Jakarta,EKOIN.CO- Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan penjelasan terkait menu burger dan spageti yang sempat disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan, menu tersebut bukan bagian dari sajian utama, melainkan selingan atas permintaan siswa.
Gabung WA Channel EKOIN untuk update berita terkini
Dadan menjelaskan, menu utama program MBG tetap berlandaskan pedoman gizi seimbang. Sementara itu, burger dan spageti hanya diberikan sesekali oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bentuk variasi agar anak-anak tidak bosan dengan sajian yang ada.
Menurutnya, kebijakan tersebut juga menyesuaikan aspirasi peserta didik. “SPPG berinisiatif membuat menu selingan berbasis permintaan siswa. Menu selingan itu hanya sesekali,” ujar Dadan.
MBG dan Variasi Menu Gizi
Program MBG dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar di Indonesia melalui penyediaan makanan sehat dan bergizi. Menu utama yang disiapkan tetap mengacu pada prinsip empat sehat lima sempurna dengan dominasi nasi, lauk pauk, sayuran, dan buah-buahan.
Meski begitu, variasi menu kadang diberikan untuk menjaga minat anak dalam mengonsumsi makanan. Dadan menyebut burger dan spageti bisa dipadukan dengan bahan lokal seperti sayur, telur, maupun daging ayam yang tetap bernilai gizi.
Ahli gizi sebelumnya menyoroti penyajian makanan cepat saji dalam program tersebut, khawatir akan menggeser esensi edukasi gizi. Namun, pihak BGN menekankan bahwa pengaturan menu tetap memprioritaskan kesehatan dan keseimbangan nutrisi.
Respons Publik dan Penjelasan Teknis
Munculnya burger dan spageti di menu MBG sempat memicu perdebatan publik. Beberapa pihak khawatir anak-anak akan terbiasa dengan makanan cepat saji. Menanggapi hal ini, Dadan memastikan makanan tersebut bukanlah standar yang dipakai setiap hari.
Ia menegaskan, variasi menu justru menjadi salah satu strategi agar peserta didik lebih semangat mengonsumsi makanan sehat. Selain itu, pengolahan burger dan spageti dalam program MBG berbeda dengan produk cepat saji di pasaran, karena dibuat dengan bahan segar dan dipantau oleh tenaga gizi.
“Tujuannya agar anak tidak jenuh. Namun kami tetap menjaga kualitas bahan dan nilai gizi yang sesuai standar,” jelasnya.
Ke depan, BGN berkomitmen memperkuat koordinasi dengan SPPG dan para ahli gizi untuk memastikan setiap menu selaras dengan tujuan program, yakni mendukung tumbuh kembang anak.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam mendukung generasi sehat, produktif, dan berdaya saing. Dadan menambahkan, keterlibatan berbagai pihak sangat penting agar kualitas implementasi semakin baik.
Dengan adanya klarifikasi ini, BGN berharap masyarakat memahami bahwa burger dan spageti dalam MBG bukan bentuk penyimpangan, melainkan variasi terbatas untuk memperkaya pengalaman makan siswa.
(*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





