JAKARTA, EKOIN.CO – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mencatat pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Jumat (22/8/2025), rupiah berada di level Rp16.335 per dolar AS atau melemah 0,34%. Kondisi ini menandai tren penurunan beruntun selama lima hari dan menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan pelemahan terbesar kedua di kawasan Asia. Gabung WA Channel EKOIN di sini.
Rupiah Tertekan Dolar
Dalam sepekan terakhir, rupiah telah merosot 1,11%, hanya sedikit lebih baik dari dolar Taiwan yang terkoreksi 1,16%. Sementara itu, ringgit Malaysia berada di posisi ketiga dengan pelemahan 0,36%. Sebaliknya, peso Filipina justru menjadi pemimpin penguatan dengan apresiasi 1,06% terhadap dolar AS, diikuti oleh won Korea 0,35% dan yen Jepang 0,17%.
Pergerakan beragam mata uang Asia ini terjadi di tengah dinamika indeks dolar AS (DXY). Pada awal pekan, indeks dolar sempat menguat, namun berbalik melemah tajam setelah pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell di Jackson Hole Simposium pada Jumat malam (22/8/2025) waktu Indonesia.
Indeks dolar AS akhirnya ditutup turun 0,92% ke level 97,71. Pelemahan ini memberi ruang bagi sejumlah mata uang Asia untuk menguat, meski rupiah justru tidak ikut mengambil peluang tersebut.
Sinyal The Fed dan Dampaknya
Pidato Powell yang bernada dovish memberi sinyal meningkatnya risiko pelemahan pasar tenaga kerja di AS. Hal itu mendorong ekspektasi besar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada rapat FOMC 16-17 September mendatang.
Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan bunga 25 basis poin naik menjadi 85%, lebih tinggi dari 72% sebelum pidato Powell. “Dolar jatuh, peluang pemangkasan September meningkat, dan pelaku pasar jelas bersiap untuk lebih banyak pelonggaran ke depan,” ujar Karl Schamotta, Chief Market Strategist Corpay Toronto, dikutip dari Reuters.
Namun pelemahan dolar tidak serta merta menjadi keuntungan bagi rupiah. Tekanan terhadap mata uang garuda justru berlanjut, dipengaruhi faktor eksternal dan kepercayaan pasar yang masih rapuh.
Selain itu, sentimen politik di Washington turut menambah tekanan. Presiden AS Donald Trump kembali menimbulkan ketidakpastian dengan ancaman memecat Gubernur The Fed Lisa Cook atas dugaan penyalahgunaan kredit properti. Situasi ini memperburuk tekanan terhadap greenback, namun rupiah tetap kesulitan memanfaatkan kondisi tersebut.
Analis menilai, jika tren dovish The Fed berlanjut, peluang penguatan rupiah masih terbuka dalam jangka pendek. Namun untuk saat ini, volatilitas tinggi membuat investor lebih berhati-hati.
Dengan posisi rupiah sebagai mata uang terlemah kedua di Asia, pasar menantikan langkah stabilisasi lebih lanjut dari otoritas dalam negeri. Kinerja rupiah akan sangat bergantung pada kombinasi faktor global dan strategi kebijakan domestik dalam beberapa pekan mendatang.
Rupiah kembali melemah signifikan dan menjadi salah satu yang paling tertekan di Asia. Kondisi ini terjadi meski dolar AS sendiri sedang mengalami pelemahan akibat sinyal dovish The Fed.
Pasar menilai ekspektasi pemangkasan suku bunga September mendatang akan menjadi penentu arah mata uang utama. Jika benar terealisasi, rupiah berpeluang memperoleh ruang penguatan.
Namun, ketidakpastian politik di AS dan sentimen global yang masih rapuh membuat kondisi pasar tetap tidak menentu. Investor cenderung menunggu kepastian langkah kebijakan moneter sebelum mengambil risiko lebih besar.
Dalam jangka pendek, stabilisasi rupiah sangat dipengaruhi faktor eksternal. Pemerintah dan Bank Indonesia dituntut sigap merespons dinamika global agar rupiah tidak terus terperosok.
Ke depan, langkah koordinatif dan penguatan fundamental ekonomi menjadi kunci agar rupiah mampu bertahan menghadapi tekanan pasar global. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





