EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda EKOBIS
Stok Gula Petani Menumpuk Akibat Impor Berlebih Membuat Harga Gula Turun

Stok Gula Petani Menumpuk Akibat Impor Berlebih Membuat Harga Gula Turun

Impor gula berlebih membuat stok petani menumpuk. Harga gula lokal jatuh di bawah HPP, merugikan petani.

Akmal Solihannoer oleh Akmal Solihannoer
22 Agustus 2025
Kategori EKOBIS, PERTANIAN
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta EKOIN.CO – Sekitar 100 ribu ton gula petani tebu saat ini menumpuk di gudang-gudang akibat pasar tidak mampu menyerap produksi lokal. Kondisi ini diperparah oleh impor gula yang berlebih pada awal tahun 2025 dan masuknya produk etanol asing.

Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v

Ketua Umum DPN APTRI, Soemitro Samadikoen, menegaskan bahwa pada Februari 2025 pemerintah membuka keran impor gula sebesar 200 ribu ton untuk memenuhi Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). “Masalahnya ini bukan hanya kuantitas, tetapi janji tidak impor dan ternyata impor itu membuat keragu-raguan dari pelaku usaha terutama dari yang menyerap gula. Jangan-jangan nanti ada impor lagi,” ujarnya saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VI DPR, Rabu (20/8/2025).

Banjir Impor Picu Penurunan Penyerapan Gula Lokal

Akibat kebijakan impor, banyak pengusaha gula mengurangi penyerapan dari petani. Hal ini terlihat dari jatuhnya harga gula di tingkat petani di bawah Harga Patokan Petani (HPP) Rp 14.500 per kilogram. Soemitro menjelaskan, “Bulan Juni akhir dan awal Juli itu sudah terjadi gejala-gejala penawaran gula ini ada di bawah Rp 14.500. Tetapi berbagai diskusi dengan pedagang kita tawar-menawar masih bisa sebagian dipertahankan. Nah semenjak masuk di bulan Juli-Agustus ini ternyata hampir semua penawaran itu ada di bawah Rp 14.500.”

Hasil pengamatan asosiasi menunjukkan gula impor yang membanjiri pasar menjadi penyebab utama penurunan penyerapan. Gula impor ini sering berupa gula rafinasi berukuran kecil dan dikemas plastik tipis tanpa merek, dijual pedagang dengan harga yang lebih rendah dari gula petani. Soemitro menambahkan, “Kalau harganya dijual jelas kurang lebih sama sekitar Rp 17.000 – 17.500 sesuai dengan harga acuan pembelian, kenapa pedagang memilih itu kami meyakini dan menduga dengan sangat bahwa itu pasti dibeli lebih murah dari gula kami.”

Berita Menarik Pilihan

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Petani Terpukul oleh Molasis dan Etanol Impor

Selain gula, petani juga menghadapi masalah menumpuknya molasis atau tetes tebu. Produk ini lebih rentan karena bentuknya cair dan membutuhkan tempat penyimpanan khusus. “Ada yang lebih bahaya, yaitu tidak terserapnya molasis. Molasis ini bentuknya cair dan tidak bisa dipindah-pindah kecuali itu di tempat yang memenuhi syarat,” kata Soemitro.

Fenomena banjir impor etanol juga memperparah kelebihan stok molasis. Molasis yang tidak terserap menimbulkan kerugian lebih besar bagi petani dan pabrik gula dibandingkan stok gula konsumsi. Imbasnya, perekonomian petani tebu menurun karena penurunan harga dan kesulitan penjualan produk sampingan.

Menurut Soemitro, ketidakpastian kebijakan impor menyebabkan keraguan pengusaha dalam membeli gula lokal. Hal ini memengaruhi stabilitas harga di pasar. Petani berharap pemerintah meninjau kembali kuota impor dan memastikan penyerapan produksi lokal agar harga tetap sesuai HPP.

Ke depan, APTRI mendorong koordinasi yang lebih ketat antara pemerintah dan pelaku usaha untuk menyeimbangkan stok gula nasional. Langkah ini dianggap penting agar produksi petani tidak sia-sia dan tetap memberikan keuntungan yang layak.

Jika kebijakan impor terus berjalan tanpa pengaturan, kemungkinan penumpukan gula dan molasis akan terus meningkat, merugikan industri gula nasional. APTRI menekankan pentingnya strategi distribusi yang tepat serta penguatan pasar lokal untuk produk gula dan turunannya.

Petani juga diimbau untuk memanfaatkan sistem kemitraan dengan pabrik gula secara efektif agar stok dapat terserap lebih optimal. Sementara itu, pengawasan terhadap kualitas dan harga gula impor harus diperketat untuk menjaga daya saing produk lokal.

banjir impor gula dan etanol menjadi faktor utama menumpuknya stok gula dan molasis di tingkat petani. Penyerapan yang menurun menyebabkan harga di pasar tidak sesuai HPP, mengancam kesejahteraan petani.

untuk pemerintah, pengusaha, dan petani antara lain: meningkatkan koordinasi kebijakan impor, memperkuat distribusi gula lokal, mengawasi kualitas produk impor, memberikan insentif pada penyerapan lokal, dan menciptakan transparansi harga untuk menjaga stabilitas pasar.(*)


 

Tags: APTRIgulaharga gulaimpor gulamolasispetani tebu
Post Sebelumnya

Rusia Pastikan Pasok Minyak ke India Tanpa Henti Meski Tekanan AS Meningkat

Post Selanjutnya

Kuota Impor Gula Picu Dugaan Kerugian Negara Eks Dirut PPI Ungkap Laba Rp 32 Miliar

Akmal Solihannoer

Akmal Solihannoer

Berita Terkait

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

Pertumbuhan Ekonomi Jakarta Capai 5,21 Persen, Lebih Tinggi dari Pemerintah Pusat

oleh Ridwansyah
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Pertumbuhan ekonomi di Jakarta dipastikan melebih pemerintah pusat. Pasalnya berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik perekonomian Jakarta pada...

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

Akibat Gejolak Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Januari 2026 Tekor Jadi Rp2.596,66 Triliun

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Januari 2026 tetap tinggi sebesar 154,6 miliar...

IHSG Tertekan Rating Moody’s, OJK Yakinkan Pasar Fundamental Ekonomi Solid

IHSG Tertekan Rating Moody’s, OJK Yakinkan Pasar Fundamental Ekonomi Solid

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Jakarta, Ekoin.co - Moody's Investors Service (Moody's) mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level Baa2, dengan penyesuaian outlook dari Stabil menjadi Negatif. Revisi...

BI berkomitmen memperkuat sinergi dengan Program Asta Cita Pemerintah guna menjaga stabilitas makroekonomi dan menarik investasi asing di tahun 2026. (Foto: Humas BI/Ekoin.co)

Risiko Kepastian Kebijakan Menghantui, Moody’s Ubah Outlook Ekonomi Indonesia Jadi Negatif

oleh Ainurrahman
6 Februari 2026
0

Moody's juga memperkirakan bahwa rasio utang Pemerintah terhadap PDB akan tetap akan terjaga rendah di bawah peers. Namun demikian, menurut Moody's,...

Post Selanjutnya
Kuota Impor Gula Picu Dugaan Kerugian Negara Eks Dirut PPI Ungkap Laba Rp 32 Miliar

Kuota Impor Gula Picu Dugaan Kerugian Negara Eks Dirut PPI Ungkap Laba Rp 32 Miliar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.