Soe NTT, EKOIN.CO Ratusan siswa SD dan PAUD di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, dilaporkan keracunan usai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini menimbulkan kekhawatiran luas terhadap keamanan pangan di sekolah. Kata pamungkas: keracunan.
Lebih dari 300 siswa terindikasi menjadi korban, dan setidaknya 58 orang masih dirawat di berbagai fasilitas kesehatan hingga Sabtu pagi. Korban menjalani pengobatan di RSUD Soe, posko sekolah, serta Puskesmas kota setempat. Kapolres TTS, AKBP Hendra Dorizen, menyatakan bahwa sebagian besar sudah dipulangkan karena kondisinya membaik.
Para siswa yang mengalami keracunan menunjukkan gejala seperti mual, pusing, muntah, diare, dan sakit perut. Penanganan medis difokuskan pada penanganan gejala serta pemenuhan cairan tubuh melalui infus dan obat sesuai standar.
Setelah keracunan dilaporkan, tenda darurat didirikan oleh Polres bersama tim medis di Lapangan Puspenmas Soe untuk memberikan pertolongan cepat terhadap siswa yang tidak tertampung di rumah sakit.
Penyebab & Pengelolaan MBG
MBG untuk tiga sekolah di TTS disuplai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Soe I yang dikelola oleh Yayasan Peduli Timorana Mandiri. Menu jam makan siang tercatat berupa sop dan soto ayam. Namun, hingga kini penyebab pasti keracunan masih dalam pemeriksaan laboratorium.
Pemerintah Kabupaten TTS telah membentuk posko terpadu di RSUD Soe, kantor PRKP, Puskesmas, dan sekolah-sekolah terdampak untuk memantau korban dan koordinasi penanganan. Bupati TTS telah memerintahkan evaluasi menyeluruh terhadap pihak penyedia dapur program MBG agar tidak terjadi insiden serupa.
Direktur RSUD TTS, dr. Erwin Leo, mengatakan bahwa tim medis telah melakukan penanganan sesuai protokol, melibatkan dokter spesialis anak, dan saat ini kondisi pasien relatif stabil.
Sementara itu, instansi terkait masih menunggu hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang dikonsumsi. Pemeriksaan ini diharapkan dapat mengungkap apakah keracunan disebabkan oleh kontaminasi bakteri, racun makanan, atau faktor lain.
Insiden ini bukan satu-satu kali terjadi: di tempat lain, ditemukan ulat pada menu MBG siswa di Kota Bima, NTB, memicu keraguan publik terhadap kebersihan pengolahan makanan sekolah.
Kejadian ini memunculkan sorotan kritis terhadap pengawasan mutu dan sertifikasi pangan dalam program prioritas pemerintah. Sekolah, instansi kesehatan, serta lembaga pengelola MBG diharapkan bersinergi memperketat SOP, memeriksa rantai pasok, serta menerapkan audit kebersihan berkala.
Dalam perspektif edukatif, insiden ini menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan literasi pangan bagi siswa dan pendidik, agar kesadaran tentang higiene makanan tumbuh sejak dini.
Semoga proses penyelidikan segera rampung dan langkah korektif dapat diterapkan agar tragedi keracunan seperti ini tidak terulang di sekolah-sekolah lain.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





