Rupiah Diproyeksi Bergerak hingga Rp18.350, Mata Uang Asia Masih Volatil

Rupiah diproyeksi bergerak hingga Rp18.350 per dolar AS pekan depan di tengah volatilitas mata uang Asia, meski BI terus melakukan stabilisasi lewat intervensi pasar valas dan SBN.
Bunga Deposito BRI BNI Mandiri pada November 2026 relatif stabil. Simak perbandingan suku bunga deposito dan faktor yang memengaruhi imbal hasil.(foto:istimewa)

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada pekan depan, dengan potensi pelemahan hingga menyentuh level Rp18.350 per dolar AS. Proyeksi ini muncul di tengah volatilitas tinggi yang melanda hampir seluruh mata uang Asia dalam beberapa hari terakhir.

Tekanan dari Sentimen Global

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/11/2026), rupiah spot ditutup melemah tipis 0,04 persen ke level Rp18.089 per dolar AS, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp18.082. Sepanjang pekan, rupiah bergerak di kisaran Rp18.075 hingga Rp18.156 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang konsisten sejak awal November.

Bank Indonesia mencatat kurs referensi JISDOR berada di level Rp18.094 per dolar AS pada 5 November 2026, sementara kurs transaksi BI menunjukkan kurs jual Rp18.184,47 dan kurs beli Rp18.003,53. Pelemahan rupiah ini turut diikuti oleh mata uang Asia lainnya seperti baht Thailand yang anjlok 0,4 persen dan ringgit Malaysia yang melemah 0,27 persen.

Yuan dan Ringgit Dinilai Lebih Prospektif

Sejumlah analis pasar menilai yuan China dan ringgit Malaysia memiliki prospek penguatan yang lebih baik dibandingkan rupiah dalam jangka pendek, mengingat fundamental ekonomi domestik kedua negara tersebut dinilai relatif lebih stabil. Rupiah dinilai masih rentan tertekan oleh sejumlah faktor, termasuk ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan derasnya aliran keluar investor asing dari pasar saham domestik.

Bank Indonesia menegaskan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 2026 tercatat masih kuat, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.

Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan biaya impor, khususnya bagi industri yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Sejumlah emiten konstruksi dan manufaktur telah menyiapkan strategi mitigasi risiko kurs untuk mengantisipasi dampak terhadap biaya proyek dan tender pada 2027. Masyarakat diimbau mencermati pergerakan kurs sebelum melakukan transaksi besar dalam valuta asing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Verified by MonsterInsights