Rupiah Jebol Rp17.000 Per Dolar AS: Fundamental Ekonomi RI Disebut Rapuh dan Terjebak ‘Ilusi’ Utang
Jakarta, Ekoin.co – Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kerap mengklaim fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat. Namun klaim mulai diragukan. Benarkah fundamental ekonomi kuat di tengan tekanan krisis energi dunia?
“Mereka mengatakan bahwa nilai tukar atau kurs rupiah seharusnya menguat karena saat ini nilainya terlalu murah atau undervalued. Nyatanya, kurs rupiah ambruk hingga di atas Rp17.000 per dolar AS. Pertanda ada masalah di fundamental ekonomi kita,” ungkap Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan di Jakarta, dikutip Minggu (5/4).
Anthony menilai, klaim BI maupun Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, rupiah masih bisa tembus di bawah Rp15.000 per dolar AS seperti ilusi. Bahkan sempat pula berkembang narasi kurs rupiah akan bertengger di level Rp12.000 per dolar AS.
“Dulu Jokowi pernah berilusi bahwa rupiah akan ke bawah Rp10.000 per dolar AS. Nyatanya, sepuluh tahun berkuasa malah babak belur,” kata.
Anthony mengatakan, merujuk pada nilai cadangan devisa (cadev) Indonesia yang relatif besar sebagai penopang, mata uang Garuda seharusnya menguat.
Namun fakta berbeda terjadi di pasat. Rupiah terus tergelincir dan kini hampir tembus Rp17.000 per dolar AS. Mengapa?
“Ternyata, cadangan devisa kita terus menggelembung akibat utang luar negeri,” imbuhnya.
Selama 2014–2025, cadangan devisa naik US$44,6 miliar, dari US$111,9 miliar menjadi US$156,5 miliar.
Di sisi lain, utang luar negeri melonjak drastis, dari US$292 miliar pada 2014 menjadi US$431,7 miliar, atau bertambah US$139,7 miliar.
Utang luar negeri seharusnya memperkuat cadangan devisa. Namun, hanya sekitar 32 persen yang masuk ke cadangan, yakni US$44,6 miliar dibandingkan total kenaikan utang sebesar US$139,7 miliar.
Lalu, ke mana sisanya? Kemungkinan digunakan untuk menambal berbagai defisit neraca, terutama defisit neraca pembayaran primer yang terakumulasi hingga US$397,9 miliar.
“Kondisi ini menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup rapuh. Cadangan devisa berasal dari utang luar negeri,” ungkapnya.
Aliran investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) sebesar US$241,9 miliar memang terlihat besar. Namun, menurutnya, hal itu tidak banyak membantu memperkuat fundamental ekonomi.
Dalam jangka menengah hingga panjang, FDI justru berpotensi menjadi bumerang karena dapat memicu pembengkakan defisit neraca pembayaran primer.
“Tanpa reformasi struktural, gelembung utang luar negeri ini akan pecah. Rupiah bisa anjlok tajam dan memicu krisis nilai tukar. Konflik Iran yang berkepanjangan berpotensi menjadi pemicu capital outflow. Investor asing lari ke safe haven, rupiah tergelincir lebih dalam,” pungkasnya.
Diketahui perdagangan Jumat (3/4), kurs rupiah ditutup melemah di level Rp17.000/US$. Pelemahan ini terjadi saat mayoritas mata uang Asia justru menguat sepanjang pekan. (*)






















Tinggalkan Balasan