Jakarta, EKOIN.CO – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan rencana evaluasi dan implementasi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dengan campuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% atau B50. Program ini ditargetkan untuk mulai diterapkan pada tahun depan, menyusul keberhasilan implementasi B40 yang telah berjalan pada tahun ini.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menjelaskan bahwa pemerintah sedang melakukan persiapan untuk penerapan B50. “Untuk B50 kita evaluasi, untuk implementasi B40 tahun ini, dan juga kita harapkan untuk implementasi tahun depan B50 segera bisa dilaksanakan,” ujar Yuliot saat ditemui di Kementerian ESDM, seperti dikutip pada Rabu (13/8/2025).
Selain program B50, pemerintah juga sedang menggarap proyek pembangunan pabrik biodiesel di Merauke, Papua Selatan. Pembangunan pabrik ini diharapkan selesai dan mulai beroperasi pada tahun 2027. Yuliot menyampaikan, “Jadi, untuk biodiesel, akhirnya kita akan ada percepatan pembangunan, itu khususnya di Merauke, Papua Selatan. Jadi, kita harapkan tahun 2027 sudah akan berproduksi biodiesel yang ada di Merauke, Papua Selatan.” Meskipun tidak merinci besaran investasinya, Yuliot menyebut bahwa pemerintah tengah melakukan konsolidasi untuk mempercepat proyek ini.
Sebagai informasi, implementasi program mandatori B40 yang berjalan pada tahun 2025 diatur dalam Keputusan Menteri ESDM No. 341.K/EK.01/MEM.E/2024. Regulasi tersebut menetapkan alokasi B40 sebesar 15,6 juta kiloliter (kl) biodiesel. Sejumlah 7,55 juta kl dialokasikan untuk Public Service Obligation (PSO), sementara 8,07 juta kl diperuntukkan bagi non-PSO. Penyaluran biodiesel ini melibatkan 24 Badan Usaha (BU) Bahan Bakar Nabati (BBN) serta 28 BU BBM yang bertugas mendistribusikan B40.





