Belanda.
Meri juga tercatat sebagai keponakan Besar Martokoesomo, advokat pribumi pertama di Indonesia, yang menempatkannya dalam garis keluarga pejuang hukum dan keadilan sejak masa kolonial.
Babak penting dalam hidupnya dimulai saat menikah dengan Hoegeng Iman Santoso pada 31 Oktober 1946, di tengah suasana awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, terdiri atas dua putri dan satu putra.
Sepanjang hidupnya, Meri Hoegeng dikenal sebagai figur pendamping yang bersahaja, setia mendampingi suaminya dalam berbagai penugasan dinas, mulai dari Medan hingga Jakarta.
Di balik keteguhan Hoegeng sebagai polisi yang dikenal luas karena menolak gratifikasi, menentang korupsi, dan hidup sederhana, berdiri sosok Meri sebagai penopang moral dan spiritual keluarga.
Kesederhanaan Meriyati bukan sekadar citra, melainkan laku hidup. Meski berada di lingkar kekuasaan negara, ia tetap menjauh dari kemewahan dan privilese, prinsip yang membuat keluarga Hoegeng kerap disebut sebagai simbol kejujuran yang langka dalam sejarah birokrasi Indonesia.
Kepergian Meriyati Roeslani tidak hanya meninggalkan duka keluarga, tetapi juga menjadi pengingat sunyi bahwa integritas, kesetiaan, dan kesederhanaan pernah hidup nyata bukan sekadar slogan di jantung kekuasaan negara. (*)





