Jakarta, Ekoin.co — Di ruang sidang yang tegang, tempat angka-angka kerugian negara dibacakan dan konstruksi hukum diperdebatkan, berdiri seorang jaksa dengan ekspresi nyaris tak berubah.
Roy Riady, SH, MH, bukan sekadar nama dalam daftar Jaksa Penuntut Umum. Ia adalah figur yang kini ikut berada di pusat sorotan, seiring bergulirnya sidang dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menyeret mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Bagi publik, perkara ini adalah drama hukum besar di sektor pendidikan. Namun di balik meja penuntutan, ada kerja sunyi yang menuntut presisi.
Di sanalah Roy memainkan perannya menyusun berkas, menautkan bukti, dan merangkai logika hukum yang harus berdiri kokoh di hadapan majelis hakim.
Penunjukan Roy ke dalam tim penuntut bukan keputusan yang lahir tiba-tiba.
Di lingkungan internal Kejaksaan Agung, ia dikenal sebagai jaksa yang bekerja dengan ritme disiplin dan pendekatan berbasis detail.
Rekan-rekannya menggambarkan Roy sebagai tipe penuntut yang lebih percaya pada kekuatan data daripada retorika. Baginya, perkara besar hanya bisa ditaklukkan lewat ketelitian.
Saat ini Roy menjabat Kepala Subdirektorat Tindak Pidana Perpajakan dan TPPU pada Direktorat Penuntutan Jampidsus posisi strategis yang menempatkannya di jantung penanganan kejahatan finansial.
Setiap perkara yang masuk bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi rangkaian perhitungan rumit: aliran dana, dokumen, hingga motif yang tersembunyi di balik transaksi.
Namanya mulai diperbincangkan luas ketika terlibat dalam penanganan sejumlah perkara besar.
Dari dugaan manipulasi dokumen proyek Jalan Tol Betung–Tempino, pengungkapan kasus aset tanah di Manggarai Barat, hingga perkara korupsi pembangunan Masjid Sriwijaya setiap kasus menjadi batu ujian yang memperkaya insting hukumnya.
Di titik-titik itulah reputasinya terbentuk: jaksa yang membangun perkara dari fondasi bukti.
Namun perjalanan Roy menuju posisi ini bukan lintasan lurus tanpa rintangan. Ia ditempa di daerah, memimpin kejaksaan negeri di Prabumulih dan Musi Banyuasin, wilayah dengan dinamika perkara yang menuntut ketegasan sekaligus kepekaan sosial.
Pengalaman lapangan itu membentuk cara pandangnya: hukum tidak berdiri di ruang hampa, melainkan beririsan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Menariknya, di luar atmosfer sidang yang penuh tekanan, Roy dikenal sebagai pribadi yang jauh dari kesan glamor.
Rekan kerja menyebut ia tetap menikmati rutinitas sederhana — sarapan murah, obrolan ringan, dan interaksi yang egaliter.
Kontras ini menciptakan citra unik jaksa yang tegas di ruang sidang, namun tetap membumi dalam keseharian.
Kini, ketika perkara Chromebook memasuki fase pembuktian, Roy kembali berada di garis depan.
Baginya, persidangan bukan panggung sensasi, melainkan ruang untuk menguji konsistensi hukum. Setiap argumentasi harus berdiri di atas bukti, setiap dakwaan harus mampu dipertanggungjawabkan.
Di tengah sorotan publik yang tajam, peran Roy Riady menjadi bagian dari cerita yang lebih besar, bagaimana sistem hukum bekerja menghadapi perkara strategis nasional.
Sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta bukan sekadar menentukan nasib para pihak, tetapi juga menjadi cermin integritas proses penegakan hukum.
Dan di antara hiruk-pikuk itu, Roy tetap menjalankan perannya seperti biasa tenang, sistematis, dan berpegang pada satu prinsip sederhana, perkara boleh besar, tekanan boleh datang dari segala arah, tetapi hukum harus tetap berjalan di jalurnya.





