Jakarta, Ekoin.co – Pameran TNI FAIR 2025 yang berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pada 20 September 2025 menarik perhatian publik dengan beragam alutsista canggih buatan dalam negeri. Salah satu yang menjadi sorotan utama adalah kehadiran drone Elang Hitam, pesawat tanpa awak berteknologi tinggi yang dikembangkan oleh PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama konsorsium lembaga strategis nasional.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Drone Elang Hitam pertama kali diperkenalkan pada Desember 2019 dan kini kembali dipamerkan dalam acara TNI FAIR 2025. Kehadiran drone ini menjadi simbol kemampuan Indonesia dalam menguasai teknologi pertahanan udara modern. Dalam pameran tersebut, ribuan pengunjung menyaksikan secara langsung bentuk fisik drone yang memiliki desain futuristik dan spesifikasi mumpuni.
BACA JUGA: Alutsista TNI Dipamerkan di TNI Fair 2025
Menurut penjelasan pihak penyelenggara, Drone Elang Hitam dikategorikan sebagai PUNA (Pesawat Udara Nir Awak) tipe MALE (Medium Altitude Long Endurance). Alat pertahanan ini dirancang khusus untuk mendukung misi pengawasan, intelijen, serta operasi militer jarak jauh.
Spesifikasi dan Keunggulan Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam memiliki dimensi panjang 8,3 meter dengan bentang sayap mencapai 16 meter dan tinggi 1,02 meter. Dengan berat kosong 575 kilogram, drone ini mampu membawa muatan hingga 300 kilogram, yang dapat difungsikan untuk berbagai peralatan militer maupun sipil.
Kecepatan maksimumnya tercatat hingga 235 kilometer per jam, sementara kecepatan jelajah stabil berada di kisaran 225 kilometer per jam. Drone ini mampu terbang nonstop selama 24 jam, menjadikannya salah satu teknologi pertahanan strategis yang efisien dalam misi jarak jauh.
Selain itu, Elang Hitam bisa beroperasi di ketinggian jelajah 3.000 hingga 5.000 meter, dengan ketinggian maksimum yang mampu dicapai hingga 7.200 meter. Dengan daya tahan penerbangan tersebut, drone ini menjadi aset penting bagi TNI dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia.
Seperti dikutip dari keterangan resmi PT Dirgantara Indonesia, drone ini juga bisa digunakan dalam misi sipil. Pemantauan maritim, pengawasan wilayah perbatasan, serta misi penanggulangan bencana menjadi beberapa contoh aplikasi non-militer yang dapat dijalankan.
Konsorsium Pengembang dan Uji Coba Terbang
Dalam pengembangannya, Drone Elang Hitam melibatkan enam institusi strategis nasional. Konsorsium tersebut terdiri dari PT Dirgantara Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Kementerian Pertahanan, TNI AU, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta PT LEN Industri.
Kolaborasi ini bertujuan memperkuat kemampuan rancang bangun teknologi Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) kelas strategis di dalam negeri. Harapannya, Indonesia mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan alutsista modern tanpa ketergantungan impor.
Sejarah penting terjadi pada 28 Juli 2025, ketika Drone Elang Hitam menjalani uji terbang perdana di Bandara Kertajati, Majalengka. Dalam kesempatan itu, drone berhasil mengudara selama 24 jam di ketinggian 20.000 kaki. Keberhasilan uji coba ini membuktikan kapasitas operasional drone sesuai dengan standar internasional.
Selain mendukung kebutuhan militer, drone ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penanganan bencana alam. Dengan daya jelajah yang panjang, Elang Hitam dapat membantu proses pemetaan wilayah terdampak bencana dalam waktu cepat.
Pameran di Monas menjadi momentum penting untuk memperkenalkan inovasi ini kepada masyarakat luas. Banyak pengunjung yang memberikan apresiasi dan merasa bangga atas kemampuan Indonesia menghasilkan teknologi sekelas Drone Elang Hitam.
Antusiasme publik terlihat dari banyaknya pengunjung yang mendokumentasikan drone melalui foto dan video. Beberapa pengunjung bahkan menyebut bahwa Indonesia kini sejajar dengan negara-negara besar dalam hal pengembangan drone berteknologi tinggi.
Kehadiran Elang Hitam juga menegaskan peran industri pertahanan dalam negeri yang semakin berkembang. PT Pindad, PT LEN Industri, serta PT DI menjadi contoh nyata sinergi perusahaan nasional dalam mendukung kemandirian alutsista.
Para pengunjung TNI FAIR 2025 tidak hanya disuguhi pameran Drone Elang Hitam, tetapi juga beragam alutsista lain, termasuk tank dan senjata produksi PT Pindad. Namun, Elang Hitam tetap menjadi pusat perhatian berkat teknologi canggih yang ditawarkannya.





