Sukabumi, Ekoin.co – Klinik ‘Wong Cilik’ Waluya Sejati Abadi di Jalan Tipar Gede, Sukabuki resmi beroperasi melayani masyarakat kecil, Minggu (25/1).
Selama 15 tahun, Klinik Waluya Sejati Abadi milik Ribka Tjiptaning Proletariyati tak beroperasi. Tepat pada peringatan HUT PDI Perjuangan ke-53, klinik resmi dibuka kembali untuk melayani masyarakat kecil.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Kesehatan sekaligus inisiator klinik, dr. Ribka Tjiptaning Proletariyati, mengenang masa-masa sulit tersebut dengan emosional.
Ia menceritakan bagaimana dirinya sempat menangis di hadapan Megawati karena niat tulus melayani rakyat tanpa pungutan biaya justru dihambat oleh birokrasi.
“Saya menangis kepada Mbak Mega, saya bilang, ‘Mbak kok lucu ya, mau berbuat baik sama rakyat saja kok susah. Kan tidak diminta uang,” cerita Ribka.
Megawati, kata Ribka, menjawab sederhana.
“Neng, kamu lihat cucumu belajar berjalan. Pasti langkah pertama itu dia akan terjatuh dan terluka. Tapi kalau cucumu tidak ada keberanian melangkah pertama, tidak akan ada seribu langkah berikutnya. Karena langkah pertama itu menentukan arah dan tujuan,'” ujar dr. Ribka menirukan pesan Megawati.
Setelah melewati apa yang disebutnya sebagai “kesabaran revolusioner”, Ribka kini bisa tersenyum melihat klinik tersebut kembali melayani rakyat dengan biaya yang sangat terjangkau, hanya Rp25.000 untuk berobat jalan dan Rp50.000 untuk persalinan hingga pulang.
“Kalau dia tidak punya uang, yang bayar DPC PDI Perjuangan. Di sini semua dilayani dengan senyum tanpa diskriminasi,” tegasnya.
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dalam pidatonya menegaskan bahwa kehadiran klinik ini adalah bukti nyata dari tema HUT partai tahun ini, Satyam Eva Jayate atau Kebenaran Pasti Menang.
Hasto menekankan bahwa bagi partai berlambang banteng moncong putih, kemanusiaan selalu berada di atas kalkulasi politik elektoral.
“Gerak kemanusiaan itu muncul dari hati nurani yang paling bening. Ketika untuk gerak kemanusiaan saja ada yang menghambat, maka mereka tidak memahami makna hakiki dari kemanusiaan tersebut. Selama rakyat menderita, suara kemanusiaan kita berbicara jauh di atas kalkulasi hitung-hitungan urusan elektoral politik,” kata Hasto.
Ia juga menambahkan bahwa klinik ini harus menjadi tempat di mana rakyat merasa dimanusiakan.
“Hadirnya klinik ini akan menjadi bagian dari tangan kiri partai kita untuk bersikap progresif dalam menyelamatkan rakyat. Sedangkan tangan kanan kita adalah manajemen pelayanan dengan tulus tanpa diskriminasi. Di klinik ini, rakyat tidak ditanya berapa kekayaanmu, tetapi rakyat ditanya apa penyakitmu,” tambahnya.
Sementara itu, Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki memberikan komitmen besar dengan mengumumkan penghapusan seluruh retribusi kesehatan di Puskesmas dan Klinik per 1 Januari 2026.
“Wali kota yang sekarang berkomitmen untuk menyelesaikan hak-hak dasar masyarakat Kota Sukabumi, dan itu sejalan juga dengan PDI Perjuangan,” ujar Ayep Zaki.
Di sisi medis, operasional klinik ini dipercayakan kepada dr. Runtun yang menjabat sebagai direktur. (*)





