EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
EKOIN.CO
Beranda PERISTIWA OPINI
Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

Oplus_131072

Jangan Biarkan Indonesia Jatuh di Kaki Mafia, atau Memilih Berdiri Mempertahankannya

Pola top down yang melekat dalam tradisi birokrasi kita membentuk jarak antara negara dan warga, meninggalkan ruang kosong yang kemudian diisi oleh kekuatan-kekuatan informal yang kian hari semakin beringas yaitu mafia politik, mafia ekonomi, mafia hukum.

Yudi Permana oleh Yudi Permana
25 November 2025
Kategori OPINI
0
A A
0
Share on FacebookShare on Twitter

Ekoin.co – Delapan puluh tahun sejak Proklamasi, republik ini terus bergerak di antara idealisme para pendiri bangsa dan realitas politik-ekonomi yang kerap mengecewakan. Pembangunan yang seharusnya menjadi alat pembebasan justru sering menempatkan rakyat sebagai objek, bukan subjek.

Pola top down yang melekat dalam tradisi birokrasi kita membentuk jarak antara negara dan warga, meninggalkan ruang kosong yang kemudian diisi oleh kekuatan-kekuatan informal yang kian hari semakin beringas yaitu mafia politik, mafia ekonomi, mafia hukum.

Kesenjangan sosial yang melebar bukan hanya statistik kering, ia adalah gejala dari konsentrasi kekuasaan yang menyempit. Oligarki tumbuh bukan semata karena kecanggihan modal, tetapi karena negara memberi ruang bagi simbiosis kekuasaan dan kapital yang sulit dibedakan batasnya.

Dari segelintir lingkar elite inilah muncul apa yang dalam kajian organized crime disebut godfather, dimana patron-patron yang mengatur garis komando, membiayai jaringan, dan mengendalikan keputusan publik dari balik layar.

Fenomena ini, seperti diuraikan dalam berbagai studi korupsi struktural dari Susan Rose-Ackerman hingga Vito Tanzi, dimana selalu bermula dari keterhubungan antara institusi lemah dan kepentingan kuat.

Berita Menarik Pilihan

Mengenal Minangkabau: Dua Kelarasan Adat, Demokrasi dan Hierarki yang Menyatu

Wilmar Group dan Ujian Nyata Kedaulatan Hukum Indonesia, Masihkah Negara Kalah?

Di Indonesia, relasi ini menemukan panggungnya pasca-reformasi ketika demokrasi elektoral berkembang lebih cepat dibanding kapasitas kelembagaan negara untuk mengawasinya. Negara membuka pintu, tetapi lupa menempatkan penjaga. Dalam kekosongan itulah bayang-bayang mafia merasuk.

Kekacauan tata kelola pemerintahan satu dekade terakhir memperlihatkan bagaimana kelompok-kelompok informal itu bukan lagi sekadar rumor konspiratif. Mereka telah membentuk struktur paralel yang operasional dan efektif, punya hierarki, sistem komunikasi, sumber daya, bahkan mekanisme intimidasi yang sistematis.

Mafia menyerupai “negara dalam negara”, sebuah entitas yang bekerja melampaui batas moral, hukum, dan demokrasi, tetapi memanfaatkan seluruh instrumen negara untuk memperkuat dirinya.

Berbagai kasus besar memperlihatkan pola yang sama seperti dugaan korupsi pertamina, skandal tata niaga timah, manipulasi industri sawit, tambang ilegal yang tak pernah padam, hingga praktik penggelapan pajak dan political laundering di lingkar kekuasaan.

Kesemuanya menampilkan kombinasi serupa dari pejabat negara, aparat penegak hukum, pemilik modal, struktur premanisme berkedok ormas, serta politisi yang menjadikan “kekuasaan” sebagai instrumen transaksi.

Kompleksitas modus, skala kerugian, serta penggunaan kekuatan koersif, baik fisik maupun digital yang menegaskan bahwa kita tengah berhadapan dengan organized crime yang telah melebur ke dalam sistem negara.

