Rupiah Hancur Lebur Tembus Rp17.000, IHSG Berdarah-darah Terseret Perang Iran

Lonjakan harga minyak dunia juga menambah kekhawatiran pelaku pasar. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi domestik dan memperburuk tekanan terhadap ekonomi nasional.
Ilustrasi Nilai Tukar Rupiah (Ist)

Jakarta, Ekoin.co – Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan bergerak menuju level pelemahan baru di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Konflik yang meluas di kawasan tersebut mendorong investor global beralih ke aset aman (safe haven) dan meninggalkan aset di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Mengutip laporan Bloomberg, rupiah sempat melemah hingga 0,6 persen ke level Rp17.015 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (9/3).

Level ini melampaui rekor terendah sebelumnya yang tercatat pada Januari dan menjadi posisi terlemah yang terakhir kali terlihat sejak krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an.

Tekanan terhadap rupiah semakin meningkat seiring memanasnya konflik di Iran yang memicu ketidakpastian pasar global. Situasi tersebut membuat investor meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan emas.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia dilaporkan melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Namun sentimen global yang memburuk tetap memberikan tekanan terhadap mata uang di kawasan Asia.

Lonjakan harga minyak dunia juga menambah kekhawatiran pelaku pasar. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi domestik dan memperburuk tekanan terhadap ekonomi nasional.

Analis Strategi Valuta Asing Malayan Banking Bhd, Alan Lau, menilai memburuknya sentimen risiko global menjadi faktor utama yang menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.

Menurutnya, dalam jangka pendek pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi faktor eksternal, terutama jika harga minyak terus meningkat yang dapat membuat investor semakin berhati-hati terhadap aset di negara berkembang.

Sebelumnya, kepercayaan investor terhadap Indonesia juga sudah tertekan setelah sejumlah lembaga pemeringkat internasional menyampaikan peringatan. MSCI menyoroti potensi penurunan status pasar Indonesia akibat persoalan likuiditas dan rendahnya porsi saham beredar bebas (free float).

Sementara itu, Moody’s Ratings menurunkan outlook kredit Indonesia terkait kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal dan ekonomi. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Fitch Ratings yang juga memangkas prospek kredit Indonesia.

Sepanjang tahun berjalan, rupiah tercatat telah melemah sekitar 1,8 persen terhadap dolar AS, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.

Tekanan juga terlihat di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 3,49 persen pada sesi pertama perdagangan awal pekan ini setelah sempat anjlok hingga 5,66 persen di pembukaan.

Total nilai transaksi di seluruh pasar tercatat mencapai Rp13,94 triliun dengan volume perdagangan sekitar 31,15 miliar lembar saham.

Kepala Riset PT BCA Sekuritas, Christopher Andre Benas, mengatakan tekanan terhadap pasar saham berpotensi berlanjut selama ketegangan geopolitik global belum mereda.

Ia menilai investor dengan toleransi risiko rendah sebaiknya mengambil langkah lebih konservatif dengan mengurangi posisi berisiko dan menahan dana dalam bentuk kas hingga kondisi pasar kembali stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini