JAKARTA, EKOIN.CO – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyampaikan dukungannya terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum PBB, New York, Senin (22/9/2025). Menbud menilai pidato tersebut menjadi momentum bersejarah yang menegaskan konsistensi Indonesia berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan keberlanjutan peradaban.
“Presiden Prabowo menyampaikan dengan sangat jelas bahwa pengakuan terhadap Palestina adalah langkah di sisi sejarah yang benar. Beliau mengingatkan dunia bahwa sejarah tidak pernah berhenti, dan setiap bangsa akan diingat oleh sikap yang mereka ambil pada saat genting ini,” ujar Fadli.
Fadli menekankan, pidato Presiden bukan hanya bernuansa politik dan hubungan internasional, tetapi juga menyinggung dimensi sejarah dan budaya. Menurutnya, membela Palestina berarti menjaga kehormatan sejarah sekaligus memastikan nilai-nilai peradaban, keadilan, martabat, dan solidaritas tidak hilang dari catatan umat manusia.
Ia menambahkan, tragedi yang menimpa Palestina juga merupakan krisis budaya. “Terjadi penghapusan kebudayaan dan identitas bangsa Palestina secara sistematis. Mereka menyerang akar peradaban melalui penghancuran situs budaya, pelarangan ekspresi, hingga terputusnya transmisi sejarah. Ini adalah bentuk genosida budaya,” jelasnya.
Menbud menegaskan, serangan terhadap situs bersejarah, ruang seni, hingga pembungkaman seniman Palestina merupakan serangan langsung terhadap identitas kolektif bangsa. “Setiap cagar budaya yang hancur, setiap manuskrip yang musnah, setiap seniman yang gugur adalah kehilangan bagi dunia. Karena itu, solidaritas bagi Palestina adalah solidaritas bagi peradaban,” imbuhnya.
Lebih jauh, Kementerian Kebudayaan disebut akan terus mengawal isu Palestina lewat diplomasi budaya, bekerja sama dengan komunitas internasional, UNESCO, dan mitra global lainnya. Program tersebut mencakup digitalisasi warisan budaya Palestina, promosi karya seni dan sastra Palestina, hingga program residensi bagi seniman Palestina di luar negeri, termasuk Indonesia.
“Diplomasi budaya adalah jembatan yang menjaga agar identitas Palestina tetap hidup. Indonesia siap mendukung agar suara budaya, karya seni, dan memori kolektif Palestina terus bergema meskipun tengah menghadapi penghancuran fisik dan kemanusiaan,” tegas Fadli.
Ia juga menilai bahwa pidato Presiden Prabowo menegaskan konsistensi politik luar negeri Indonesia sejak awal kemerdekaan, yakni menempatkan dukungan terhadap Palestina sebagai amanat konstitusional dan moral.
“Presiden Prabowo menutup pidatonya dengan seruan ‘Peace, peace now. Peace immediately.’ Ini adalah gema sejarah yang akan diingat sebagai suara Indonesia untuk kemanusiaan. Dari podium PBB, Indonesia mengingatkan dunia bahwa perdamaian adalah jalan satu-satunya untuk menjaga masa depan umat manusia,” pungkasnya.