Laode Ida, dalam kritiknya yang tajam, menyebut Indonesia menunjukkan ciri-ciri negara mafia, dimana hukum tunduk pada politik, partai menjadi kendaraan transaksi, media dikendalikan pemilik modal dan pejabat, sementara ruang kritik publik direpresi melalui kriminalisasi.

Pernyataan ini bukan hiperbola. Berbagai indikator tata kelola mulai dari Global Integrity Index hingga Corruption Perceptions Index menunjukkan kemunduran signifikan. Demokrasi prosedural tetap berjalan, tetapi substansi demokrasi berupa transparansi, akuntabilitas, dan kontrol publik kian melemah.

Dalam kerangka filsafat politik, keadaan ini mirip apa yang diperingatkan Hannah Arendt sebagai “banalitas kekuasaan”, yaitu keburukan tidak lagi muncul dari tirani tunggal, melainkan dari birokrasi yang membiarkan dirinya dibajak oleh kepentingan-kepentingan partikular.

Sementara itu, Plato dalam The Republic mengingatkan bahwa negara akan runtuh ketika ia dikuasai oleh mereka yang lebih mencintai keuntungan pribadi ketimbang keadilan publik. Kita sedang melihat gejala itu, jelas, gamblang, dan berulang.

Jika pola ini tidak dihentikan, Indonesia berisiko meluncur ke titik yang oleh banyak ilmuwan disebut kleptokrasi, dimana negara yang dioperasikan untuk memperkaya segelintir elite.

Ketika hukum menjadi alat untuk menyandera lawan politik, ketika jabatan publik ditebus seperti transaksi bisnis, ketika sumber daya alam menjadi komoditas jaringan informal, maka negara tak ubahnya panggung predator yang memangsa warganya sendiri.

Dalam konteks ini, pendekatan kompromi politik terhadap berbagai persoalan hukum yang melibatkan elite, seperti langkah Presiden Prabowo yang memilih meredam tensi dengan Presiden Jokowi, justru menciptakan preseden berbahaya.

Kompromi politik mungkin meredakan permukaan, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah, yakni sistem yang telah disusupi, struktur yang telah keropos, dan jaringan mafia yang telah mengakar jauh lebih dalam dari yang terlihat.

Jika kompromi dijadikan norma, negara perlahan digiring menuju killing ground: ruang kosong pemerintahan di mana hukum berhenti bekerja, tetapi kekuasaan informal tumbuh tanpa kendali. Ini adalah wilayah paling berbahaya dalam sejarah politik mana pun, tempat di mana republik mulai runtuh bukan oleh musuh dari luar, melainkan oleh pembusukan dari dalam.

Delapan puluh tahun merdeka seharusnya cukup bagi kita untuk belajar bahwa negara hanya kokoh jika keberpihakan moralnya jelas, yaitu pada rakyat, bukan pada mafianya, pada keadilan, bukan pada transaksi kekuasaan.

Republik ini memang dibangun oleh para politisi, tetapi ia bertahan karena keberanian warganya untuk menjaga integritas negara dari tangan-tangan gelap.

Kini, pertanyaannya sederhana namun fundamental, apakah kita membiarkan negara jatuh di kaki mafia, atau kita memilih berdiri mempertahankannya? (*)

Penulis : Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen)

Artikel ini merupakan opini penulis, seluruh isi di luar tanggungjawab redaksi, sepenuhnya tanggungjawab penulis.

Tags: di Kaki MafiaIndonesia JatuhKesenjangan SosialMafia PolitikOligarkiPemerhati IntelijenSri Radjasa
Post Sebelumnya

Jampidsus Limpahkan Kasus Korupsi Petral ke KPK, Kejagung: Para Pihak Diproses Hukum

Post Selanjutnya

Sufmi Dasco Berpotensi Jadi Capres 2029, Pengamat: Posisi dan Manuver Politiknya Sangat Strategis

Yudi Permana

Yudi Permana

Berita Terkait

Suku Minangkabau Di Sumatera Barat (Ist)

Mengenal Minangkabau: Dua Kelarasan Adat, Demokrasi dan Hierarki yang Menyatu

oleh Iwan Purnama
25 Januari 2026
0

Sumatera Barat, Ekoin.co — Masyarakat Minangkabau dikenal luas sebagai salah satu peradaban adat paling matang di Nusantara. Namun, kematangan itu...

Wilmar Group membuka kembali pertanyaan lama yang belum juga terjawab di republik ini, sejauh mana negara benar-benar berdaulat ketika berhadapan dengan korporasi raksasa.

Wilmar Group dan Ujian Nyata Kedaulatan Hukum Indonesia, Masihkah Negara Kalah?

oleh Admin EKOIN.CO
21 Januari 2026
0

Wacana gugatan class action dan desakan agar pemerintah melakukan blacklisting terhadap Wilmar Group mencerminkan krisis kepercayaan terhadap mekanisme hukum formal.

Negara, melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN), seharusnya hadir sebagai penjaga keadilan agraria.

Mafia Tanah Menggurita: Saat Sertifikat BPN Berubah Jadi Instrumen Perampasan Hak Rakyat

oleh Admin EKOIN.CO
20 Januari 2026
0

Ketika negara gagal melindungi hak paling dasar warganya atas tanah, maka yang runtuh bukan hanya kepercayaan publik, melainkan juga fondasi...

Wilmar Disinyalir Lakukan Kejahatan Perampasan Lahan, Bukti Negara Abaikan Perlindungan Hak Rakyat

Wilmar Disinyalir Lakukan Kejahatan Perampasan Lahan, Bukti Negara Abaikan Perlindungan Hak Rakyat

oleh Noval Verdian
19 Januari 2026
0

Oleh : Sri Radjasa MBA Pemerhati Intelijen Jakarta, Ekoin.co - Kehadiran Satgas Penertiban Kawasan Hutan, dengan semboyan “Peduli hutan demi...

Post Selanjutnya
Sufmi Dasco Berpotensi Jadi Capres 2029, Pengamat: Posisi dan Manuver Politiknya Sangat Strategis

Sufmi Dasco Berpotensi Jadi Capres 2029, Pengamat: Posisi dan Manuver Politiknya Sangat Strategis

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

EKOIN.CO

EKOIN.CO - Media Ekonomi Nomor 1 di Indonesia

  • REDAKSI
  • IKLAN
  • MEDIA CYBER
  • PETA SITUS
  • KEBIJAKAN PRIVASI
  • PERSYARATAN LAYANAN
  • KODE ETIK JURNALISTIK

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • BERANDA
  • EKOBIS
    • EKONOMI
    • KEUANGAN
    • INDUSTRI
    • INFRASTRUKTUR
    • PERTANIAN
    • PROPERTI
    • UMKM
    • PROFIL
    • ENERGI
  • PERISTIWA
    • INTERNASIONAL
    • NASIONAL
    • MEGAPOLITAN
    • KRIMINAL
    • OPINI
    • SOSIAL
    • BREAKING NEWS
    • LINGKUNGAN
  • POLKUM
    • POLITIK
    • HUKUM
    • LIPUTAN KHUSUS
    • CEK FAKTA
    • BERITA FOTO
    • BERITA VIDEO
  • HIBURAN
    • KEGIATAN
    • DESTINASI
    • KESEHATAN
    • KULINER
    • OTOMOTIF
    • SELEBRITI
    • MUSIK
  • RAGAM
    • EBOOK
    • EDUKASI
    • HIKMAH
    • SENI & BUDAYA
    • TIPS
    • OLAHRAGA
    • TEKNOLOGI

© 2025 EKOIN.CO
Media Ekonomi No. 1 di Indonesia
Developed by logeeka.id.