JAKARTA EKOIN.CO – PT Timah Tbk (TINS) Optimistis Capai Target Produksi 30.000 Ton Timah pada 2026. Target ini meningkat signifikan dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 yang sebesar 21.500 ton Sn. Direktur Utama PT Timah, Restu Widiyantoro, menyatakan optimisme ini berdasarkan tren pemulihan produksi sejak Mei 2025 dan strategi penertiban tambang ilegal yang sedang dijalankan.
Pemulihan Produksi dan Optimisme Pencapaian Target 2025
Pada semester pertama 2025, PT Timah mengalami penurunan produksi bijih timah sebesar 32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dari 10.250 ton menjadi 6.997 ton. Produksi logam timah juga turun 29% menjadi 6.870 ton. Namun, sejak Mei 2025, produksi mulai menunjukkan tren positif, dengan angka produksi bulanan meningkat dari 1.228 ton pada Mei menjadi 1.877 ton pada Agustus. Restu Widiyantoro optimistis target RKAP 2025 sebesar 21.500 ton dapat tercapai berkat perbaikan tata kelola dan dukungan Satgas Internal serta koperasi penambang.
Strategi Penertiban Tambang Ilegal untuk Meningkatkan Produksi
Salah satu langkah strategis yang diambil PT Timah untuk mencapai target produksi adalah penertiban tambang ilegal di wilayah Bangka Belitung. Restu menjelaskan bahwa selama ini perusahaan kesulitan bersaing dengan penambang ilegal yang tidak membayar royalti dan biaya reklamasi. Untuk itu, PT Timah membentuk Satgas Internal yang bertugas melakukan penyekatan wilayah dan penertiban tambang ilegal. Selain itu, perusahaan juga membina koperasi penambang untuk mengalihkan aktivitas penambangan ilegal menjadi legal. Saat ini, PT Timah telah membina 30 koperasi dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 200–300 koperasi dalam waktu dekat.
Peningkatan Infrastruktur dan Kolaborasi dengan Pihak Terkait
Untuk mendukung peningkatan produksi, PT Timah fokus pada pengembangan infrastruktur tambang, termasuk optimasi tambang darat dan tambang primer di Paku (Bangka Tengah) dan Batu Besi (Belitung Timur). Perusahaan juga melakukan uji coba penggunaan ponton isap produksi di laut untuk meningkatkan produktivitas. Selain itu, PT Timah bekerja sama dengan institusi lain seperti Kejaksaan, Kepolisian, dan Angkatan Laut untuk memperbaiki sistem pengamanan wilayah izin usaha pertambangan (IUP) agar aktivitas penambangan ilegal dapat diminimalisir.
Proyeksi Produksi 2026 dan Tantangan yang Dihadapi
Dengan langkah-langkah strategis yang telah diambil, PT Timah menargetkan produksi bijih timah mencapai 30.000 ton Sn pada tahun 2026. Namun, perusahaan menyadari bahwa tantangan besar masih ada, terutama terkait dengan penambang ilegal dan cuaca ekstrem yang dapat mempengaruhi operasional tambang. Restu Widiyantoro menekankan pentingnya kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pertambangan yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan optimisme dan strategi yang matang, PT Timah berkomitmen untuk meningkatkan produksi timah nasional dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





