Selat Hormuz Lumpuh, Turki Tawarkan Pipa Darat 1,5 Juta Barel Per Hari Jadi Penyelamat Energi Eropa

Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki, Alparslan Bayraktar, menegaskan bahwa infrastruktur pipa minyak Irak–Turki (Kirkuk–Ceyhan) siap menjadi tulang punggung baru pengiriman energi global.
Infrastruktur pipa energi Turki menjadi alternatif strategis di tengah penutupan Selat Hormuz dan lonjakan harga minyak dunia.

Istanbul, Ekoin.co – Penutupan Selat Hormuz oleh otoritas Iran memicu guncangan besar di pasar energi global. Di tengah krisis tersebut, Turki langsung mengambil langkah strategis dengan menawarkan jalur pipa darat sebagai alternatif distribusi minyak dan gas menuju Eropa.

Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki, Alparslan Bayraktar, menegaskan bahwa infrastruktur pipa minyak Irak–Turki (Kirkuk–Ceyhan) siap menjadi tulang punggung baru pengiriman energi global.

Jalur pipa Kirkuk–Ceyhan sendiri memiliki kapasitas desain hingga 1,5 juta barel per hari. Saat ini, aliran minyak melalui jalur tersebut telah kembali beroperasi sejak 17 Maret 2026, dengan target peningkatan kapasitas mencapai 250.000 barel per hari dalam waktu dekat.

“Kami dapat mengangkut hingga 1,5 juta barel per hari melalui rute ini. Ini solusi nyata ketika ekspor LNG dan minyak mentah terganggu akibat konflik atau penutupan Hormuz,” ujar Bayraktar, Sabtu (4/4/2026).

Lonjakan harga energi pun tak terhindarkan. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak hampir 70 persen, dari sekitar US$70 menjadi US$120 per barel. Sementara itu, harga gas alam Eropa (TTF) juga meningkat tajam dari 30 euro menjadi kisaran 60–70 euro.

Tak hanya minyak, Turki juga membuka peluang proyek pipa gas dari Qatar menuju Eropa. Langkah ini diproyeksikan sebagai solusi alternatif jika jalur LNG terganggu akibat konflik di kawasan Teluk.

Di saat yang sama, Turki terus memperkuat posisinya sebagai hub energi dengan meningkatkan distribusi gas dari Rusia melalui pipa TurkStream. Pengiriman gas lewat jalur bawah laut Laut Hitam tersebut tercatat meningkat 22 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai 55 juta meter kubik per hari.

Pengamat energi dari Jerman, Claudia Kemfert, menilai langkah Turki ini akan memainkan peran penting dalam jangka menengah.

“Meski kapasitas saat ini mungkin belum sepenuhnya menggantikan jalur laut, posisi Turki sebagai koridor energi alternatif tetap krusial bagi stabilitas pasokan Eropa,” ujarnya.

Sebagai salah satu jalur paling vital di dunia, Selat Hormuz selama ini menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak global atau setara 15 juta barel per hari. Penutupan jalur tersebut memaksa negara-negara dunia mencari rute baru yang lebih aman dan stabil.

Dalam situasi ini, Turki kini muncul sebagai pemain kunci dalam peta keamanan energi global, dengan ambisi menjadi jembatan utama antara Timur Tengah dan Eropa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights