Wall Street Ditutup Bervariasi, Saham Teknologi Bangkit Usai Aksi Jual Berat
NEW YORK — Bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (6/11/2026) waktu setempat, dengan saham-saham teknologi berhasil bangkit setelah mengalami koreksi tajam pada sesi sebelumnya. Indeks Nasdaq Composite melonjak 264,42 poin atau 1,09 persen ke level 24.579,42, sementara S&P 500 naik 23,13 poin atau 0,31 persen ke 7.376,86. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru melemah 237,33 poin atau 0,46 persen ke posisi 51.285,73.
Chip Teknologi Jadi Penopang Pemulihan
Kebangkitan pasar ditopang oleh rebound signifikan pada sektor semikonduktor. Indeks Semikonduktor Philadelphia melesat 4,2 persen setelah sebelumnya mencatatkan penurunan harian terbesar sejak April 2025. Saham Nvidia naik hampir 3 persen, sementara raksasa chip lain seperti AMD, Intel, dan Micron Technology ditutup menguat antara 5 hingga 11 persen.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) bahkan melesat 11,48 persen ke level US$450,82, menjadikannya salah satu penggerak utama indeks Nasdaq. Tesla dan SpaceX turut mencatatkan kenaikan setelah sempat tertekan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Data Tenaga Kerja AS Perkuat Spekulasi Kenaikan Suku Bunga
Di tengah pemulihan pasar, data nonfarm payrolls AS untuk Oktober 2026 tercatat meningkat lebih tinggi dari perkiraan, sementara tingkat pengangguran turun ke 4,1 persen. Data tersebut memperkuat spekulasi pelaku pasar bahwa Federal Reserve dapat kembali menaikkan suku bunga pada Desember 2026, dengan probabilitas naik menjadi 78 persen dari sebelumnya 70 persen.
"Itu adalah angka yang kuat," ujar Joe Saluzzi, co-head of equity trading di Themis Trading. Namun ia mempertanyakan apakah The Fed akan tetap menaikkan suku bunga di tengah pasar yang masih rentan bergoyang.
Dampak ke Pasar Indonesia
Pergerakan Wall Street biasanya menjadi salah satu acuan sentimen bagi investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal pekan perdagangan. Penguatan di sektor teknologi AS berpotensi memberi sentimen positif terbatas bagi saham-saham teknologi di dalam negeri, meski faktor domestik seperti pergerakan rupiah dan kebijakan Bank Indonesia tetap menjadi penentu utama arah IHSG pekan depan.
Analis menilai, volatilitas yang masih tinggi di bursa AS mengindikasikan pasar global belum sepenuhnya stabil, sehingga investor domestik disarankan tetap mencermati perkembangan kebijakan suku bunga The Fed serta data ekonomi AS lainnya sebelum mengambil keputusan investasi jangka pendek.





















Tinggalkan Balasan