Jakarta, Ekoin.co – Melemahnya nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (20/1) jadi warning buat pemerintah melihat kondisi perekonomian Indonesia.
Merespons kondisi tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bersama Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menggelar pertemuan di Wisma Negara, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Mereka membahas sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas perekonomian nasional, termasuk nilai tukar rupiah.
Menkeu Purbaya mengatakan, dirinya bersama Gubernur BI dan Mensesneg berdiskusi membenahi fiskal dan perekonomian.
“Kita lakukan sinkronisasi kebijakan, saya akan membenahi fiskal dan perekonomian pak Gubernur BI akan memastikan mengambil langkah yang perlu untuk menjaga nilai tukar,” ujarnya kepada wartawan.
Lebih jauh, pembicaraan dalam pertemuan tersebut kontruktif dan bersifat koordinatif. Karena itu, Purbaya memastikan kondisi ekonomi baik-baik saja.
“Enggak ada masalah lagi. Kami fokus di pekerjaan kami, dan saya kira pak Gubernur sudah melakukan langkah yang tepat untuk melakukan apa yang perlu untuk dilakukan untuk menjaga stabilitas,” kata Purbaya.
Soal kemungkinan ada kebijakan khusus dari Kementerian Keuangan untuk menjaga nilai tukar rupiah, Purbaya menegaskan tidak ada kebijakan khusus dari sisi fiskal.
“Enggak. rupiah adalah tugas dari bank sentral, dan saya percaya bank indonesia akan mengambil langkah tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” katanya.
Diketahui, nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini kembali mengalami pelemahan. Mata uang Garuda tak berdaya meski dolar AS juga mengalami tekanan akibat situasi global.
Sementara mengutip data Bloomberg, Selasa, 20 Januari 2026, rupiah berada di level Rp16.985 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 30 poin atau setara 0,18 persen dari Rp16.887 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya. (*)





