Bangkok EKOIN.CO – Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ancaman yang dihadapi industri otomotif nasional akibat perjanjian perdagangan bebas yang telah ditandatangani sekitar dua dekade lalu. Perjanjian tersebut membuat kendaraan listrik impor dari negara mitra terkena tarif 0 persen, sehingga industri otomotif dalam negeri mengalami tekanan besar.
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v
Thaksin menyatakan bahwa Thailand harus segera menetapkan tarif cukai tinggi terhadap kendaraan listrik impor yang memiliki kandungan lokal rendah. Ia menegaskan bahwa langkah tersebut penting guna melindungi manufaktur otomotif domestik yang kini terancam oleh arus bebas kendaraan listrik dari luar negeri.
Dalam laporan Bangkok Post, Thaksin menyebut bahwa “Kendaraan listrik impor harus diwajibkan mengandung tingkat minimum kandungan lokal Thailand untuk melindungi industri dalam negerinya.” Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran atas dampak jangka panjang dari kebijakan perdagangan bebas yang sudah berlangsung selama dua puluh tahun.
Efek Perjanjian Bebas ASEAN-Tiongkok Terhadap Industri Thailand
Thailand diketahui memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara, termasuk Tiongkok. Perjanjian ini telah menetapkan tarif impor nol persen untuk kendaraan, termasuk kendaraan listrik. Dampak dari perjanjian tersebut terasa signifikan saat kendaraan listrik asing membanjiri pasar domestik tanpa hambatan bea masuk.
Menurut sumber dari Kementerian Keuangan Thailand, pemerintah akan mulai memberlakukan pajak cukai berbasis kandungan lokal pada kendaraan, dimulai dari kategori truk pikap. Langkah ini diambil guna memacu produksi kendaraan dengan kandungan komponen dalam negeri, sekaligus mendorong produsen asing untuk berinvestasi dalam fasilitas manufaktur lokal.
Thailand kini berupaya untuk menyesuaikan kembali struktur perpajakan kendaraan, agar mampu bersaing secara adil. Dalam kebijakan terbarunya, pada bulan Mei lalu, pemerintah dilaporkan akan merevisi struktur pajak untuk kendaraan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), yang akan mulai berlaku pada 2026.
Rencana Pajak Baru Demi Industri Otomotif Nasional
Revisi pajak untuk PHEV tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah Thailand dalam mengembangkan industri otomotif nasional. Kebijakan ini bertujuan mendorong adopsi teknologi ramah lingkungan yang diproduksi di dalam negeri, bukan dari impor.
Selain itu, kebijakan fiskal baru ini diharapkan mampu menarik investor asing untuk membangun pabrik dan rantai pasokan di Thailand. Pemerintah ingin memastikan bahwa Thailand tetap menjadi pusat produksi kendaraan di kawasan Asia Tenggara.
Thailand selama ini dikenal sebagai “Detroit-nya Asia” karena menjadi basis produksi berbagai merek kendaraan global. Namun, dengan arus bebas kendaraan listrik impor akibat perjanjian dagang lama, posisi ini kini terancam.
Thaksin menilai, jika tidak segera diambil langkah tegas, industri otomotif Thailand bisa tergerus. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah agar tidak hanya memberlakukan tarif, tetapi juga memberi insentif kepada produsen lokal.
Langkah pengenaan cukai berdasarkan kandungan lokal ini dipandang penting untuk menjaga keseimbangan antara perdagangan bebas dan perlindungan industri dalam negeri. Pemerintah diharapkan tidak hanya fokus pada penyesuaian tarif, tetapi juga memperkuat kebijakan industrialisasi berkelanjutan.
Sementara itu, berbagai pihak menilai bahwa perjanjian bebas dengan Tiongkok yang ditandatangani 20 tahun lalu kini perlu dievaluasi. Perubahan lanskap ekonomi global dan teknologi otomotif menuntut penyesuaian regulasi yang berpihak pada pembangunan jangka panjang.
Pemerintah Thailand kini sedang mengkaji berbagai opsi untuk memperbaiki struktur tarif impor, agar kendaraan yang masuk ke negara itu benar-benar membawa manfaat bagi ekonomi domestik, termasuk transfer teknologi dan lapangan kerja.
Dalam waktu dekat, Kementerian Keuangan diperkirakan akan mengeluarkan aturan resmi mengenai tarif cukai baru. Prioritas utama adalah memastikan bahwa kendaraan listrik yang dijual di Thailand memiliki komponen lokal dalam jumlah tertentu.
Sejumlah pengamat menilai, penerapan tarif cukai berbasis kandungan lokal akan memacu industri suku cadang dalam negeri. Ini juga memberi peluang bagi UMKM untuk masuk ke dalam rantai pasok otomotif global.
Kesimpulan dari kebijakan ini adalah untuk menjadikan Thailand tidak hanya sebagai pasar kendaraan listrik, tetapi juga sebagai produsen dan eksportir utama kendaraan listrik dengan nilai tambah tinggi.
Langkah ini juga sejalan dengan ambisi pemerintah untuk menjadikan Thailand sebagai hub produksi kendaraan listrik di kawasan ASEAN, sekaligus mengurangi ketergantungan pada produk impor.
Sebagai bagian dari kebijakan reformasi industri, Thailand diharapkan dapat menyeimbangkan antara keterbukaan perdagangan dan perlindungan sektor strategis. Hal ini penting guna menjaga kemandirian ekonomi dan daya saing industri nasional.
Industri otomotif memiliki peran vital dalam perekonomian Thailand, dengan kontribusi signifikan terhadap ekspor dan lapangan kerja. Oleh karena itu, segala kebijakan terkait sektor ini menjadi perhatian nasional.
Keseimbangan antara perdagangan bebas dan perlindungan industri lokal menjadi tantangan utama bagi pemerintah Thailand saat ini. Langkah-langkah strategis yang diambil ke depan akan menentukan arah masa depan sektor otomotif nasional.
Thailand kini berada di persimpangan penting dalam menentukan masa depan industrinya. Kebijakan perpajakan dan tarif cukai akan menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah menavigasi perubahan ekonomi global.
Pemerintah Thailand harus mempercepat proses reformasi regulasi untuk memberikan kepastian bagi investor dan pelaku industri. Tanpa langkah cepat, risiko kehilangan daya saing akan semakin besar.
Konsumen di Thailand juga diharapkan akan menerima manfaat dari perubahan ini, baik dalam bentuk harga yang kompetitif maupun pilihan produk lokal yang berkualitas.
Kebijakan tarif berdasarkan kandungan lokal juga sejalan dengan tren global menuju ekonomi hijau dan produksi berkelanjutan. Ini membuka peluang bagi inovasi dalam industri otomotif nasional.
Secara keseluruhan, tantangan dan peluang ini harus dikelola dengan kebijakan yang tepat, agar Thailand tetap menjadi pemain kunci di industri otomotif global.
(*)





