Jakarta EKOIN.CO – Pusat perbelanjaan di berbagai kota besar Indonesia masih tampak ramai oleh pengunjung, namun banyak yang hanya sekadar berjalan-jalan atau melakukan window shopping. Fenomena ini menandakan konsumsi masyarakat belum pulih sepenuhnya meski mobilitas sudah kembali normal. Gabung WA Channel EKOIN
Menurut pengelola mal, aktivitas pengunjung meningkat dari tahun sebelumnya, tetapi transaksi tidak sebanding dengan jumlah kedatangan. Para pedagang ritel merasakan penurunan omzet yang cukup signifikan. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa daya beli rumah tangga masih tertahan.
Konsumsi Masyarakat Jadi Sorotan
Dalam laporan terbaru, sejumlah analis ekonomi menilai kondisi ini sebagai pertanda rapuhnya basis konsumsi domestik. Walau mal penuh dengan keluarga, pekerja muda, maupun wisatawan, sebagian besar pengunjung lebih banyak melihat-lihat daripada membeli barang.
Beberapa pedagang menuturkan bahwa pembelian hanya terjadi pada produk kebutuhan dasar atau promosi besar-besaran. “Orang datang ramai, tapi belanja minim. Diskon besar baru bisa menarik transaksi,” ujar salah satu pengelola toko pakaian di Jakarta.
Kementerian Perdagangan juga mencatat perlambatan penjualan ritel dalam tiga bulan terakhir. Indeks Penjualan Ritel Bank Indonesia memperlihatkan tren serupa, terutama pada produk non-pangan seperti fesyen, elektronik, dan barang mewah. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih berhati-hati.
Dampak ke Perekonomian Nasional
Ekonom menilai kecenderungan menurunnya konsumsi di pusat belanja berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Mengingat kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai lebih dari 50 persen terhadap PDB Indonesia, tren belanja yang melemah bisa menjadi hambatan bagi target pertumbuhan tahun ini.
“Jika belanja masyarakat tidak meningkat, maka perekonomian akan sulit terdorong dari sisi domestik,” kata seorang pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia menekankan bahwa pemerintah perlu menjaga daya beli dengan kebijakan yang tepat sasaran.
Sementara itu, asosiasi pengusaha ritel berharap adanya stimulus untuk menggerakkan kembali minat belanja masyarakat. Mereka meminta agar beban operasional, termasuk tarif sewa ruang ritel, bisa ditinjau ulang guna menjaga keberlanjutan bisnis.
Pihak pengelola mal menambahkan, berbagai program hiburan, festival belanja, hingga konser musik kerap digelar demi menarik pengunjung untuk tidak sekadar melihat-lihat. Meski demikian, dampaknya belum signifikan terhadap peningkatan transaksi.
Di sisi lain, konsumen sendiri mengaku lebih selektif. Beberapa mengatakan bahwa prioritas saat ini lebih ke kebutuhan sehari-hari dan tabungan, dibandingkan membeli barang sekunder. Pola belanja ini menegaskan pergeseran perilaku dalam konsumsi masyarakat.
Fenomena ramainya pengunjung mal tanpa peningkatan transaksi menggambarkan bahwa daya beli masyarakat Indonesia masih belum pulih.
Kondisi tersebut bisa menjadi pengingat bahwa konsumsi rumah tangga masih rapuh meski ekonomi terlihat stabil.
Tanpa penguatan konsumsi, target pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi terhambat.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu bekerja sama mencari solusi untuk menggerakkan kembali daya beli.
Masyarakat di sisi lain tetap dihadapkan pada kebutuhan menyeimbangkan belanja dengan kondisi ekonomi rumah tangga. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di :
https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





