Ekoin.co – Di antara hiruk-pikuk persiapan fisik menyambut Ramadhan, ada satu bulan yang kerap berlalu dalam sunyi: Sya’ban. Ia hadir tanpa gegap gempita, namun justru menyimpan makna spiritual yang dalam. Bukan sekadar penghubung waktu antara Rajab dan Ramadhan, Sya’ban adalah ruang batin untuk berhenti sejenak, bercermin, dan membersihkan hati.
Pesan itulah yang mengemuka dalam khutbah Jumat yang disampaikan di sejumlah masjid. Dari mimbar yang sederhana, khatib mengingatkan jamaah bahwa perjalanan menuju Ramadhan sejatinya bukan soal menyiapkan tubuh, melainkan membenahi hati. Sebab, hati adalah pusat kendali seluruh amal manusia. Jika hati bersih, ibadah terasa ringan. Jika hati kotor, bahkan amal terbaik pun kehilangan makna.
Dalam khutbah tersebut, khatib mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa amalan yang paling banyak mengantarkan manusia ke surga bukanlah semata ibadah lahiriah, melainkan takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia. Pesan ini terasa relevan di tengah kehidupan modern yang sering menilai kesalehan dari tampilan luar, bukan kedalaman batin.
Sya’ban, menurut khatib, adalah bulan ketika catatan amal manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW mencontohkan untuk memperbanyak amal saleh di bulan ini. Namun lebih dari sekadar kuantitas ibadah, Sya’ban menjadi waktu terbaik untuk melakukan “bersih-bersih hati” sebelum memasuki Ramadhan yang suci.
Ada tiga penyakit batin yang disorot sebagai penghalang utama kejernihan jiwa. Pertama adalah iri dan dengki, perasaan tidak rela melihat orang lain memperoleh nikmat. Hasad, kata khatib, bukan hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga menghanguskan pahala kebaikan tanpa disadari. Di bulan Sya’ban, umat diajak menggantinya dengan rasa syukur dan keyakinan bahwa rezeki Allah dibagi dengan penuh keadilan.
Penyakit kedua adalah kesombongan dan rasa membanggakan diri. Merasa lebih baik, lebih benar, atau lebih suci dari orang lain sering kali hadir secara halus, bahkan dalam ibadah. Padahal, Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan angkuh. Kesombongan, sekecil apa pun, dapat menutup pintu hidayah.
Sementara itu, penyakit ketiga yang tak kalah berbahaya adalah dendam dan kebencian. Dendam menjadikan hati sempit dan doa tertahan. Karena itu, Sya’ban disebut sebagai waktu yang tepat untuk saling memaafkan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sifat pemaaf tidak akan mengurangi kehormatan seseorang, justru akan meninggikannya di sisi Allah SWT.
Khutbah tersebut menutup dengan ajakan menjadikan Sya’ban sebagai momentum “operasi batin”: mengeluarkan penyakit hati yang selama ini bersemayam, lalu menghiasinya dengan keikhlasan, kerendahan hati, dan kasih sayang. Sebab Ramadhan bukan hanya tentang lapar dan dahaga, tetapi tentang hati yang kembali jernih dan jiwa yang pulang kepada Allah.
Di tengah dunia yang kian riuh, Sya’ban mengajarkan satu hal penting: sebelum Ramadhan datang dengan segala kemuliaannya, ada pekerjaan sunyi yang harus dituntaskan—membersihkan hati.




